MD Pictures rupanya memang tak ingin melepaskan penonton Surga yang Tak Dirindukan dan Surga yang Tak Dirindukan 2, dengan memproduksi film lanjutannya melalui Surga yang Tak Dirindukan 3. Diarahkan oleh sutradara yang “lagi-lagi” berbeda yakni Pritagita Arianegara, film ini juga mengadaptasi karya Asma Nadia berjudul sama. Manoj Punjabi pun tampak tak ingin memercayakan sepenuhnya penulisan skenario film ini, kepada Alim Sudio dan Asma Nadia selaku pemilik sumber cerita, seperti yang dilakukannya terhadap Surga yang Tak Dirindukan 2 dengan ikut terlibat dalam proses penggarapannya. Film drama roman religi yang kini lebih pantas disebut drama keluarga ini diperankan oleh Marsha Timothy, Fedi Nuril, Zara Leola, Ali Fikry, Reza Rahadian, serta Lydia Kandou.

Usai melewati tahun demi tahun masa tenang, setelah rujuknya kembali Prasetya (Fedi Nuril) dan Meirose (Marsha Timothy), kini kedua anak mereka Nadia (Zara Leola) dan Akbar (Ali Fikry), telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja dan seorang anak sekolahan yang berprestasi. Sang gadis remaja yang baru mengenal rasa suka terhadap lawan jenis dan memiliki pilihan hobi sendiri, menimbulkan kekhawatiran Pras dan Mei. Sedangkan adiknya, tanpa disangka, ternyata menjadi jembatan pertemuan kembali Mei dengan sosok dari masa lalunya, Ray (Reza Rahadian). Konflik yang tadinya sebatas drama keluarga kemudian berkembang dan meluas jadi persoalan dengan masa lalu, terutama Mei yang menyembunyikan fakta tentang siapakah Ray itu sebenarnya. Keluarga bahagia ini lalu harus benar-benar menyelesaikan masalah mereka, sebelum surga yang telah mereka bangun bersama, tak lagi dirindukan.

Surga yang Tak Dirindukan 3 lantas mempersoalkan tentang masing-masing tokoh yang ternyata masih belum berdamai dengan masa lalu mereka. Ketika masa lalu itu diangkat ke permukaan, seketika mereka terjebak dalam kecanggungan. Di luar ini, Surga yang Tak Dirindukan 3 sama saja dengan kebanyakan film bertema drama keluarga lainnya, dengan kunci penyelesaian masalah utama berupa kejujuran dalam berkomunikasi antar-anggota keluarga.

Film ini hanya menunjukkan pengembangan-pengembangan yang biasa diberikan untuk sebuah drama keluarga. Emosi dramatis dari masing-masing tokoh serta hubungan erat mereka satu sama lain dalam sebuah keluarga pun tidak terasa. Surga yang Tak Dirindukan dan Surga yang Tak Dirindukan 2 masih lebih baik ketimbang film ini. Dan seperti yang diharapkan dari seorang Marsha Timothy, dia memang cocok untuk peran ibu dengan usia yang sudah terbilang tua. Namun meski demikian, sayangnya Fedi Nuril yang tak dapat mengimbangi itu malah mereduksi kemistri keduanya.

Baca Juga  Barakati

Satu sisi, keputusan yang tepat mengganti Raline Shah dengan Marsha, yang karakteristik wajahnya cocok dengan tuntutan akting sebagai seorang ibu dengan usia yang tak lagi muda. Tetapi di sisi lain, ini justru menghilangkan kemistri antara Fedi dan Raline, yang sudah dibangun melalui dua film sebelumnya. Fedi sendiri tampak tak berhasil menunjukkan aktingnya dalam film drama keluarga yang melibatkan masalah anak-anak. Persoalan ini jadi nilai minus baginya, karena menjadikannya –untuk saat ini—tampak masih lebih cocok bermain dalam film-film dengan tema-tema yang sejenis dengan Ayat-Ayat Cinta (serta sekuelnya) atau Surga yang Tak Dirindukan pertama dan kedua, tentu termasuk muatan religinya yang kuat.

Seperti yang diketahui bersama, bahwa film pertamanya menggaungkan isu seputar poligami, dan film keduanya mengangkat soal keikhlasan seorang istri. Tetapi film yang ketiga ini? Surga yang Tak Dirindukan 3 sekadar mengembangkan topik-topik lama yang sudah umum selama ini. Topik-topik seputar masa lalu yang datang menghantui sebuah keluarga, saat keluarga itu sendiri sedang dilanda masalah internal.

Sudah begitu, lagi-lagi terjadi pergantian sutradara. Dan sebagai penggantinya, Pritagita, semenjak dinominasikan sebagai Best Director melalui Salawaku, belum pernah lagi terlihat mengulang kembali sejarah yang sama, atau bahkan lebih baik. Entah apa alasannya sang produser, Manoj Punjabi, mengganti “lagi” sutradaranya dengan Pritagita, alih-alih tetap mempertahankan Hanung. Namun dilihat dari hasil akhirnya, kemegahan kisah tentang sebuah surga keluarga yang tak lagi dirindukan, yang dibangun sedemikian rupa oleh Hanung bersama setting luar negerinya, telah sirna melalui film yang ketiga ini.

Surga yang Tak Dirindukan 3 punya banyak sekali aspek bercatatan merah. Tampak jelas film ini dibuat, bukan karena cerita dalam filmnya memang belum tuntas dan masih harus dilanjutkan. Film ini, dibuat karena hype yang masih besar dari fans-nya. Dengan alasan ini saja, sudah membuat film ini sebenarnya tidak terlalu penting dibuat, kalau tidak ada pembicaraan soal potensi perolehan nominal profit. Bahkan sampai-sampai harus “membawa kembali” wajah Reza Rahadian ke cerita lanjutan, meski perannya beda tokoh. Sayangnya cara ini sangatlah instan, bila hanya demi menjaga penonton kedua film sebelumnya agar tetap mengikuti film yang ketiga. Beruntung, setidaknya ada kehadiran Marsha sebagai tokoh penting yang cukup menolong film ini. Semoga saja tidak ada lanjutannya lagi menjadi film yang keempat, karena persoalan tentang “surga yang tak dirindukan” ini benar-benar harus berhenti sejak film keduanya.

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaBatman: The Long Halloween Part One
Artikel BerikutnyaTill Death Do Us Part
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.