The Suicide Squad (2021)
132 min|Action, Adventure, Comedy|05 Aug 2021
7.2Rating: 7.2 / 10 from 414,638 usersMetascore: 72
Supervillains Harley Quinn, Bloodsport, Peacemaker, and a collection of nutty cons at Belle Reve prison join the super-secret, super-shady Task Force X as they are dropped off at the remote, enemy-infused island of Corto Maltese.

The Suicide Squad adalah sekuel dari Suicide Squad (2016), yang kini digarap dan ditulis oleh James Gunn. Perang antara Gunn vs Disney/Marvel yang dulu sempat ramai, mengakibatkan Gunn akhirnya menggarap proyek ini. Film raksasa berdurasi USD 185 juta ini merupakan seri ke-10 dari DC Extended Universe (DCEU). Film ini dibintangi beberapa kasting regulernya dari seri pertama, antara lain Margot Robbie, Viola Davis, Joel Kinnaman, serta pendatang baru, Idris Elba, John Cena, serta Silvester Stallone (vokal).

Singkatnya, The Suicide Squad yang kini dipimpin oleh Bloodsport (Elba) kini harus menyusup ke laboratorium Starfish di wilayah Corto Maltese yang percobaan ilmiahnya dianggap dapat membahayakan AS dan umat manusia. Di lain pihak, penggulingan kekuasan (kudeta militer) yang terjadi di sana membuat misi mereka tidak lebih mudah untuk dirampungkan.

Suicide Squad yang dulu dianggap sebagai sebuah lelucon, kini tentu tidak memberikan ekspektasi yang tinggi, dan ternyata benar! Sekuelnya, kini bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Satu kelemahan yang mencolok adalah naskahnya yang absurd dan tak masuk akal. Film ini sepertinya sejak awal memang dirancang murni sebagai film komedi menghibur yang anti nalar. Ini membuat kisahnya tidak pernah terlihat serius sepanjang film sehingga empati terhadap semua karakternya nyaris nol. Bahkan sosok Harley yang sudah kita kenal baik (dua film), seolah tidak lagi kita kenal, dan karakternya terasa hanya sebagai tempelan.

Baca Juga  Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald

Harus diakui, Gunn memang memberi sentuhan yang berbeda dari seri pertamanya. Ia membuat film ini menjadi “The Guardian of the Galaxy” versi DCEU. Sisi humor dan selorohan konyol mendominasi dialog, serta lantunan lagu nyaris muncul dalam tiap adegannya. Dari sisi naskah (yang ia tulis), seperti halnya Birds of Prey, film ini bermain-main dengan waktu, seperti di segmen pembuka. Gunn juga membuat babak dalam tiap segmennya yang secara unik dituliskan dengan gaya komik serta “tone” gambar film lawas. Lantas apakah sentuhan Gunn membuat film ini lebih baik? Dengan naskah yang begitu absurd dan terlihat main-main, bagi saya tidak.

Segmen aksi tentu adalah yang paling diharapkan para fansnya. Bisa dibilang, tak ada satu pun sekuen aksi yang membekas dan CGI pun terlihat begitu buruknya. Naskahnya yang tak serius menyebabkan aksinya tidak terasa intens, tak pernah ada ancaman berarti, nihil sisi ketegangan. Nyawa juga seolah tak ada harganya dalam film ini. Saya hanya terbengong dalam satu momen melihat dua sosok utama saling show off membunuh “musuh-musuhnya” yang ternyata salah sasaran. Hah?! Lalu segmen pamungkas, The Suicide Squad vs Kaiju semakin melengkapi leluconnya.

The Suicide Squad? What a joke! Saya tidak pernah habis pikir, bagaimana ini semua bisa terjadi untuk film-film sebesar ini (DCEU). Pencapaian naskah DCEU selama ini tidak pernah konsisten. Tahun lalu, Birds of Prey naskahnya disajikan begitu segar melalui permainan waktunya serta penampilan sang bintang yang penuh karisma. Berikutnya, WW84 lagi-lagi naskahnya disajikan begitu konyol dan tak masuk akal. Sudah saatnya, DCEU merombak konsepnya, dan film-film animasi home video-nya (terakhir, Batman: The Long Halloween) sudah memberikan sampel yang sangat baik. Masih mau melawan Marvel Cinematic Universe (MCU)?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaMimi
Artikel BerikutnyaBumi itu Bulat
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Mau melawan MCU yang sudah menginjak ke saga kedua dengan kisah-kisah serialnya yang makin briliant?! Serasa ngos-ngosan DCEU mengejar ketertinggalannya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.