The Way Back (2020)
108 min|Drama, Sport|06 Mar 2020
6.7Rating: 6.7 / 10 from 53,237 usersMetascore: 66
Jack Cunningham was a high school basketball phenom who walked away from the game, forfeiting his future. Years later, when he reluctantly accepts a coaching job at his alma mater, he may get one last shot at redemption.

The Way Back adalah film drama olahraga arahan sineas Gavin O’Connor. Gavin sebelumnya pernah mengarahkan film bergenre sejenis, melalui Miracle serta salah satu film olahraga terbaik di era modern, Warrior. Gavin kini berkolaborasi kembali bersama aktor bintang, Ben Affleck, setelah sebelumnya juga bermain dalam film aksi thriller berkelas The Accountant. Kini setelah ia kembali ke genre favoritnya, lalu apa yang ditawarkan sang sineas?

Jack Cunningham (Affleck) adalah seorang pekerja bangunan yang kini hidup sendiri dan dekat dengan alkohol untuk mengatasi stresnya. Suatu ketika, Jack dihubungi bekas SMU Katoliknya, Hayes, untuk melatih tim basket di sana. Jack dulu adalah pemain terbaik di sekolah ini dan tim terakhir yang mampu lolos ke babak play-off. Jack pun akhirnya menyanggupi. Tim yang dilatih Jack, secara bertahap mulai menunjukkan hasil, namun di saat bersamaan sang pelatih rupanya masih belum bisa lepas dari kebiasaan lamanya.

Sedikit mengejutkan karena kisah film ini rupanya tidak diinspirasi dari kisah nyata. Sama seperti halnya Warrior, namun di film ini sang sineas tidak menulis naskahnya. Film olahraga lazimnya adalah film yang kisahnya menginspirasi dan menyentuh, kisah sebuah tim atau pemain underdog berjuang menuju kegemilangan. Penonton bakal mudah menebak hasil akhirnya dan proses adalah faktor terpenting bagi genre ini. Inti kisah The Way Back pun kurang lebih sama, hanya saja kali ini temanya memang sedikit suram dan alurnya terasa datar untuk genrenya. Penonton tidak pernah dekat dengan sosok lain selain sang pelatih. Ini yang membuat kisahnya tak biasa sejak awal. Penonton dibuat jengah dengan sosok Jack yang tak kapok berulah. Kekuatan filmnya memang justru ada di sini, performa sang aktor. Affleck bermain sangat baik sebagai sosok Jack. Saking baiknya hingga kita pun seolah ingin meninju wajahnya.

Baca Juga  Frozen 2

The Way Back sedikit berbeda dari tipikal plot genrenya yang lazimnya menekankan pada kegemilangan satu tim atau seseorang, namun justru pada sisi gelap karakter tokoh utama yang dimainkan baik oleh sang aktor. Bagi penikmat film yang mengharapkan kisah menghibur dan seru, film ini tidak menawarkan ini, kecuali beberapa momen kecil yang disajikan baik oleh sang sineas. Warrior jauh lebih menghibur dari ini. Naskah The Way Back memang menawarkan sesuatu yang berbeda, namun untuk tayangan komersial, film ini rasanya bakal sulit bersaing karena hanya menekankan sisi drama. Apakah Jack bakal berubah? Kadang dalam hidup, sesuatu tidak bisa sesuai rencana, satu pukulan bisa membuatmu jatuh untuk selamanya. Film ini tidak mengajarkan kamu untuk bisa lepas dari trauma pukulan itu, namun untuk hidup berdamai dengannya.

Stay Healthy and safe!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek mOntase: The Sacred of Kudus
Artikel BerikutnyaThe Platform
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.