The Occupant

0
37
The Occupant (2020)
103 min|Adventure, Drama, Thriller|25 Mar 2020
6.3Rating: 6.3 / 10 from 11,149 usersMetascore: N/A
Javier Muñoz, once a successful executive, makes the fateful decision to leave his home, which he and his family can no longer afford.

The Occupant adalah film drama thriller produksi Spanyol arahan duo sineas bersaudara, David dan Lex Pastor. Film yang dirilis Netfilx akhir Maret lalu ini, dibintangi oleh aktor kawakan Spanyol, Javier Gutiereez, serta Mario Casas, Bruna Cuzi, Ruth Diaz, dan David Ramirez. Ada yang unik dengan kisah The Occupant. Mengapa? Oleh karena kisahnya memiliki beberapa kemiripan dengan Parasite. Film masterpiece produksi Korea Selatan peraih Piala Oscar kategori film terbaik di awal tahun ini.

Alkisah, Javier Munoz yang tengah di puncak karirnya mendadak menghadapi problem ekonomi besar. Ia bersama keluarganya terpaksa harus pindah dari apartemen mewahnya ke wilayah pinggiran. Di tengah tekanan mental tersebut, Javier ternyata masih belum mampu melepas kehidupan lamanya. Dengan berbekal kunci cadangan apartemen lawasnya, Javier menyusup masuk dan secara perlahan mulai memasuki kehidupan penghuni barunya yakni Tomas, seorang eksekutif muda yang sukses dan bahagia bersama istri dan putrinya.

Hmm.. Parasite? Tentu kisahnya berbeda jauh, namun The Occupant memiliki elemen psikologis yang lebih dalam, ketimbang Parasite dengan “black comedy”-nya. Satu kunci utamanya adalah sang bintang utama, Javier Gutierrez, yang bermain sangat mengesankan sebagai Javier Munoz. Sang aktor, layaknya sosok Joker, mampu menampilkan dua sisi koin berbeda melalui ekspresi wajahnya yang kalem dan dingin. Sangat mengagumkan, bagaimana, sang aktor mampu membuat kita bersimpati sekaligus memuakkan di saat yang bersamaan. Kisahnya memang mendukung performa sang bintang untuk mengeluarkan penampilan terbaiknya. Begitu intens, menegangkan, dan tiap momen penuh dengan kejutan.

Baca Juga  Mortal Kombat Legends: Scorpion’s Revenge

Di luar penampilan brilian sang aktor dan sisi thriler yang intens, kepiawaian duo sineasnya dalam mengemas sisi visualnya juga tak bisa dianggap remeh. Sisi sinematografi memang menjadi satu kekuatan utamanya, di mana kedalaman gambar (foreground dan background) sering kali digunakan menjadi penekanan shot-nya. Satu adegan brilian disajikan ketika Javier dan Tomas berada di bar, dan sineas menggunakan efek pantulan cermin ketika mereka berdialog. Shot-shot dengan komposisi apik berisi motif, beberapa kali pula digunakan. Satu contohnya, terdapat di penutup film, yang bisa kita maknai sebagai shotthe broken man”.

The Occupant adalah drama thriller berkelas dengan penampilan mengagumkan dari sang aktor utama serta kepiawaian duo sineasnya dalam mengemas visualnya. Film ini mampu menggambarkan dengan baik, bagaimana tekanan sosial dan mental yang sedemikian hebat mampu merubah nurani seseorang. Walaupun begitu, masih terdapat beberapa kelemahan dalam kisahnya. Untuk penikmat film sejati, kisahnya tidak sulit untuk diantisipasi arahnya, sekalipun prosesnya harus diakui memang amat intens. Lalu, satu hal yang mengganjal, kita tak memahami benar latar belakang psikologis sang tokoh, jika Javier memang sejenius itu dan mampu memiliki skenario beberapa langkah ke depan, bagaimana ia bisa terjebak dalam situasi sulit di awal? Sebagai pemula, rasanya mustahil membuat rencana sedemikian terukur tanpa cacat seperti itu. So, jika membandingkannya dengan Parasite, mana yang lebih baik? Setelah menonton, kalian bisa menjawabnya sendiri.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaMotel Acacia
Artikel BerikutnyaThe Blackout
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.