The In Between (2022)
115 min|Drama, Romance, Sci-Fi|11 Feb 2022
5.9Rating: 5.9 / 10 from 10,129 usersMetascore: N/A
After surviving a car accident that took the life of her boyfriend, a teenage girl believes he's attempting to reconnect with her from the after world.

Setelah Ghost (1990), puluhan film mencoba mengekor sukses film ini, namun tak banyak yang berhasil. The In Between mencoba peruntungannya dengan menggunakan konsep kisah yang serupa. The In Between adalah film arahan Arie Posin yang dibintangi bintang muda, Joey King dan Kyle Allen. Film ini dirilis platform Paramount + awal Februari lalu dan hari ini dirilis di platform Netflix. Lantas, apakah film iniĀ  selevel dengan Ghost?

Tessa (King) adalah gadis remaja yang tinggal bersama orang tua angkatnya. Tessa yang penyendiri dan berhobi fotografi secara tak sengaja bertemu dengan seorang pria menarik, Skylar (Allen). Setelah ini, mereka berhubungan semakin dekat. Malang, kecelakaan tragis menimpa, sang kekasih tewas, dan Tessa pun trauma berat. Dalam kesedihannya, Tessa merasakan kehadiran sang pacar di dekatnya. Ia pun mencoba dengan cara apapun untuk bisa berkomunikasi dengan Skylar.

Untuk remaja masa kini, Ghost mungkin terlalu kuno untuk ditonton, tapi kisahnya kurang lebih mirip. Hanya saja, segala hal yang menjadi kekuatan kisah Ghots berbanding terbalik dengan The In Beetween. Dari segi penuturan kisah, The In Between bisa dikatakan menarik, dengan menggunakan teknik kilas-balik yang membuat plotnya maju mundur sepanjang film, yakni sebelum dan sesudah peristiwa kecelakaan. Pembeda tone warna gambar pun disajikan sangat baik di antara dua segmen utama tersebut. Yang satu cerah (oranye) dan satu lagi sendu (kebiruan). Ini masih ditambah pula sisi sinematografi yang amat mapan. Sayangnya, kekuatan teknisnya, termasuk penampilan apik dua kasting utamanya (King dan Allen), tidak mampu banyak mengangkat filmnya.

Baca Juga  The Karate Kid

Satu catatan besar, alur kisahnya mudah ditebak dan konflik antara Tessa dan Sky menjelang klimaks tampak sekali terlalu dipaksakan. Banyak film roman terjebak di momen ini untuk segera bisa mengakhiri cerita dengan satu tokohnya mendadak dibuat egois. Satu lagi hal yang konyol adalah sisi supernaturalnya yang berlebihan. Ini justru melemahkan chemistry kisahnya. Sang roh rupanya butuh segala atensi untuk bisa menarik perhatian Tessa (dan orang lain) dengan segala cara yang prosesnya begitu absurd dan tak masuk akal. Contoh saja, satu adegan mobil bisa saja membuat banyak orang tewas dalam prosesnya. Ini untuk apa? Mengapa harus dengan cara begitu berbelit dan demikian kasar?

Versi inferior dari Ghost, The In Between terjebak dalam konsep metafisik yang dangkal dan memaksa tanpa mampu menggiring menjadi kisah drama yang menyentuh. Bermain-main dengan alam roh dan segala atributnya memang bukan perkara mudah untuk ditulis dalam naskah. Tidak ada orang yang tahu ini secara pasti dan juga tak mampu dibuktikan ilmiah. Poin filmnya memang tidak ke ranah ini dan konsep kisahnya hanya menjadi analogi dari trauma atau rasa bersalah. Secara gamblang di adegan penghujung, Tessa memaparkan secara verbal semua poin penderitaannya di sini, dan ini jelas bukan cara yang elegan untuk menutup sebuah film. Hasil potret Tessa sebenarnya sudah mampu bicara bahwa cinta/passsion bisa melewati semua masalah.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaThirty Nine
Artikel BerikutnyaAll the Old Knives
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.