The Old Guard adalah film aksi fantasi produksi Netflix arahan Gina Prince-Bithewoods. Film ini diadaptasi dari komik berjudul sama karya Greg Rucka yang juga menulis naskahnya. Film ini dibintangi oleh beberapa bintang kenamaan, seperti Charlize Theron, Chiwetel Eijofor, bersama Kiky Layne, Marwan Kenzary, serta Luca Marinelli.

Di tengah-tengah umat manusia ternyata terdapat sekelompok kecil manusia yang mampu hidup abadi. Mereka yang dinamakan The Old Guard, tanpa disadari telah mengubah jalannya sejarah umat manusia selama ribuan tahun bahkan mungkin lebih. Kini, jumlah mereka bersisa hanya 4 orang yang dipimpin oleh Andy (Theron). Rupanya, kemampuan mereka untuk bisa cepat memulihkan luka, menarik perhatian satu orang pengusaha farmasi yang menginginkan penyembuh dari kutukan manusia yang menua. Sementara itu, para ksatria tersebut merasakan kehadiran seorang seperti mereka, setelah ratusan tahun mereka hanya berempat saja.

Premis yang amat menarik. Sayangnya kisahnya tak sebesar premisnya. Plotnya juga memang rada mirip Assasin Creed. Dalam film ini, kita tidak akan melihat mereka dalam misi besar untuk menyelamatkan dunia, namun hanya peralihan cerita dengan masuknya seorang anggota baru. Plotnya lebih terasa sebagai pembuka film seri ketimbang film bioskop (feature). Kisahnya pun sudah terlalu umum dan tidak sulit untuk ditebak. Sayang memang, jika dibuat dengan bujet lebih besar, rasanya bakal bisa lebih menarik. Segmen kilas balik yang ratusan hingga ribuan tahun kebelakang membuat filmnya akan terasa lebih menarik jika dibuat lebih kolosal.

Satu hal yang menarik di kisahnya adalah tidak terjebak dalam ranah superhero yang memang sudah teramat jenuh. Bayangkan, jika mereka memiliki tenaga atau aksi fisik lebih dari rata-rata manusia kebanyakan, tak akan berbeda dengan film-film superhero masa kini. Namun, faktor ini pula yang membuat segmen aksinya menjadi terlihat biasa pula. Bujet jelas menjadi penyebab.

Baca Juga  Minions

The Old Guard, tidak menjanjikan kisah besar seperti premisnya, walau aksinya menghibur, namun lebih terasa seperti film seri. Film dengan kisah mitos macam ini memang menjadi favorit saya, namun film ini tidak mampu menggali lebih dalam sisi masa lalu mereka dengan hanya penjelasan yang banyak melalui dialog. Jika memang dimaksudkan sebagai pembuka film seri, rasanya juga tidak bakal istimewa. Namun, untuk tontonan di masa-masa sulit seperti sekarang, film ini lumayan menghibur dengan variasi setting-nya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaEurovision Song Contest: The Story of Fire Saga
Artikel BerikutnyaGreyhound
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.