The New Mutants (2020)
94 min|Action, Horror, Mystery|28 Aug 2020
5.3Rating: 5.3 / 10 from 99,741 usersMetascore: 43
Five young mutants, just discovering their abilities while held in a secret facility against their will, fight to escape their past sins and save themselves.

The New Mutants awalnya memiliki rilis pada pertengahan April 2018, namun faktor transisi Fox ke Disney hingga pandemi merubah jadwal tayangnya hingga bulan Agustus 2020 lalu. Penundaan yang sekian lama dan isu tambal sulam produksi filmnya tentu memberi ekspektasi buruk bagi hasil filmnya. Apakah begitu buruk? Ya, bisa dibilang begitu.

Film ini merupakan seri ke-13 dan terakhir dari X-Men Franchise sejak 2 dekade lalu yang artinya masih dalam satu semesta cerita dengan X-Men, Logan, hingga Deadpool. Lalu di manakah posisi kisah film ini? Dalam satu cerita sebelumnya, memang pernah disinggung bagaimana usaha pemerintah (atau pihak ketiga) untuk membina mutan-mutan muda ini untuk menjadi pembunuh terlatih. Kisah film ini adalah  satu contoh kasus dari kisah besar tersebut. Seperti kita tahu, Charles Xavier mendidik para mutan muda dengan rasa sayang dan hangat layaknya keluarga, sementara kisah film ini justru sebaliknya.

Dikisahkan, lima mutan muda dengan beragam kekuatan disekap dalam satu fasilitas lawas dengan hanya SATU pengawas saja yakni Dr. Reyes. Entah bagaimana fasilitas ini bekerja dengan hanya satu orang karyawan yang melatih para mutan muda ini untuk bisa mengontrol kekuatan mereka. Tidak hingga sang rekrutan baru, Dani, gadis muda traumatik yang ternyata membawa petaka besar bagi seluruh penghuni fasilitas tersebut. Tidak ada kejutan berarti dan sesuatu yang baru dari kisahnya.

Baca Juga  Heads of the State | REVIEW

Eksplorasi horor dalam genre superhero ini juga terasa amat tanggung. Jump scare atau nuansa horor pun tak ada gregetnya sama sekali. Adegan aksinya yang banyak menggunakan CGI terasa sekali begitu artifisial, jomplang dengan seri X-Men lainnya. Satu hal baru untuk genrenya tercatat adalah penggunaan setting terbatas dan minim karakter. Satu hal lain lagi yang mengejutkan adalah sisipan kisah LGBT yang disajikan “rada ekstrem” dan tidak malu-malu lagi untuk genrenya. Karakternya pun sebagian besar adalah imigran dan penduduk asli Amerika (Indian). Jika ini dimaksudkan sebagai metafora anti rezim Trump juga tak terasa greget urgensinya. Para pemain memang tidak ada yang bermain buruk, kecuali naskahnya yang memang mudah sekali diantisipasi.

Sesuai ekspektasi dan sekian lama penundaan tayang, The New Mutants sebenarnya memiliki eksplorasi menarik untuk genrenya, namun sayangnya tidak memiliki ambisi yang kuat untuk memberikan suntikan baru bagi genrenya. Untuk serinya, film ini menjadi penutup yang sejak awal sudah diduga bakal buruk. Dalam kondisi normal pun, rasanya mustahil film ini bisa sukses komersial yang konon bujetnya mencapai U$ 80 juta. Seri X-Men ini kini telah berakhir dan menanti “dihidupkan” kembali melalui Marvel Cinematic Universe (MCU). Kita lihat saja, penyegaran macam apa yang akan kita lihat bagi para karakter X-Men. Sejauh ini MCU tidak pernah terpeleset dalam menyisipkan karakter barunya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaEnola Holmes
Artikel BerikutnyaOkay! Madam
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses