Sementara DC Films masih bingung mencari formula yang pas untuk DC Extended Universe (DCEU), divisi animasi home video mereka sudah melangkah sangat jauh di depan. DC Animated Original Movies telah memproduksi banyak film animasi masterpiece di bawah naungan mereka. Kalian bisa baca artikel ini: Superioritas Superhero DC Animasi untuk info lengkapnya. Kali ini, mereka kembali dengan Superman: Red Son yang bermain-main dengan alternate universe mirip konsep Batman: Gotham by Gasligth (2018).

Dalam Red Son, dikisahkan Superman dibesarkan di tanah Rusia dan menjadi pahlawan besar rakyat Soviet dan bukan di AS. Simbol palu dan arit tergambar di dadanya, alih-alih huruf “S”. Sosok superhero lainnya, seperti Batman dan Green Lantern juga berbeda konsep dengan aslinya. Bahkan Lex Luthor digambarkan bukan sebagai sosok antagonis. Film ini berlatar cerita era perang dingin antara AS – Soviet (1960-an). Red Son tentu memiliki motif tersembunyi yang tak jauh dari ideologi politik Soviet, sosialisme sebagai metafora.

Film ini dibuka dengan sekuen pembuka yang mengesankan dan tentu canggung bagi kita, melihat sosok Clark Kent dan Lana cilik, kini beralih nama menjadi Somishka dan Svetlana. Logatnya pun menggunakan aksen Rusia, sekalipun dialognya dalam bahasa Inggris. Memang agak geli mendengarnya di awal film. Saya sungguh tak bisa membayangkan jika adegan pembuka ini plus title sequence-nya diproduksi live action. Rasanya bisa menjadi pembuka film terbaik untuk genrenya.

Superman yang punya hati mulia berbakti kepada negaranya dan setia pada sang pemimpin, Joseph Stalin. Negara rival Soviet, AS ketar-ketir dengan keberadaan sosok Superman karena kapan saja, ia mampu melumat negara ini. Dengan berbekal informasi dari Lois Lane (pacar Lex Luthor), Superman akhirnya mengetahui sisi gelap Stalin yang ternyata memanfaatkan kaum jelata sebagai budak untuk menggapai mimpinya. Dalam sekejap mata, situasi berubah, Superman pun menjadi pemimpin Soviet, namun dalam perkembangan ia perlahan berubah menjadi sosok seperti sang pemimpin terdahulu.

Baca Juga  Rising Wolf

Film ini memang kental nuansa politik dan terlalu kompleks bagi penonton anak-anak. Red Son memang bukan untuk mereka, sekalipun kisahnya diselingi banyak adegan aksi. Superman adalah sosok ideal yang menggambarkan bagaimana sosok berbudi berubah menjadi seorang diktator. “Nyawa segelintir orang bisa dikorbankan untuk kebaikan jutaan orang lainnya”. Ini poin filmnya. Musuh besar Superman, Brainiac digunakan secara cerdas dalam plotnya untuk mem-“brainwash” sehingga semua orang patuh dengan kemauannya. Sosok Wonder Woman digambarkan secara brilian pula sebagai sosok perempuan super dengan ideologi feminismenya yang membenci kaum “laki-laki”. Namun, penokohan terbaik adalah Batman, seperti sosok asli yang kita tahu, Batman digambarkan sebagai “pemberontak” yang membela kaum buruh di Soviet dan merupakan musuh besar Superman. Ah, sungguh tak bisa lebih cerdas dari ini.

Superman: Red Son, lagi-lagi adalah keberhasilan divisi animasi DC Home Video yang berani bermain-main dengan alternate universe dengan naskah “perang dingin” yang brilian. Film ini memang bukan film animasi yang mudah dicerna, namun kapan lagi kita bisa melihat sosok Superman dan Batman dengan logat Rusia? Selamat menonton!

Stay Healthy and safe!

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaVivarium
Artikel BerikutnyaHari Film Nasional: Sebuah Refleksi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.