The Tinder Swindler adalah film dokumenter unik rilisan Netflix arahan Felicity Morris. Film yang didasarkan kejadian sungguhan ini berkisah tentang seorang pria penipu yang memangsa para korbannya melalui aplikasi jodoh, Tinder. Dengan berkedok seorang putera bilyuner, sang penipu dengan karismanya membawa para korban masuk dalam kehidupan mewah bak raja. Tidak hingga kemudian, rupanya ia hanya memanfaatkan mereka untuk keuntungan pribadinya.

Bicara soal konten pasti bakal panjang dengan diskusi yang tak ada habisnya. Di lain sisi, film dokumenter ini amat menarik dibahas melalui penuturan dan pendekatan estetiknya. Langsung dibuka dengan interview para korban, film ini langsung memancing rasa penasaran dan memaksa kita untuk terus menonton hingga akhir.

Bertutur demikian gamblang dan sederhana, film ini menggunakan berbagai teknik untuk mengiringi narasinya yang didominasi wawancara. Satu adalah rekonstruksi adegan yang disajikan dengan elegan serta komposisi sinematografi yang sangat baik. Serangkaian shot dengan gaya unik inilah yang membuat filmnya tidak membosankan. Dua adalah sajian teks salinan chat atau rekaman suara asli yang semakin mempertegas realita kisah sekaligus menaikkan intensitas drama. Tiga adalah penggunaan gambar atau footage asli dari rekaman video, gambar, atau dokumentasi surat kabar. Ketiganya mampu disulam secara apik melalui teknik editing berkelas membangun satu runtutan cerita yang intens dan enak untuk diikuti.

Uniknya pula, film dokumenter ini dituturkan dalam situasi “real time”. Real time? Ini saya maksudkan karena sewaktu filmnya diproduksi (momen wawancara), situasi dalam kisahnya masih berjalan dan belum berakhir. Ini pula yang menjadikan ending-nya terasa antiklimaks. Crime doesn’t pay. Ini tentu memancing berbagai pertanyaan, bagaimana ini bisa terjadi? Satu aksi balas dendam terasa begitu melegakan, namun tidak untuk para korban lainnya. Lalu untuk apa film dokumenter ini dibuat? Untuk sang penipu, para korban, penegak hukum, atau kita calon korban berikutnya? Jawaban bisa beragam dari perspektif yang berbeda.

Baca Juga  Turning Red

Tinder Swindler sebuah sajian dokumenter menarik dengan kombinasi unik sisi investigasi, beragam sudut interview serta pendekatan estetik yang elegan. Pro dan kontra rasanya bakal menyelimuti film ini. Bakal ada yang merasa bersimpati dengan korbannya atau bisa pula sebaliknya. Bagaimana pula para korban bisa demikian mudahnya percaya dengan sang penipu? Satu korban ada yang berucap, “situasi impian seperti ini hanya ada di film”. Tidakkah pernah mendengar istilah “too good to be true”? Sering kali perasaan memang mengalahkan logika dan realita. Teknologi bak pisau bermata dua. Ini seperti lingkaran setan yang tidak pernah berakhir.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaEnam Batang
Artikel BerikutnyaKukira Kau Rumah
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.