Underwater (2020)
95 min|Action, Horror, Sci-Fi, Thriller|10 Jan 2020
5.8Rating: 5.8 / 10 from 43,244 usersMetascore: 48
A crew of oceanic researchers working for a deep sea drilling company try to get to safety after a mysterious earthquake devastates their deepwater research and drilling facility located at the bottom of the Mariana Trench.

Under Water adalah film thriller fiksi ilmiah arahan William Eubank yang sebelumnya juga mengarahkan Love dan The Signal yang bergenre sama. Tercatat Under Water adalah proyek besar pertamanya yang berbujet lebih dari USD 60 juta. Film berdurasi 90 menit ini dibintangi Kirsten Stewart, Vincent Cassel, T.J. Miller, dan Jessica Henwick. Film monster atau alien sejenis, sudah terlampau banyak diproduksi, kini apa yang ditawarkan Under Water untuk genrenya?

Di masa depan, terdapat stasiun pemboran minyak modern di kedalaman 10 km, jauh di dasar laut sana. Pada saat rutinitasnya, Norah (Stewart), seorang teknisi, merasakan getaran hebat pada stasiun tersebut. Stasiun raksasa tersebut akan runtuh. Bersama lima lainnya yang tersisa termasuk sang kapten, mereka harus berjalan ke stasiun lain jauh di bawah mereka untuk bisa selamat. Tak disangka, apa yang mereka temui di bawah sana, tidak seperti yang mereka bayangkan.

Film “alien” sejenis memang sudah terlampau banyak, namun satu keunikan film ini adalah opening-nya.   Film ini tak butuh basa-basi, langsung tancap gas sejak menit pertama karena filmnya bergerak nyaris “real time”. Penonton dipaksa untuk menahan nafas, sepanjang filmnya yang nyaris bergerak tanpa henti mengikuti ke mana tokoh-tokohnya berjalan. Lelah? Tidak juga, setting bawah air yang unik serta alur kisahnya, menolong film ini karena selalu menampilkan setting yang berbeda. Setting adalah salah satu kekuatan film ini dan memang banyak mengingatkan pada Alien (1970), baik gaya setting maupun sosok Norah sebagai tokoh utamanya.

Baca Juga  The Willoughbys

Sisi ketegangan yang dibangun pun terbilang lumayan. Sosok monster dalam genre macam ini memang apapun bentuknya, ancamannya tetap sama. Tinggal bagaimana, sang sineas mampu mengemas tempo cerita dan memadukan dengan unsur estetik lainnya. Walau tak sulit diantisipasi bagi penikmat genrenya, namun sineas mampu menjaga misteri dan ketegangan dalam tiap momennya, sejak awal hingga klimaks. Baik setting maupun enam pemainnya, mampu mendukung kuat performa filmnya secara keseluruhan. Stewart pun ternyata tak buruk bermain dalam genre yang terbilang baru baginya.

Under Water, tak mampu menyumbang banyak bagi genrenya, sekalipun aksi nonstop maupun sisi ketegangan terbilang lumayan. Walau klise, pesan lingkungannya juga tetap tak bisa kita anggap remeh tentang sifat manusia yang rakus menggali SDA secara membabi buta. Alam pasti akan mengambilmya kembali, kata seorang karakter dalam film ini. Walau tak bisa dibandingkan dengan Alien maupun Aliens, setidaknya film ini mampu memuaskan para fans genrenya melalui aksi-aksi bawah lautnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaNanti Kita Cerita Tentang Hari ini
Artikel BerikutnyaRasuk 2
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.