Kalau kamu berkesempatan pulang ke Indonesia di tengah kesibukanmu berkarir di luar negeri, apa yang akan kamu lakukan? Bambang Drias menyediakan salah satu opsi jawaban melalui film arahannya, The Secret 2: Mystery of Villa 666. Dengan Yaseer Alghazali sebagai penulis skenarionya, film horor produksi RA Pictures ini diperankan oleh Dara The Virgin, Laura Theux, Metta Permadi, Aliyah Faizah, Al Ghazali, serta aktor dengan ciri khas peran sebagai sosok misterius, Egy Fedly. RA Pictures jugalah yang memproduksi The Secret: Suster Ngesot Urban Legend, dengan banyak sekali mendapat ulasan negatif karena cerita yang malah melebar. Mungkinkah perusahaan ini mengulang kesalahan yang sama dalam film ini? Selain itu, apakah kemunculan nama sang penulis yang masih sangat asing mampu membuahkan hasil yang cukup memuaskan?

Nina (Aliyah Faizah), Cherry (Laura Theux), Wynee (Dara The Virgin), dan Wulan (Metta Permadi) merupakan sahabat lama yang telah sukses berkarir dalam bidang masing-masing. Mereka berempat akhirnya dapat bertemu dan berkumpul kembali, saat Nina berkesempatan pulang ke Indonesia. Dengan waktu libur yang hanya tersedia satu pekan, Nina pun mengajak ketiga sahabatnya untuk menginap di villa milik keluarganya. Sebuah kebetulan karena villa tersebut menyimpan kenangan atas tragedi yang dialami oleh pemiliknya yang lama, serta kisah masa lalu dari keempat sahabat tersebut. Bersama dengan dua rahasia yang tersembunyi itu, seorang penjaga villa yang dipercaya oleh keluarga Nina, Mang Ujang (Egy Fedly), dan sesosok hantu anak kecil, mereka berempat mengalami sejumlah kejadian ganjil sejak hari pertama menempati villa bernomor 666 itu.

The Secret 2: Mystery of Villa 666 –tak diragukan lagi—cuma menjajakan rentetan kejadian aneh yang selalu tiba-tiba terjadi, dengan sisi misteri yang sangat dipaksakan. Film ini benar-benar sebuah karya yang buruk. Bahkan ketimbang film horor lain dengan kualitas di bawah standar, The Secret 2: Mystery of Villa 666 masih lebih buruk lagi. Entah apa yang dipikirkan oleh para sineas film ini –terutama sang penulis yang masih baru tersebut, sehingga hasil akhirnya menjadi sedemikian buruk. Ternyata RA Pictures tak belajar dari pengalamannya memproduksi The Secret: Suster Ngesot Urban Legend.

Ketika menonton film ini, kamu bahkan tak perlu duduk tenang dan menikmatinya secara lengkap dari awal hingga akhir. The Secret 2: Mystery of Villa 666 dapat langsung mudah dimengerti cukup dengan menonton separuh akhirnya saja. Mempercepat sesi menontonnya dengan melewati beberapa adegan dari awal juga takkan mengurangi pemahaman terhadap film ini. Intinya, The Secret 2: Mystery of Villa 666 hanya menjual momen-momen penutupan sejumlah informasi agar “seolah-olah” misterius ala-ala film horor, kejadian aneh yang sangat dipaksakan untuk memberi kesan “horor”, serta –lagi-lagi—memasukkan unsur seks sebagai pemicu masalah. Tidakkah ini mengingatkanmu pada masa lalu film horor Tanah Air?

Baca Juga  Orang Kaya Baru

Akting para pemainnya –yang berisi sekumpulan wajah good looking—pun benar-benar seadanya. Modal good looking tanpa kemampuan akting. Semua kejadian diverbalkan. Banyak sekali interaksi berdialog yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Barangkali hanya beberapa bagian saja yang bisa menaikkan nilai film ini. Namun, itu pun hanya berupa titik-titik kecil. Sangat sedikit yang dapat dengan layak diapresiasi dari film ini. Salah satunya seperti kehadiran Egy Fedly yang memang telah lama berkecimpung dalam keaktoran. Tetapi, apakah hanya dengan menampilkannya lantas menjadikan film ini bagus? Tentu saja tidak.

Tampaknya sineas The Secret 2: Mystery of Villa 666 terlalu meremehkan aspek-aspek dari genre horor, dan menyederhanakannya sebatas “kumpulan” peristiwa mistis, momen misterius, backsound menegangkan, kejadian aneh yang tiba-tiba muncul, serta hilangnya beberapa orang. Seolah bila poin-poin tersebut sudah ada, maka filmnya dijamin bagus. Jelas itu tidak mungkin!

Kausalitas antara tiap-tiap potongan adegan pun kasar dan terus melompat-lompat. Bahkan ada banyak yang tidak terjelaskan dengan baik. Seperti keterkaitan antara kejadian yang ditunjukkan pada bagian opening. Fokus utama cerita malah melebar ke mana-mana. Alih-alih kejadian horor, film ini malah berpindah ke cerita balas dendam. Adapun penampakan hantu –agar filmnya masih memiliki ciri-ciri horor—juga tidak beralasan. Pada akhirnya, The Secret 2: Mystery of Villa 666 sekadar mencampurkan sejumlah aspek “yang dikiranya” sudah mewakili film horor, padahal masih sangat kurang.

The Secret 2: Mystery of Villa 666, tidak lain menambahkan dirinya cuma sebagai noda semata dalam daftar panjang film horor dalam negeri. Tidak ada kedalaman cerita sama sekali. Judulnya pun tak punya korelasi yang jelas dengan cerita dalam film. Apa hubungan antara angka 666 sebagai nomor bangunan, kejadian pada bagian opening, foto pemilik villa yang lama, “misteri”, penampakan hantu, dan masa lalu keempat tokoh yang bersahabat itu? Seperti inikah efek samping pandemi bagi kualitas produksi film horor di Indonesia? Apakah tidak ada lagi film horor terbaru yang –minimal—memiliki aspek naratif yang konsisten? Setidaknya inilah “sebagian kecil” di antara tumpukan pertanyaan yang tak benar-benar terjawab dalam 1 jam 11 menit durasi film.

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaSabar ini Ujian
Artikel BerikutnyaPersahabatan Bagai Kepompong
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.