Uncharted (2022)
116 min|Action, Adventure|18 Feb 2022
6.3Rating: 6.3 / 10 from 290,605 usersMetascore: 45
Street-smart Nathan Drake is recruited by seasoned treasure hunter Victor "Sully" Sullivan to recover a fortune amassed by Ferdinand Magellan, and lost 500 years ago by the House of Moncada.

Uncharted adalah film aksi petualangan garapan Ruben Fleischer yang kita kenal melalui seri Zombieland. Film ini sendiri diadaptasi dari video game aksi berjudul sama yang dikembangkan Naughty Dog. Bermain di dalamnya adalah bintang-bintang papan atas, Tom Holland, Mark Wahlberg, Antonio Banderas, Sophia Ali, dan Tati Gabrielle. Genre langka ini masih mencari penerus seri Indiana Jones yang hingga kini belum ada tandingan. Apakah Uncharted bisa menjadi gantinya?

Nathan Drake (Holland) bersama sang kakak, sejak kecil menyukai perburuan harta karun. Sementara sang kakak hilang berpetualang entah ke mana, Nathan kini menjadi bartender dengan masih memiliki ambisi yang sama. Pemburu harta karun, Mark Sullivan, yang mengaku rekan kakaknya, mengajaknya untuk meneruskan perburuan sang kakak yang mengincar harta karun emas Ferdinand Magellans. Namun pertama, mereka harus mencuri Salib Emas yang akan dilelang. Salib ini menjadi petunjuk awal keberadaan lokasi harta karun tersebut. Petualangan demi petualangan seru yang penuh dengan tipu daya pun menghiasi perjalanan Nathan dan Mark.

Sejak trailer ini muncul, film ini sudah tidak memberi banyak ekspektasi, kecuali hanya dua bintang utamanya. Sosok Holland yang kini tengah naik daun bersama MCU menjadi magnet besar untuk penonton milineal. Sementara Wahlberg kini tengah turun pamor. Lupakan dua bintangnya, lalu bagaimana filmnya sendiri yang berbujet USD 120 juta? Jika melihat komparasi genrenya, seperti seri Indiana Jones, National Treasure, Da Vinci Code, atau bahkan seri Lara Croft, di luar dugaan film ini kualitasnya berada jauh di bawah. Tidak ada yang baru selain hanya mencomot sana-sini elemen film-film di atas.

Baca Juga  Mary Poppins Returns

Jika kalian masih ingat, opening ikonik Raiders of the Lost Ark, kita telah disajikan eksposisi sosok Indy yang melekat amat kuat. Sementara dalam Uncharted, bahkan hingga sepanjang filmnya, kita tak mampu bersimpati kuat dengan tokoh-tokohnya. Mereka tidak mampu memberi chemistry yang cukup untuk bisa membawa kita larut ke dalam kisahnya. Bukan naskah, namun adalah kemasan dan tone alur filmnya yang tidak mampu memberi kesan serius pada masalah yang dihadapi tokohnya. Semua terkesan main-main, seakan apa yang mereka cari hanyalah sesuatu yang biasa. Segalanya tertutup dengan aksi membahana yang tak mampu pula memberi efek ketegangan dan ancaman yang cukup. Bagaimana kita bisa percaya pada kisahnya, jika semua karakter selalu bicara tentang tidak ada siapa pun yang bisa kita percaya? Ini justru membunuh chemistry karakternya.

Kombinasi buruk Indiana Jones dan National Treasure, Uncharted adalah aksi petualangan tak berjiwa dengan karakter lemah yang sedikit tertolong oleh lokasi-lokasi eksotisnya. Harus diakui, lokasi-lokasi yang digunakan memang menakjubkan dan memanjakan mata. Tapi apalah artinya tanpa kisah yang kuat, dan sejak kapan adaptasi video game memiliki naskah yang kuat? Lalu bagaimana penampilan sang superstar baru kita? Holland di sini tak ubahnya bermain sebagai Spider-Man yang beraksi meloncat ke sana kemari. Jika ingin tontonan yang lebih baik, tak ada salahnya menilik kembali seri-seri petualangan lawas di atas, yang dijamin bakal memberikan hiburan yang lebih dari sekadar hanya penampilan bintangnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaKimi
Artikel BerikutnyaThe Book of Boba Fett
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses