Time to Hunt adalah film thriller kriminal produksi Korea Selatan garapan Yoon Sun-hyun. Film ini dirilis oleh Netflix beberapa hari yang lalu. Film ini dibintangi oleh Lee Je-hoon, Ahn Jae Hong, Choi Woo-shik, serta Park Hae-soo. Film ini memulai rilisnya secara istimewa di 70th Berlin Internasional Film Festival yang merupakan debut pertama film Korea Selatan di ajang ini. Kita tahu posisi sinema Korea Selatan saat ini, Time to Hunt masih ada di jalur yang benar, setidaknya secara teknis.

Filmnya berlatar pada masa distopia di mana Korea Selatan digambarkan telah hancur ekonominya karena mata uang mereka jatuh. Kemiskinan dan kriminal pun merajalela. Jun, yang baru saja keluar dari penjara kaget dengan realita yang terjadi. Lelah dengan situasinya sekarang, Jun pun lalu mengajak dua sahabatnya untuk melakukan perampokan di sebuah bandar judi besar di kota. One last heist. Dua rekannya dengan berat hati, akhirnya menyetujui, namun bukan perampokan yang menjadi masalah buat mereka tapi adalah apa yang menanti setelahnya.

Kisahnya sejak awal memang sudah menjanjikan sesuatu yang menarik. Didukung setting kota yang luar biasa sempurna untuk kisahnya serta kematangan teknis dari semua pengadeganannnya. Kamera, lighting, editing, semuanya, tak ada cacat sedikit pun dari sisi ini. Adegan-adegan aksinya, sungguh luar biasa, dan lagi-lagi setting yang demikian hebat menjadi saksi kepiawaian sang sineas dalam mengemas adegan aksinya. Satu adegan aksi di lantai parkir basement serta di rumah sakit, disajikan demikian intens dan menegangkan. Nyaris sempurna dan jauh di atas film-film pesaingnya yang diproduksi jauh di seberang sana.

Namun, sayangnya ritme ketegangan yang sudah dibangun demikian baik, justru dihancurkan sendiri oleh naskahnya. Dialog-dialog sentimentil seringkali disajikan terlalu berlebihan sehingga mematikan tensi ketegangannya. Saya sampai gemas menonton ketika tokoh-tokohnya mengabaikan urgensi situasi yang tengah terjadi. Sang pembunuh jelas-jelas sangat profesional dan mereka bukan tandingannya. Sang pembunuh bagai kucing yang memburu tikus-tikus amatiran yang dengan mudahnya ia permainkan. Agak janggal juga, buat apa si pembunuh melakukan itu semua? Membuang waktu dan tenaga, dan tak ada keuntungan materi, selain hanya kepuasan batin. Setidaknya, ada sedikit argumen kecil untuk menjelaskan ini.

Baca Juga  Kekuatan Perempuan dalam Mulan

Dengan pencapaian teknis yang sangat matang, Time to Hunt dikecewakan sisi sentimental berlebihan yang justru menghancurkan ritme ketegangan aksinya. Perasaan campur aduk ketika menonton film ini, satu hal disajikan begitu istimewa, namun di sisi lain begitu mengecewakan. Gaya film produksi Korea Selatan memang seringkali seperti ini dengan mengedepankan sisi dramatik yang dikemas untuk menguras emosi penonton. Adegan drama menyentuh bisa disajikan dalam momen yang singkat tanpa perlu banyak latar cerita. Bisa jadi ini kekuatan, bisa jadi pula kelemahan. Bukankah disayangkan jika superioritas teknis yang disajikan harus dilukai oleh adegan-adegan ala “sinetron” yang sama sekali tak perlu. Buat apa bicara soal “value” jika sejak awal sudah melakukan sesuatu yang salah.

Stay safe and Healthy!

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSosok Hantu dan Ilmu Hitam dalam Film Horor Indonesia
Artikel BerikutnyaTime to Hunt – English
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.