The Sea Beast (2022)
115 min|Animation, Action, Adventure|08 Jul 2022
7.0Rating: 7.0 / 10 from 58,790 usersMetascore: 74
When a young girl stows away on the ship of a legendary sea monster hunter, they launch an epic journey into uncharted waters - and make history to boot.

Netflix melalui studio animasinya, Netflix Animation, kini kembali merilis film animasi melalui The Sea Beast. Film fantasi ini diarahkan oleh Chris Williams, yang pernah terlibat dalam produksi film animasi Walt Disney Studios, macam Big Heroes Six, Moana, dan Frozen. Film berdurasi 2 jam ini diisi suara oleh Karl Urban, Jared Harris, Dan Steven, serta Zaris-Angel Hator. Setelah sukses dengan Apollo 10 1⁄2: A Space Age Childhood tahun lalu, kini apa lagi yang ditawarkan Netflix untuk bersaing dengan film-film animasi besar pesaingnya?

Di sebuah negeri antah berantah, telah ratusan tahun para monster raksasa laut berseteru dengan manusia. Kerajaan mengutus para pelaut terbaiknya untuk membunuh para monster. Salah satunya adalah Kapten Crow (Haris) bersama anak buah dan suksesor mudanya, Jacob (Urban). Satu incaran terbesar sang kapten adalah si monster merah yang terkuat di antara semuanya. Suatu ketika, gadis cilik bernama Maisie (Hator) menyelundup ke atas kapal, dan sang kapten pun mau tak mau menerimanya. Tak lama, pertarungan dengan sang monster merah pun tak terhindarkan. Dalam satu momen, Jacob dan Maisie yang masuk ke dalam perut sang monster di bawa ke pulau tempat asalnya. Berjalannya waktu, Jacob dan Maisie pun menyadari bahwa ternyata monster merah berniat menolong mereka, dan semua prasangka buruk terhadap para monster adalah satu propoganda besar.

Baca Juga  The Grudge

Untuk kisah besarnya, The Sea Beast memang banyak mengingatkan pada cerita How to Train Your Dragon (2010) serta Smallfoot (2018). Your Dragon menyajikan perseteruan abadi antara naga vs manusia yang memiliki kisah drama yang amat menyentuh. Sementara Smallfoot merupakan kisah cerdas tentang propoganda monster tentang umat manusia. The Sea Beast pun, walau tak memiliki kompleksitas dan kedalaman Train Your Dragon maupun Smallfoot, dengan caranya mampu menuturkan kisah menarik dengan setting yang dominan di lautan.

Maisie adalah tokoh kunci yang menyeimbangkan kisahnya melalui chemistry hangatnya dengan sang monster. Sementara sosok karismatik Kapten Crow menjadi sosok antagonis yang mencuri perhatian kita sepanjang film. Posisi Jacob berdiri di antara keduanya. Saling silang antara sisi terang dan gelap ini yang membuat kisahnya menarik. Adegan klimaksnya yang menyentuh pun menjadi segmen terbaik filmnya.

Walau konsep dan idenya berada pada teritorial familiar, The Sea Beast memiliki kisah monster unik yang menyentuh, hanya saja pencapaian visualnya bisa jadi menghambat untuk bersaing dengan film berkualitas garapan studio besar. Walau tak buruk, sisi visual animasinya adalah titik lemah film ini yang terasa inferior jika dibandingkan dengan film-film produksi Pixar Studio, Walt Disney Animation maupun Dreamworks Animation. Ditilik dari pengalaman sang sineas, wajar jika gaya animasinya cenderung ke film-film karya Walt Disney Animation. Jika berbenah dengan segera, film animasi Netflix bakal bersaing kuat dalam ajang bergengsi sekelas Academy Awards. Tinggal menunggu waktu.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMan vs. Bee
Artikel BerikutnyaMs. Marvel
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.