The Mauritanian (2021)
129 min|Drama, Thriller|02 Mar 2021
7.4Rating: 7.4 / 10 from 10,198 usersMetascore: 54
Mohamedou Ould Slahi fights for freedom after being detained and imprisoned without charge by the U.S. Government for years.

Isu terorisme dan kebohongan publik yang dilakukan pemerintah AS pasca peristiwa 9-11 rupanya masih menjadi topik kuat yang diangkat dalam medium film melalui The Mauritanian. Dua tahun lalu, The Report (2019) secara rinci telah menyajikan kisah sejenis yang bisa jadi dua plot film ini saling bertautan karena berada di waktu yang relatif berdekatan.

The Mauritanian adalah film drama arahan Kevin Macdonald yang diambil dari buku Guantanamo Diary yang merupaan pengalaman hidup nyata sang penulis, Mohamedou Ould Salahi. Film ini dibintangi sederetan nama besar, yakni Jodie Foster, Benedict Cumberbacth, Shailene Woodley, dan Tahar Rahim. Situasi pandemi menyebabkan film berbujet USD 14 juta ini akhirnya dirilis melalui video on demand serta platform Amazon Prime Video.

Pasca peristiwa 9-11, Salahi (Rahim) ditangkap secara paksa oleh CIA dengan tuduhan adalah salah satu otak di balik peristiwa besar tersebut dan dijebloskan penjara khusus Guantanamo di Kuba. Beberapa tahun berselang, kasus Salahi kembali muncul karena pemerintah AS ingin segera menyeret para pelaku 9-11 ke kursi listrik. Pengacara senior, Nancy Hollander (Foster) akhirnya mewakili Salahi untuk mendapatkan persidangan sesuai hukum yang berlaku. Di pihak jaksa penuntut diwaklili perwira berdikasi tinggi, Stuart Couch (Cumberbacth) yang memiliki motif personal untuk segera menghukum para pelakunya. Namun dalam proses penyelidikan, entah mengapa, beberapa pihak justru mempersulit mereka untuk mendapatkan data-data lapangan yang mereka butuhkan seolah ada satu fakta besar yang sengaja ditutupi.

Baca Juga  Nomadland

Isunya jelas besar dan sensitif, namun alur plotnya yang didominasi oleh kilas balik tak mampu mengangkat tensi ketegangan yang dibutuhkan untuk membuat kisahnya lebih menarik. Sisi kilas balik memang dibutuhkan untuk memberi latar belakang kuat sosok Salahi, namun sisi urgensi plot masa kini menjadi melemah dan alur kisahnya menjadi mudah diantisipasi arahnya. Mudah diantipasi berarti pula membosankan. Subplot yang disajikan silih berganti antara Salahi, Nancy & Teri, dan Stuart juga melemahkan pula chemistry antara Salahi dan Nancy yang rasanya ingin dicapai kisahnya. Teror publik terhadap sosok Nancy dan Teri pun juga tersaji kurang menggigit. Terlalu santai dan sepi, tanpa ada sense of thread yang mampu kita rasakan. Jika mau dibandingkan, ini jauh berbeda dengan alur plot The Report yang mampu membangun tensi ketegangan dengan sangat baik.

Bukan hal baru untuk isunya, namun The Mauritanian mampu mencuri perhatian karena deretan kasting besarnya, khususnya penampilan memukau dari Tahar Rahim. Ya, isu dan kasting besarnya tidak sepadan dengan alur kisahnya yang rada flat. Walaupun begitu, penampilan kastingnya jelas jauh dari kata buruk. Foster dan Cumberbact (dengan akting Amerika kentalnya) memang bermain di level mereka walau tak terlalu menonjol. Kecuali tentunya Rahim yang bermain sangat ekspresif dan memesona memerankan sosok Salahi yang diperlakukan tak manusiawi sekian lama. Isu film ini memang penting, namun sayangnya, film ini tak mampu memberi ekspektasi lebih dari sisi cerita maupun estetik.

Stay safe and Healthy.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaRaya and the Last Dragon
Artikel BerikutnyaSentinelle
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.