Top Gun: Maverick (2022)
130 min|Action, Drama|27 May 2022
8.2Rating: 8.2 / 10 from 708,388 usersMetascore: 78
After thirty years, Maverick is still pushing the envelope as a top naval aviator, but must confront ghosts of his past when he leads TOP GUN's elite graduates on a mission that demands the ultimate sacrifice from those chosen to ...

Lebih dari 35 tahun setelah Top Gun (1986), kini sekuelnya Top Gun: Maverick dirilis. Maverick diarahkan oleh Joseph Kosinski yang kita kenal mengarahkan film fiksi ilmiah Tron: Legacy dan Oblivion. Produser kondang yang memproduseri film aslinya, Jerry Bruckheimer kini kembali, bersama sang bintang Tom Cruise sebagai produser. Selain Cruise, beberapa bintang top pun terlibat, sebut saja Miles Teller, John Hamm, Jennifer Connoly, Ed Harris, Glenn Powell, Lewis Pullman, hingga salah satu pemain aslinya Val Kilmer. Lalu, apakah sekuel berbujet lebih dari USD 150 juta ini setimpal dengan pendahulunya?

Setelah lebih dari 30 tahun berkarir di militer, Kapten Pete ‘Maverick’ Mitchell (Cruise) tak pernah berniat naik pangkat agar ia bisa duduk di kursi pilot pesawat jet sepanjang hidupnya. Sikapnya ini rupanya membawanya kembali ke tempat pelatihan pilot Top Gun, di mana ia kini harus melatih pilot-pilot muda berbakat. Di sana, ia harus menghadapi masa lalunya, ketika Bradley (Teller), putra Goose, rekan mantan kopilotnya yang tewas adalah salah satu pilot muda yang dilatihnya. Dengan segala keterbatasan waktu dan konflik batinnya, Pete harus mempersiapkan para pilot muda ini untuk menjalankan satu misi yang tidak masuk akal.

Baca Juga  Star Wars: The Last Jedi

Bagi para fans Tom Cruise, sekuel Top Gun ini boleh dibilang adalah kombinasi 75%  plot Top Gun + 25% plot Mission Impossible. Alur plotnya boleh dibilang merupakan pengulangan film pendahulunya, namun bukan berarti ini adalah satu hal yang buruk. Saya melihatnya ini justru sebagai tribute, dan Maverick di luar dugaan melewati batas ekspektasi sekuelnya. Ya, jujur saja, film ini jauh lebih baik dari seri pertamanya. Segmen klimaksnya adalah salah satu sekuen aksi paling menghibur dan menegangkan yang pernah ada, melalui aksi tempur pesawat Jet dengan sinematografi dan editing yang amat mengesankan. Sisi heroik yang berlebihan? Ya tentu saja, apa yang kamu harapkan dari film-film Tom Cruise?

Dengan segala tribute untuk film aslinya plus karisma sang bintang, Top Gun: Maverick adalah salah satu film aksi otentik yang paling menghibur di era milineal. Dijamin, segmen klimaksnya bakal membuatmu terpaku dan melupakan ekspektasi ending-nya karena saking intensnya. Maverick adalah layaknya film-film western klasik, di mana sang jagoan berjalan menuju matahari terbenam, dan kali ini, tentu saja ia tidak sendirian. Lupakan film pertamanya dan tonton film ini. Maverick adalah satu contoh ideal bagaimana sinema dalam performa terbaiknya mampu memberikan hiburan secara maksimal untuk penonton. Apa lagi setelah ini Tom? Sekuel Days of Thunder?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaKKN di Desa Penari Raih Hampir 8 Juta Penonton Usai Tertahan 2 Tahun
Artikel BerikutnyaInterceptor
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.