Funnicus at Luna Park (1912)
7 min|Short, Comedy|17 Jul 1913
4.9Rating: 4.9 / 10 from 14 usersMetascore: N/A
Funnicus has made a futile endeavor all day to be cheerful, but conditions will not permit. Seeking forgetfulness, he took his despondent way towards Luna Park, and started to "do" the place thoroughly. An overplump dame was givin...

Dua dekade belakangan isu kekerasan senpi di AS makin kencang di medium film. Hingga detik ini pun, bisa jadi korban masih terus berjatuhan. Coba saja cek daftar penembakan di area sekolah di AS pada 22 tahun terakhir, ini hanya kejadian di sekolah/kampus saja. Jumlah angkanya sungguh membuat kita terkejut. Dunia memang sudah edan. Isu kekerasan senpi seperti tak ada matinya. Tak terkecuali, The Fallout, yang saya anggap adalah film terbaik untuk tema ini.

The Fallout diarahkan oleh sineas perempuan debutan Megan Park yang juga adalah bintang serial televisi The Secret Life of American Teenager. Film ini dibintangi sederetan bintang-bintang muda berbakat, antara lain Jenna Ortega, Maddie Ziegler, Niles Fitch, Lumy Pollack, serta aktris kenamaan Shailene Woodley. Film berdurasi 91 menit ini dirilis minggu ini melalui platform streaming, HBO MAX milik Warner Bros.

Vada (Ortega) adalah seorang gadis remaja yang terjebak dalam peristiwa penembakan massal yang menewaskan beberapa siswa di sekolahnya. Waktu kejadian, ia berada di toilet bersama dua siswa, yakni Mia(Ziegler) dan Quinton (Fitch). Sejak saat itu, Vada mengalami trauma berat dan menjadi dekat dengan Mia dan Quinton. Keluarga dan rekan-rekan dekatnya rupanya tidak cukup untuk memulihkan kondisi mental Vada. Vada pun mulai berubah sikap dan akrab dengan hal-hal negatif yang selama ini dijauhinya.

Naskah yang sangat kuat ditambah dengan penampilan memukau sang bintang, hasilnya adalah sebuah film yang istimewa. Saya sama sekali tidak berekspektasi film ini demikian bagus. Gaya arahan sang sineas debutan ini, jauh dari kata amatir. Peristiwa penembakan tidak divisualisasikan secara langsung, namun melalui perspektif Vada dan Mia. Hanya di satu ruang sempit toilet, situasi mencekam dan genting sudah bisa kita rasakan dengan kuat. Suara tembakan dan jeritan para siswa semakin menambah efek horor luar biasa. Kita pun tak pernah lepas dari sosok Vada yang dimainkan begitu brilian oleh Jenna Ortega sehingga segala simpati dan empati adalah penuh untuk sang bintang.

Baca Juga  It Lives Inside

Hebatnya, Ortega mampu membangun chemistry kuat dengan karakter manapun di sepanjang film dengan mood yang berbeda. Baik dengan sosok Mia, Quinton, Amelia (adik), sang pacar, bahkan hingga psikiaternya. Nyaris semua adegan adalah yang terbaik, tak ada satu pun yang luput, dan punya keunikan masing-masing. Di antara kehangatan dan sisi gelap kisahnya, sisipan humor pun terlontar dengan cerdas. Momen-momen intim dan sureal juga tersaji dengan brilian melalui perspektif kamera yang terukur. Menonton film ini adalah sungguh sebuah pengalaman sinematik sekaligus empati yang amat luar biasa. Setelah mengalami katarsis yang begitu hebat, film ini masih ditutup pula oleh ending yang sangat mengejutkan sekaligus menguatkan pesan filmnya.

The Fallout menyajikan isu kuat tentang trauma kekerasan senjata dibalut drama mengesankan yang hangat sekaligus suram, didukung penampilan istimewa dari para bintang mudanya. Menonton film ini mengingatkan pada CODA yang sama-sama memiliki sisi kehangatan keluarga yang kuat, namun The Fallout adalah sebuah pengalaman yang berbeda. Dalam satu sisi bisa dibilang adalah sebuah film politis. Film ini menegaskan bahwa kekerasan senjata api yang sudah demikian kelewat batas harus distop dengan cara yang ekstrem pula. Kita bukan hanya bicara soal nyawa, namun ribuan jiwa lainnya yang “kosong” akibat trauma dengan peristiwa yang sulit dinalar ini. Banyak film telah menawarkan solusi, namun tanpa kemauan dari pemangku kebijakan, semua tak ada artinya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaPenyalin Cahaya
Artikel BerikutnyaThe Ledge
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses