The Postcard Killings (2020)
104 min|Crime, Drama, Mystery, Thriller|13 Mar 2020
5.7Rating: 5.7 / 10 from 3,092 usersMetascore: 29
A New York detective investigates the death of his daughter who was murdered while on her honeymoon in London; he recruits the help of a Scandinavian journalist when other couples throughout Europe suffer a similar fate.

The Postcard Killing adalah film thriller kriminal arahan Danis Tanovic. Kisah filmnya diadaptasi dari novel laris berjudul The Postcard Killers karya novelis Swedia, Liza Marklund. Setelah diincar beberapa sineas untuk menggarap filmnya, akhirnya baru di awal tahun 2019, film ini mulai diproduksi. Beberapa bintang papan tengah akhirnya terlibat dalam produksinya, yakni Jeffrey Dean Morgan, Famke Jensen, Naomi Battrick, hingga beberapa aktor dan aktris internasional. Bicara kisahnya, film ini memang memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi sebuah thriller kriminal berkualitas.

Jacon Kanon adalah seorang detektif asal New York yang tertimpa musibah karena putrinya yang baru saja menikah dibunuh secara mengenaskan ketika berbulan madu ke London. Naluri Jacob sebagai seorang detektif membuatnya menginvestigasi kasus ini seorang diri setelah polisi setempat menolaknya bekerja sama. Jacob berkeliling Eropa untuk menelusuri jejak sang pembunuh sekaligus mencegah pembunuhan berikutnya terjadi.

Plotnya sudah terlihat menarik sekali, bukan? Faktanya memang berkata demikian. Sungguh mengejutkan, kisah sekelas ini tidak digarap oleh sineas kenamaan. Kisahnya, memang banyak mengingatkan Se7en arahan David Fincher dengan sisi ketegangan dan misteri yang seimbang. Bedanya, Postcard berlokasi di Eropa dan berskala internasional. Kita di ajak berkeliling Eropa, sejalan penyelidikan Jacob dari satu lokasi ke lokasi lain. Sangat intens dan menarik untuk diikuti. Hanya saja, sejak paruh kedua, plotnya mulai berjalan cepat dan detil kisahnya mulai terasa lepas, banyak hal yang tak mampu kita ikuti. Maklum saja, film ini hanya berdurasi 104 menit. Sementara idealnya berdurasi 2 jam lebih untuk kisah sekompleks ini. Mirip Se7en serta The Silince of the Lamb yang sulit diprediksi, kisahnya juga memiliki twist dari momen ke momen. Namun tidak seperti keduanya, Postcard memiliki ending yang kurang menggigit.

Baca Juga  Alice in Wonderland

Tak ada yang salah dengan film ini. Semua berjalan baik, hanya saja, semestinya bisa lebih dari ini. Jeffrey Dean Morgan bermain sangat baik, juga Femke Jensen, sekalipun mendapat porsi screen time lebih sedikit. Namun, aktor-aktris lain selain meraka rasanya ada yang bisa bermain lebih baik. Justru aktor Jerman, Joachim Kroll, sebagai inspektur polisi Jerman, mencuri perhatian dengan karismanya. Sementara kasting untuk sang pembunuh, jelas bisa lebih dari ini. Ini hanya masalah bujet. Mengapa studio-studio besar tak mau menggarap film ini, menjadi pertanyaan besar buat saya.

Untuk level produksinya, The Postcard Killing adalah sebuah pencapaian yang mengesankan tapi dengan sineas dan bujet yang lebih mapan, film ini punya potensi mencapai level masterpiece. Ini bukan bentuk kekecewaan, namun hanya menyayangkan. Kisah yang sedemikian baik dan potensial hanya diproduksi dengan level produksi macam ini. Andai saja, David Fincher dan Morgan Freeman terlibat dalam produksi filmnya, sepertinya bakal menjadi sesuatu yang lebih.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaScoob!
Artikel BerikutnyaMotel Acacia
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.