The Grudge (2020)
94 min|Horror, Mystery|03 Jan 2020
4.2Rating: 4.2 / 10 from 15,407 usersMetascore: 41
A house is cursed by a vengeful ghost that dooms those who enter it with a violent death.

Sejak tahu seri The Grudge (versi AS) akan diproduksi kembali, saya jelas pesimis, karena sekuelnya juga relatif tak ada gaungnya, walau secara komersial lumayan sukses. Satu hal yang unik, kabarnya film ini adalah sebuah reboot. Walau saya bingung, mau diapakan lagi kisahnya? Seri film ini, tentu yang terkuat adalah film pertamanya (2004) yang memang murni tribute film asli Jepang-nya (Ju-on) yang juga dibuat oleh sutradara yang sama (Takashi Shimizu). Film reboot-nya kini diarahkan oleh Nicholas Pesce serta masih pula diproduseri oleh Sam Raimi. Hal yang juga mengejutkan adalah film ini dibintangi beberapa nama populer, seperti Andrea Riseborough, John Choo, Lin Shaye, serta Demian Bichir. So, apa lagi yang mau ditawarkan reboot-nya kini? Saya sangat sarankan sebelum menonton film ini untuk menonton film pertamanya untuk memudahkan memahami kisahnya.

Satu hal yang menarik, kisah film ini rupanya berjalan simultan dengan film aslinya (The Grudge/2004). Film ini dimulai sesaat sebelum Yoko masuk ke dalam rumah terkutuk tersebut di Jepang. Fiona Landers adalah perawat yang merawat Emma, ibu dari keluarga William. Fiona merasakan suatu hal yang tak beres dengan rumah tersebut dan ia ingin segera pergi dari sana. Sesampainya di AS, rupanya kutukan tersebut berlanjut dan malapetaka pun kembali terjadi. Setelahnya, beberapa orang yang tinggal dan bahkan hanya masuk dalam rumah, terkena kutukan yang sama.

Kisah film ini sejak awal memang sudah amat menarik. Tentu ini membutuhkan informasi cerita dari seri pertamanya walau dalam perjalanan, semuanya dijelaskan secara sekilas. Istilah reboot, bagi saya kurang tepat untuk plot filmnya, namun spin-off rasanya lebih pas karena kisah aslinya (film pertama) secara simultan juga terjadi di seberang sana. Oke, untuk sementara diskusi ini kita abaikan dulu. Aspek franchise memang berkembang dinamis setiap saat dan ini adalah satu contoh sempurna.

Baca Juga  The Good Dinosaur

Jika kisah The Grudge (2004) dan Ju-on (2002) dituturkan secara nonlinier, film spin-off-nya ini disajikan melalui serangkaian kilas-balik yang lumayan kompleks. Batasan linier dan nonlinier sangat tipis karena masing-masing kilas-balik berjalan secara bertautan yang tentu punya potensi membuat penonton awam kebingungan mengikuti plotnya. Filmnya memiliki empat subplot yang seimbang antara masa kini dan 3 masa lalu. Seolah rumah tersebut (seperti dijelaskan dalam satu adegan) tidak memiliki batasan waktu dan semua tokohyna saling terkait. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat segar dan menarik, serta tentu tidak mudah untuk membuat naskahnya hingga bisa enak diikuti sejak awal hingga akhir. Hanya sayangnya, di luar cara bertuturnya ini, film ini tidak memiliki sesuatu yang baru, baik secara teknis maupun genrenya.

The Grudge adalah sebuah spin-off yang cerdas melalui tribute film aslinya dengan cara bertuturnya yang unik, walau secara estetik (trik horor) tak ada lagi yang segar. Baik kejutan cerita maupun jump scare, tak mudah untuk diantisipasi para penikmat horor sejati. Film ini juga memilih berjalan “aman” untuk memberi jalan sekuelnya kelak jika film ini laris. Flop sepertinya tidak, namun sukses besar seperti film pertamanya, rasanya juga mustahil. Selain cara bertuturnya yang unik, film ini juga didukung kuat mayoritas para pemerannya yang bermain sangat baik. Walau bukan contoh yang sempurna, The Grudge (2020) adalah satu contoh bagus bagaimana film franchise horor seharusnya diperlakukan. Jika ada sekuelnya kelak, tentu saya menanti kejutan lain.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaSi Manis Jembatan Ancol
Artikel BerikutnyaBombshell
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.