Ini baru yang namanya thriller. Setelah membuang-buang waktu dan tenaga dengan I dan Will, akhirnya Anggy Umbara menunjukkan bagaimana thriller seharusnya melalui Survive: The Rise of Psychopath, film arahan ketiganya dari –yang katanya—trilogi thriller. Masih dengan naskah yang ditulis sendiri olehnya, film thriller psikologis ini juga diproduksi atas kerja sama antara PT Umbara Brothers Film dan KlikFilm Productions. Para pemerannya merupakan gabungan dari dua film sebelumnya, seperti Anggika Bolsterli, Amanda Rigby, Onadio Leonardo, dan Omar Daniel, serta tiga nama tambahan yakni Fatir Tan Malaka, Cindy Nirmala, dan T. Rifnu Wikana. Jadi, sejauh mana sisi thriller yang secara garis besar lebih baik ketimbang dua film sebelumnya dihadirkan oleh film ini?

Perkara kelainan psikologis yang tak semata soal autisme maupun keberadaan rumah sakit jiwa memperlihatkan sisi yang menarik melalui sosok Dani yang masih berusia anak-anak (Fatir Tan Malaka) dan ayahnya (T. Rifnu Wikana). Keduanya memegang prinsip dan idealisme tentang keadilan, serta mengaku berhak menghakimi siapapun yang bersalah di dunia tanpa memedulikan hak orang lain. Tiga korban mereka yang diketahui ialah Ibu Tiri Dani, Surti (Cindy Nirmala), serta Mila (Amanda Rigby) dan Vina (Anggika Bolsterli), masing-masing istri dari dua sahabat Dani yang sudah dewasa, Sanjaya (Omar Daniel) dan Andra. Berbekal keyakinannya, Dani terus omong besar mengenai kebanggaannya jadi “martir” dunia, tetapi pada saat yang sama sangat kontradiktif dengan tindakannya sendiri, hingga terjebak oleh pandangannya terhadap salah seorang sanderanya.

Setelah dua film sebelumnya tak memberikan sensasi pengalaman menonton film thriller –dengan adegan-adegan khasnya tentu saja, akhirnya ini bisa didapatkan dalam film yang ketiga. Survive: The Rise of Psychopath, memperlihatkan dengan baik pengalaman menonton apa yang seharusnya diperoleh saat menonton film thriller. Rasa haus akan hal ini yang disebabkan oleh lemahnya pencapaian I dan Will dalam memberikan pengalaman tersebut dilegakan oleh film ini.

Bukan hanya itu, banyak masalah yang memperburuk penampilan I dan Will diperbaiki dengan apik oleh Survive: The Rise of Psychopath ini. Mulai dari segmen-segmen awalnya. Lagi-lagi berbicara mengenai dialog –karena unsur ini memang acapkali jadi masalah sebelumnya, film ini boleh dibilang melakukan perbaikan yang cukup memadai terhadap itu. Terlebih saat digunakan dalam adegan-adegan yang menunjukkan karakteristik psikopat dari beberapa tokoh. Meskipun –masih perihal segmen awal, penggunaan long take sebagai pembuka segmen ini tidaklah memberi dampak yang terlalu besar. Motivasinya bisa dipahami, tetapi nilai gunanya tak banyak berarti.

Baca Juga  Dear David

Ihwal sang tokoh utama sendiri, tampil menawan dengan karakteristik psikopatnya. Aspek kejiwaan atau sisi psikologisnya yang menyimpang melebihi tokoh utama dalam I –yang masih terhalang kompas moral. Seperti yang diharapkan pula dari T. Rifnu Wikana, begitu klop dengan perannya dalam film ini. Agaknya sulit juga menebak, mana sisi baiknya yang dilakukan sungguh-sungguh dan mana yang pura-pura; mana sisi kerasnya yang demi kebaikan dan mana yang sekadar untuk kepuasannya pribadi; mana kepeduliannya yang tulus dan mana yang jebakan. Sampai pada gilirannya, semua itu menurun ke putranya (Dani) dan dibawakan dengan apik oleh Onadio. Semoga psikologisnya di dunia nyata baik-baik saja.

Walau dengan semua itu, sayang sekali shot-shot ‘tak nyaman’ nihil dalam film ini. Padahal besar kemungkinan ini dapat mendukung sisi psikologis para tokoh sentralnya yang tidak baik-baik saja. Singkat kata, ragam shot-nya biasa saja, sementara “ketidaknyamanan” dan tekanan yang terjadi terus berlangsung. Alih-alih bereksplorasi juga dengan shot, film ini hanya mengandalkan kekuatan dari dialog, musik, akting, dan pengadeganan. Bukankah ini mubazir?

Survive: The Rise of Psychopath pun sebetulnya menggunakan setting yang terbatas, sama halnya dengan Will. Namun, ini tidaklah perlu terlalu dipermasalahkan, karena toh memang dibutuhkan untuk ‘pertunjukan’ elemen thriller-nya. Banyak juga benda-benda simbolik yang dimanfaatkan demi menunjangnya, setelah Will sangat sepi dari keberadaan aspek properti ini.

Untunglah, Survive: The Rise of Psychopath tidak membosankan seperti dua film sebelumnya. Para penggemar thriller yang berbasis kelainan psikologis berupa psikopat barangkali dapat menyukai film ini. Pula tak serupa I dan Will, paling tidak film ini bukan malah jadi tayangan drama psikologis, dengan tampilan ala televisi yang “disisipi” unsur kriminal dan thriller. Survive: The Rise of Psychopath dan dua film sebelum ini layaknya satu film thriller berdurasi sangat panjang, dari tiga tokoh utama dengan cerita masing-masing yang punya keterkaitan, kemudian dipecah menjadi tiga film dengan urutan kejadian yang saling memengaruhi. Ketiganya pun sangat memungkinkan untuk hanya menjadi satu film. Namun karena besarnya cakupan masalah dan keterlibatan banyak pihak yang butuh pembangunan cerita sendiri, walhasil jadilah sebuah trilogi.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaWill
Artikel BerikutnyaChernobyl: Abyss
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.