top end wedding
Top End Wedding (2019)
113 min|Comedy, Romance|02 May 2019
6.3Rating: 6.3 / 10 from 2,329 usersMetascore: N/A
Lauren and Ned, in love and engaged, have just ten days to find Lauren's mother who has gone AWOL somewhere in the remote far north of Australia, reunite her parents, and pull off their dream wedding.

Tak rugi, saya menghadiri acara pembukaan Festival Sinema Australia – Indonesia (FSAI) yang berlangsung malam kemarin di CGV, Hartono Mall, Yogyakarta. Walau film-film yang diputar bukan terhitung film baru, but why not? Beberapa film yang diputar memang tak asing, khususnya The Babadook, yang saya anggap sebagai film horor terbaik yang pernah ada. Jika kalian ada waktu, tak ada salahnya menonton film ini di bioskop, tentu sensasinya berbeda. Dipilih sebagai film dalam acara pembuka FSAI adalah Top End Wedding. Saya belum pernah mendengar film ini sebelumnya dan ternyata, what a surprise!

Top End Wedding adalah film komedi romantis garapan sineas keturunan Aborigin, Wayne Blair yang sebelumnya dikenal melalui film larisnya, The Sapphires. Bermain dalam film ini adalah juga aktris keturunan Aborigin, Miranda Tapsell serta Gwilym Lee, aktor Inggris yang kita kenal bermain sebagai Brian May dalam Bohemian Rhapsody. Filmnya mengambil lokasi seluruhnya di Benua Australia, khususnya wilayah top end, istilah slang lokal untuk mengistilahkan wilayah utara Australia. Panorama alam wilayah utara ini digambarkan begitu indah dalam filmnya. Apakah hanya ini saja? Tidak, film ini secara mengejutkan punya nilai lebih dari yang saya bayangkan.

Lauren (Tapsell) kini dalam puncak karirnya setelah ia diangkat menjadi partner di perusahaannya. Sang pacar, Ned (Lee) pun di saat yang sama meminangnya, dan Lauren spontan memberi jawaban ya. Mereka berdua terbang ke Kota Darwin untuk menikah di sana, yang juga tempat tinggal orang tua Lauren. Tak disangka, sang ibu ternyata mendadak meninggalkan sang ayah karena alasan tak jelas. Lauren yang tak bisa menikah tanpa kehadiran ibunya, bersama Ned memulai petualangan untuk mencari sang ibu.

Baca Juga  The Babadook

Ringan, sederhana, hangat, dan amat menghibur. Tak hanya itu, Top End Wedding juga mampu memadukan kekuatan lokalnya sebagai satu kesatuan yang utuh dalam kisahnya. Film ini bukan semata hanya komedi romantis yang plotnya mendewasakan dua karakter utamanya, namun juga sang ayah dan ibu. Keluarga dan persaudaraan adalah segalanya, begitu poin film ini, hanya yang membedakan dengan film roman barat kebanyakan adalah kearifan lokal untuk tidak melupakan asal usul kita. Sisi personal sang pembuat film begitu terasa sekali dalam filmnya. Sekalipun aroma Hollywod masih terasa, namun tetap saja rasanya berbeda. Film ini menawarkan nilai lokal yang jarang ada di film-film komedi romantis populer kebanyakan.

Tak bisa dipungkiri, satu kekuatan terbesar filmnya adalah kekuatan akting para pemainnya. Semuanya bermain baik sehingga mudah bagi penonton untuk sesaat itu juga masuk ke dalam satu karakter/tokoh. Tapsell jelas adalah bintang utama di sini, dalam situasi apapun sang aktris selalu bermain prima dan natural. Tentu saja yang menarik perhatian kita adalah sang ayah (Huw Higginson) yang bermain sangat emosional karena ditinggal istrinya. Sosok ini lekat dengan sisipan pop culture, baik musik (Chicago – If You Leave Me Now) maupun film (Die Hard), yang membuat sisi humornya menjadi amat berkelas.

Bermodal kekuatan konten lokal dan performa menawan para pemainnya, Top End Wedding secara mengejutkan adalah komedi romantis internasional langka yang hangat serta menghibur. Hubungan kedua orang tua Lauren banyak mengingatkan saya pada film drama produksi Inggris, All or Nothing (2002). Dua tokoh utamanya, bukanlah sosok yang rupawan dan anggun, namun cinta keduanya begitu tulus hingga dapat kita rasakan sungguh-sungguh, seolah melewati batas layar bioskop akibat penampilan menawan kedua pemainnya. Jika kalian mencari film komedi romantis yang lebih baik dari film-film masa kini dari Hollywood sana, ini adalah salah satu contohnya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSebelum Iblis Menjemput: Ayat 2
Artikel BerikutnyaOnward
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.