Those Who Wish Me Dead (2021)
100 min|Action, Drama, Thriller|14 May 2021
6.0Rating: 6.0 / 10 from 72,067 usersMetascore: 59
A teenage murder witness finds himself pursued by twin assassins in the Montana wilderness with a survival expert tasked with protecting him -- and a forest fire threatening to consume them all.

Those Who Wish Me Dead adalah film aksi-bencana arahan Taylor Sheridan yang menggarap film-film berkelas, Hell or High Water dan Wind River. Kastingnya pun tak main-main, ada Angelina Jolie, Nicholas Hoult, John Bernthal, Aiden Gillen, hingga Tyler Perry. Film ini dirilis secara bersamaan di teater dan streaming melalui platform HBO Max. Dengan kasting besarnya dan kepiawaian sang sineas, seberapa istimewakah film ini?

Hannah (Jolie) adalah seorang petugas pemadam kebakaran hutan tangguh yang trauma akibat tak mampu menyelamatkan satu rombongan anak-anak di satu kebakaran hutan beberapa tahun lalu. Di tempat lain, Owen percaya bahwa atasannya dibunuh karena memiliki bukti yang akan menjatuhkan satu agensi pemerintah. Dengan membawa putranya, Connor, Ia pun dikejar dua pembunuh profesional, Blakwell Bersaudaha (Gillen & Hoult) hingga sang ayah tewas dibunuh di tengah hutan wilayah Montana. Connor pun bisa lolos dengan membawa berkas bukti milik ayahnya. Hannah yang tak sengaja bertemu Connor, berusaha menyelamatkan sang bocah dari kejaran dua pembunuh serta sekaligus kebakaran hutan yang tengah melanda.

Plotnya adalah standar kisah thriller dengan sedikit kejutan yang tak sulit diantisipasi sejak awal. Aksi “cat & mouse” dengan latar kisah kebakaran hutan boleh jadi memang menyegarkan, namun kisahnya tergolong datar karena tak ada intensitas ketegangan yang cukup untuk memancing adrenalin penonton. Jika menggunakan pendekatan drama pun, yang menjadi spesialisasi sang sineas, masih terasa tanggung. Seperti dua filmnya di atas, Sheridan berusaha memasukkan sisi humanis (drama) para tokohnya, namun lupa untuk membangun ketegangan oleh karena tak ada ancaman yang menggigit sepanjang filmnya. Dua sosok pembunuh sadis, Jack dan Patrick, sejak awal sebenarnya sudah mampu dicitrakan baik, hanya saja karakter mereka semakin melunak berjalannya cerita.

Baca Juga  The Banshees of Inisherin

Untuk bintang sekelas Angie, kisahnya jelas terlalu lemah dan tak mampu menampilkan image tangguh sang karakter. Penampilannya kurang menggugah dan tidak mampu menampilkan transisi perubahan karakter yang cukup untuk terlihat telah lepas dari traumanya. Perannya jelas kurang menggigit untuk dimainkan bintang sekelas Angie. Dua sosok yang mencuri perhatian dan bermain impresif justru adalah si kecil Connor yang dimainkan oleh Finn Little dan istri sang sheriff, Medina Senghore. Untuk aktor sekelas Nicholas Hoult, tak jelas mengapa ia mau bermain dalam peran yang jauh di bawah level kemampuan aktingnya.

Kasting besar untuk kisah medioker, Those Who Wish Me Dead, sudah keliru sejak penggunaan titelnya. Untuk genrenya, menyisipkan plot thriller macam ini sudah bukan hal baru, contoh saja The Hurricane Heist atau Force of Nature. Sedihnya, motivasi bencana di sini adalah karena ulah manusianya sendiri. Sebagai film komersil, dua film “medioker” di atas jauh lebih menghibur ketimbang Wish Me Dead. Kisahnya memang tak buruk-buruk amat, begitu pun pencapaian teknisnya, hanya saja tak ada greget untuk standar kualitas pemain dan sutradaranya, alias tanggung.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaTarian Lengger Maut
Artikel BerikutnyaArmy of the Dead
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.