Apa yang akan terjadi bila sepasang pria dan wanita workaholic dipertemukan dalam sebuah ikatan pernikahan? Sebuah pertanyaan paling mendasar yang coba dijawab oleh Benni Setiawan dalam film Twivortiare. Sebagai sutradara yang juga menulis naskah film ini, dibantu Alim Sudio, keduanya sama-sama sudah cukup dikenal dengan film-film drama roman mereka. Film produksi MD Pictures ini diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya Ika Natassa, seorang novelis dengan ciri khas cerita seputar drama percintaan. Sederet nama yang tidak diragukan lagi aktingnya, turut bermain dalam film ini, seperti Reza Rahadian, Raihaanun, Arifin Putra, Citra Kirana, Anggika Bolsterli, Ferry Salim, bahkan komedian, Boris Bokir, serta masih banyak lagi yang wajah dan perannya sudah tidak asing lagi.

Seorang banker sukses, Alexandra Rhea (Raihaanun), dipertemukan dengan dokter bedah super sibuk, Beno Wicaksono (Reza Rahadian), di sebuah pesta. Hubungan pasangan workaholic ini pun berlanjut ke ikatan suci pernikahan yang dipenuhi ego masing-masing, namun kandas hanya dalam waktu dua tahun. Meski perceraian tersebut dianggap tidak serius oleh sahabat Alex, Wina (Anggika Bolsterli), karena keduanya masih saling mengingat dan berinteraksi dalam berbagai pertemuan dan situasi. Sekalipun ada sosok lain yang mengisi keseharian masing-masing, perasaan kuat keduanya, akhirnya membawa mereka kembali ke dalam pernikahan kedua. Bersama kesibukan dan ego dari keduanya yang selalu memicu konflik dan cekcok tak berkesudahan, apakah pernikahan kedua mampu membuat mereka untuk saling belajar dan memahami satu sama lain?

Kekuatan Twivortiare adalah intensitas dialognya yang tinggi. Jamaknya penggunaan dialog untuk mengangkat nyawa sebuah film drama memang bukanlah hal baru. Meski begitu, kualitas dari dialognya tentu perlu dipertimbangkan. Apakah diksi yang digunakan sekadar ingin mengisi kekosongan momen sebagai jalan pintas untuk mencapai segmen drama yang diinginkan? Atau, mengolahnya agar tidak hanya sebagai ciri khas termudah dalam film drama dengan menggunakan kalimat-kalimat kunci yang turut menguatkan momen tertentu. Film ini senantiasa bertabur dialog di sepanjang tayangannya. Mungkin memang karena ingin mencapai ekspektasi yang sama dengan saat kita membaca novelnya.

Tindakan ini pun berdampak pada kemudahan penonton menebak ke mana alur cerita Twivortiare berjalan dan bagaimana film ini akan berakhir. Walau demikian, bukan berarti nilai penceritaan dalam film ini payah atau klise, karena konflik-konflik yang menyusun rangkaian masalah dalam kehidupan rumah tangga Beno dan Alex tidak mudah ditebak dari mana datangnya serta bentuknya.

Baca Juga  Surat Cinta untuk Starla

Ide cerita Twivortiare sebenarnya sudah umum. Perjuangan sepasang suami-istri setelah mengalami perceraian, hingga disatukan kembali oleh keinginan masing-masing untuk menikah (rujuk) lagi. Namun, apa yang menjadikan film ini mampu memberi daya tawar lebih hingga mampu membuat penonton ikut terbawa suasana adalah dari pengemasan dan siapa saja bintang di dalamnya.

Fakta ini didukung pula dengan betapa penulis novelnya sangat berhati-hati dan terus mengawal persiapan pembuatan filmnya. Satu aspek yang paling kentara adalah pemilihan bintangnya yang terbilang sangat selektif. Dan memang benar. Kejelian, kecermatan, dan ketelitian dalam menentukan kasting pemeran yang cocok untuk membawakan setiap tokoh dalam novelnya sesuai dengan pencapaian akting dari masing-masing pemain.

Akting dari para bintangnya mampu mengolah dengan baik detail dari karakteristik masing-masing sehingga dapat terasa lebih hidup dan emosional. Meski di beberapa bagian, rasa drama Twivortiare rada mirip Wedding Agreement yang juga berkisah tentang konflik antara suami-istri. Pun segmen penuh tekanan dan beban dari sosok Beno yang terasa personal, banyak mengingatkan perannya sebagai Habibie dalam Habibie & Ainun. Bagaimana raut wajah dan mimik mukanya saat didera berbagai masalah berat hingga membuatnya stres dan frustasi karena dihadapkan pada pilihan-pilihan tersulit dalam hidup, dengan risiko yang sama-sama besar.

Kekuatan akting, sayangnya tidak diikuti oleh tempo filmnya yang cepat sehingga memiliki potensi untuk menganggu kenyamanan dalam mengikuti cerita. Penggunaan perpotongan antar plot yang cepat tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk mengalihkan perhatian dari satu konflik ke konflik lain. Penonton diajak untuk terus mengikuti tiap plot dengan pemicu konflik yang berbeda. Tindakan ini diperparah dengan lompatan antar plot yang terkadang tidak berjalan secara urut. Meski bukan nonlinier, tapi lompatan-lompatan konflik yang disertai kilas balik, sering kali memaksa penonton untuk memikirkan kesinambungan antar sebab-akibat dari tiap plot.

Miftachul Arifin – Mahasiswa Magang

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaGundala
Artikel BerikutnyaKritik Film: Kriteria dan Penilaian
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.