The Grudge (2019)
94 min|Fantasy, Horror|03 Jan 2020
4.4Rating: 4.4 / 10 from 29,109 usersMetascore: 41
A house is cursed by a vengeful ghost that dooms those who enter it with a violent death.

Sejak tahu seri The Grudge (versi AS) akan diproduksi kembali, saya jelas pesimis, karena sekuelnya juga relatif tak ada gaungnya, walau secara komersial lumayan sukses. Satu hal yang unik, kabarnya film ini adalah sebuah reboot. Walau saya bingung, mau diapakan lagi kisahnya? Seri film ini, tentu yang terkuat adalah film pertamanya (2004) yang memang murni tribute film asli Jepang-nya (Ju-on) yang juga dibuat oleh sutradara yang sama (Takashi Shimizu). Film reboot-nya kini diarahkan oleh Nicholas Pesce serta masih pula diproduseri oleh Sam Raimi. Hal yang juga mengejutkan adalah film ini dibintangi beberapa nama populer, seperti Andrea Riseborough, John Choo, Lin Shaye, serta Demian Bichir. So, apa lagi yang mau ditawarkan reboot-nya kini? Saya sangat sarankan sebelum menonton film ini untuk menonton film pertamanya untuk memudahkan memahami kisahnya.

Satu hal yang menarik, kisah film ini rupanya berjalan simultan dengan film aslinya (The Grudge/2004). Film ini dimulai sesaat sebelum Yoko masuk ke dalam rumah terkutuk tersebut di Jepang. Fiona Landers adalah perawat yang merawat Emma, ibu dari keluarga William. Fiona merasakan suatu hal yang tak beres dengan rumah tersebut dan ia ingin segera pergi dari sana. Sesampainya di AS, rupanya kutukan tersebut berlanjut dan malapetaka pun kembali terjadi. Setelahnya, beberapa orang yang tinggal dan bahkan hanya masuk dalam rumah, terkena kutukan yang sama.

Kisah film ini sejak awal memang sudah amat menarik. Tentu ini membutuhkan informasi cerita dari seri pertamanya walau dalam perjalanan, semuanya dijelaskan secara sekilas. Istilah reboot, bagi saya kurang tepat untuk plot filmnya, namun spin-off rasanya lebih pas karena kisah aslinya (film pertama) secara simultan juga terjadi di seberang sana. Oke, untuk sementara diskusi ini kita abaikan dulu. Aspek franchise memang berkembang dinamis setiap saat dan ini adalah satu contoh sempurna.

Baca Juga  The Unbearable Weight of Massive Talent

Jika kisah The Grudge (2004) dan Ju-on (2002) dituturkan secara nonlinier, film spin-off-nya ini disajikan melalui serangkaian kilas-balik yang lumayan kompleks. Batasan linier dan nonlinier sangat tipis karena masing-masing kilas-balik berjalan secara bertautan yang tentu punya potensi membuat penonton awam kebingungan mengikuti plotnya. Filmnya memiliki empat subplot yang seimbang antara masa kini dan 3 masa lalu. Seolah rumah tersebut (seperti dijelaskan dalam satu adegan) tidak memiliki batasan waktu dan semua tokohyna saling terkait. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat segar dan menarik, serta tentu tidak mudah untuk membuat naskahnya hingga bisa enak diikuti sejak awal hingga akhir. Hanya sayangnya, di luar cara bertuturnya ini, film ini tidak memiliki sesuatu yang baru, baik secara teknis maupun genrenya.

The Grudge adalah sebuah spin-off yang cerdas melalui tribute film aslinya dengan cara bertuturnya yang unik, walau secara estetik (trik horor) tak ada lagi yang segar. Baik kejutan cerita maupun jump scare, tak mudah untuk diantisipasi para penikmat horor sejati. Film ini juga memilih berjalan “aman” untuk memberi jalan sekuelnya kelak jika film ini laris. Flop sepertinya tidak, namun sukses besar seperti film pertamanya, rasanya juga mustahil. Selain cara bertuturnya yang unik, film ini juga didukung kuat mayoritas para pemerannya yang bermain sangat baik. Walau bukan contoh yang sempurna, The Grudge (2020) adalah satu contoh bagus bagaimana film franchise horor seharusnya diperlakukan. Jika ada sekuelnya kelak, tentu saya menanti kejutan lain.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaSi Manis Jembatan Ancol
Artikel BerikutnyaBombshell
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.