The Matrix (1999) bersama dua sekuelnya menjadi sensasi besar di peralihan milenium lalu hingga kini menjadi film sci-fi cult yang memiliki banyak fans. Saya sendiri menganggap film ini adalah salah satu film ilmiah terbaik yang pernah ada, bukan hanya karena pencapaian visual yang istimewa, namun adalah kedalaman kisahnya dengan mampu mengemas dengan cara dan konsep yang brilian. Memang butuh perspektif berbeda untuk bisa memahami bahwa The Matrix adalah bukan film aksi biasa. The Matrix Resurrections adalah sekuel dari triloginya, yang kini hanya diarahkan oleh Lana Wachowsky (dulu Larry Wachowsky).

Film ini masih dibintangi Keanu Reeves dan Carrie Ann Moss, dengan beberapa bintang baru Yahya Abdul-Mateen II, Jessica Henwick, Neil Patrick, hingga Priyanka Chopra Jonas. Film ini dirilis berbarengan secara teater dan online melalui platform HBO MAX. The Matrix yang sudah demikian istimewa rasanya sulit untuk ditandingi, lantas bagaimana sekuelnya kini yang dirilis 20 tahun kemudian?

Puluhan tahun berselang di dalam dunia maya (the matrix), Thomas Anderson (Reeves) kini adalah pengembang game legendaris yang menciptakan permainan trilogi The Matrix (plotnya persis trilogi film terdahulu). Seperti dulu, Thomas memiliki gangguan psikis yang sulit untuk membedakan antara fantasi dan realita. Bahkan ketika bertemu dengan Tiff (Moss), seorang ibu muda yang merupakan wujud fisik Trinity kini, ia merasakan ada koneksi khusus yang tidak bisa mereka pahami. Tidak hingga “Morpheus” (Mateen) dan Bugs (Henwick) kembali membebaskan Thomas alias NEO, sang juru selamat kembali ke dunia nyata. Niat Neo untuk membebaskan Trinity dihalangi oleh sang analis (Neil Patrick) yang juga terapisnya dan musuh bebuyutannya, Agen Smith yang kini berubah wujud menjadi produser game-nya.

Sudah kita rasakan sejak opening, Ressurections terasa sedikit repetitif dan banyak nuansa nostalgia dalam sepanjang plotnya. Ya memang. Satu titik kelemahan terbesar film ini adalah sulit mengantisipasi kisahnya jika tidak paham betul kisah triloginya. Aturan main dalam trilogi film sebelumnya, rasanya sudah tidak berlaku sekalipun substansi kisahnya sama. Sudah pernah menonton triloginya bukan jaminan untuk dapat lantas memahami sekuelnya ini. Sekuelnya kali ini juga tak banyak aksi seperti sebelumnya. Aksi-aksi hebat yang monumental, kini tak lagi ada, dan banyak digantikan dengan dialog-dialog “berat” yang dijamin bakal sulit untuk menahan rasa kantuk jika memang tidak paham.

Baca Juga  The Half of It

Sudah banyak tulisan yang menganalisis film The Matrix, khususnya bicara tentang subtansi plotnya yang menggunakan konsep reinkarnasi, sang juru selamat, hingga konsep buddhisme. Uniknya, Reeves sendiri pernah bermain sebagai sang avatar, Siddharta Gautama dalam Little Buddha (1993). Ibarat The Matrix adalah kisah bagaimana seorang “yang terpilih” mencapai kesunyaan atau kesadaran tertinggi dan bersatu dengan semesta. Sang duo sineas, Wachowsky bersaudara mampu mengemas konsep ini dalam sebuah kemasan cerita sci-fi yang amat istimewa dengan menggunakan medium “The Matrix” sebagai simbol dunia fana. Neo adalah sang juru selamat yang membebaskan umat manusia dari belenggu mesin.

Jika konsep ini tidak bisa dipahami rasanya sulit untuk memahami film sekuelnya. Wachoswki Bersaudara juga sudah membuat film bertema sama melalui film sci-fi ambisius, Cloud Atlas (2012). The Matrix Resurrection intinya hanya merangkum trilogi filmnya dalam satu film. Trilogi film sebelumnya adalah satu kehidupan Neo dan Trinity, sementara Ressurections adalah satu fase kelahiran kembali Neo dan Trinity. Proses ini (sebelum kisah triloginya) tentunya sudah berulang entah sudah untuk kesekian kalinya. Bagaimana, paham kan? Jika sulit diterima, “free your mind” mengutip kata-kata  Morpheus.

Dengan konsep serta filosofi cerita yang sama, The Matrix Resurrections adalah penuturan kembali trilogi film sebelumnya, walau kini targetnya jelas bukan untuk semua orang, khususnya bagi penikmat aksi-aksinya. Sang sineas secara brilian berhasil membuat rangkuman ringkas tentang apa sebenarnya inti kisah trilogi sebelumnya dengan tidak menekankan aspek visual. Untuk fans aksi triloginya, film ini dijamin bakal membuat rasa bosan hebat dengan banyaknya dialog rumit serta tanpa banyak adegan aksi berkualitas. Bahkan koreografi tarung yang menjadi satu nilai lebih seri sebelumnya tidak ditonjolkan sama sekali. The Matrix adalah satu pencapaian langka dalam medium film, sementara Ressurection tidak bisa dibilang segar karena memiliki inti cerita yang sama, namun sang sineas mampu menegaskan bahwa The Matrix bukan semata film aksi biasa, namun menuturkan sesuatu yang lebih tentang hubungan manusia dan semesta.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSpider-Man: No Way Home
Artikel BerikutnyaHawkeye
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.