The Protégé (2021)
109 min|Action, Crime, Thriller|20 Aug 2021
6.1Rating: 6.1 / 10 from 41,488 usersMetascore: 48
Rescued as a child by the legendary assassin Moody, Anna is the world's most skilled contract killer. However, when Moody is brutally killed, she vows revenge for the man who taught her everything she knows.

The Protégé adalah film aksi thriller garapan sineas kawakan Martin Campbell. Campbell adalah sineas yang mengarahkan dua film James Bond, Golden Eye dan Casino Royale. Setelah film aksi spionase The Foreigner (2017), ia absen selama empat tahun. The Protégé dibintangi beberapa aktor kawakan, Samuel L. Jackson, Michael Keaton, serta Maggie Q. Tema agen rahasia atau pembunuh bayaran memang tidak asing bagi sang sineas yang dikenal sebagai spesialis aksi, The Protégé apakah mampu menjadi salah satu karya terbaiknya?

Anna (Q) adalah putri asuh dari seorang pembunuh bayaran kawakan, Moody Dutton (Jackson) yang diadopsi sejak ia kecil. Anna dilatih menjadi seorang pembunuh bayaran yang tangguh selevel ayahnya. Suatu hari, Moody meminta tolong Anna untuk membantu menginvestigasi klien lamanya, Edward Haze yang terbunuh 30 tahun silam. Aksi ini membawa semua orang yang terlibat dibunuh secara brutal, termasuk Anna sendiri yang berhasil lolos dari maut. Anna bertekad mencari orang yang bertanggung jawab membunuh rekan dan ayah angkatnya dengan pergi ke negara asalnya, Vietnam. Seorang pria misterius, Michael Rembrand (Keaton) membayangi setiap gerak-gerik Anna, yang ternyata bekerja di bawah seseorang yang terkait dengan orang yang dicari Anna.

Film ini memang tidak mudah diikuti kisahnya karena banyaknya intrik plot dan motivasi cerita yang tak jelas. Film yang berpremis sederhana di awal ini, berubah menjadi satu kisah rumit yang penuh tanda tanya. Hingga akhir cerita pun, jujur saya tidak 100%  memahami alur plotnya. Apa yang sebenarnya dicari Moody hingga menyelidiki sosok Edward Haze? Semata untuk penebusan dosa? Kita hanya tahu, arah cerita melalui motivasi aksi yang dilakukan Anna, yang semata hanya ingin membalas dendam. Satu pihak tidak menghendaki ini terus berlanjut, sementara Anna, aksinya sudah tidak mampu untuk dicegah.

Baca Juga  Brahms: The Boy II

Sosok Rembrandt adalah satu sosok menarik karena diperankan oleh Keaton yang selama ini nyaris tidak pernah bermain dalam peran tangguh seperti ini. Akhirnya kita bisa melihat sang “Batman” unjuk kebolehan dalam beradegan aksi perkelahian. Chemistry dan tarik ulur antara tokoh ini dengan Anna begitu memikat mampu membuat kita penasaran. Satu perkelahiannya dengan Anna adalah salah satu yang terbaik di genrenya. Sementara Sam Jackson sendiri seperti biasa bermain dalam peran tipikalnya yang kali ini tampil kurang menggigit. Maggie Q jelas adalah bintangnya Kemampuannya berolah fisik tidak diragukan sejak lama, dan kini ia sejajar dengan para “asassin” perempuan tangguh yang ada dalam medium film.

The Protégé menampilkan kisah sedikit rumit dengan sekuen aksi perkelahian yang mengagumkan melalui penampilan para kasting bintangnya. Campbell rupanya masih belum kehilangan pamor dalam menyajikan adegan-adegan aksi menegangkan yang menjadi andalannya, walau bujet tentu tidak sekelas Bond. Sekuel? Rasanya punya potensi menjanjikan. Untuk penikmat genre aksi dan assasin, The Protégé sama sekali tidak boleh dilewatkan.

The Protégé menampilkan kisah kompleks dengan sekuen aksi perkelahian yang mengagumkan melalui penampilan para kasting bintangnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Girl Who Got Away
Artikel BerikutnyaPengambilan Keputusan Dewan Juri FFWI XI Diprediksi Bakal Seru
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses