The Tomorrow War (2021)
138 min|Action, Adventure, Drama|02 Jul 2021
6.6Rating: 6.6 / 10 from 228,136 usersMetascore: 45
A family man is drafted to fight in a future war where the fate of humanity relies on his ability to confront the past.

The Tomorrow War adalah satu lagi korban pandemi yang kini masih menghantui umat manusia. Film berbujet US$ 200 juta ini yang seharusnya rilis di teater kini hanya bernasib tayang di platform Amazon Prime Video. Sayang sekali. Film ini diarahkan oleh sineas debutan Chris McKay dengan beberapa bintang besar, Chris Pratt, J.K. Simmons, serta Betty Gilpin dan Yyvonne Strahovsky. Dari puluhan film invasi alien sejenis, di mana posisi film ini?

Dalam satu momen piala dunia sepakbola yang disiarkan langsung di seluruh dunia. Warga bumi dikagetkan oleh kemunculan sejumlah orang yang berasal dari masa depan (tahun 2051) untuk mengajak memerangi alien yang bakal memusnahkan umat manusia. Setelah ini, secara berkala umat manusia masa sekarang dikirim ke masa depan. Itu pun belum menunjukkan hasil yang signifikan dengan jumlah korban yang semakin bertambah. Dan Forrester (Pratt) adalah seorang eks pasukan militer khusus, seorang ayah dan guru science, mendapat giliran untuk bertempur di masa depan. Di sana, Dan melihat nasib umat manusia yang sudah diujung tanduk serta sebuah kejutan yang dapat merubah semuanya.

Untuk temanya, film ini nyaris tak ada bedanya dengan plot film sejenis, kecuali permainan waktu. Time travel menjadi sisi penyegar di sini, walau memiliki argumen yang tak jelas. Argumen ilmiah sudah terlontar, namun terasa masih minim dan memaksa. Tigapuluh tahun berselang juga terasa tidak ada perbedaan teknologi yang signifikan. Pesawat tempur, helikopter, senjata api, bahkan bangunan masih sama serupa dengan masa kini. Bisa saja memang, namun terasa janggal mengingat lompatan waktu sejauh itu. Dua puluh tahun yang lalu, video call saja belum dimungkinkan, kini siapa pun bisa melakukannya dengan handphone murah sekali pun.

Baca Juga  The Spy Who Dumped Me

Untuk aksi dan efek visualnya, memang jauh dari buruk mengingat bujetnya. Aksi-aksi dalam film ini mengingatkan banyak dengan Starship Trooper dan World War Z. Aksi dan ketegangannya pun disajikan amat lumayan. Satu adegan menegangkan yang menjadi favorit saya adalah di tangga darurat bangunan gedung. Film berdurasi panjang 138 menit ini pun juga menyisakan satu segmen aksi di masa sekarang yang lumayan mengejutkan, mirip dengan Alien vs. Predator. Walau film aksi, namun performa kastingnya juga mendukung sisipan drama ayah-anak yang berbeda generasi. Bukan Pratt, tapi adalah Simmons dan Strahovsky yang mencuri perhatian.

Walau motif premisnya dan sisi logika terasa janggal, The Tomorrow War adalah aksi sci-fi bertema invasi alien yang menghibur dan menegangkan. The Tomorrow War memang sayang kita lewatkan jika tak ditonton di teater karena gambar dan tata suara tentunya. Walau begitu, fans genre sci-fi dijamin tak akan mungkin kecewa. Satu hal yang menarik, film ini juga menyisipkan banyak isu dan sisi humanis yang relevan dengan situasi kita sekarang, seperti keluarga, survive, politik, hingga pemanasan global. Pandemi bisa jadi adalah “alien” yang memang menanti umat manusia yang serakah dan mengeksplorasi bumi semaunya untuk memberi pelajaran pada kita di momen yang tepat.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMare of Easttown
Artikel BerikutnyaTill Death
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.