Underwater (2020)
95 min|Action, Horror, Sci-Fi|10 Jan 2020
5.9Rating: 5.9 / 10 from 106,059 usersMetascore: 48
A crew of oceanic researchers working for a deep sea drilling company try to get to safety after a mysterious earthquake devastates their deepwater research and drilling facility located at the bottom of the Mariana Trench.

Under Water adalah film thriller fiksi ilmiah arahan William Eubank yang sebelumnya juga mengarahkan Love dan The Signal yang bergenre sama. Tercatat Under Water adalah proyek besar pertamanya yang berbujet lebih dari USD 60 juta. Film berdurasi 90 menit ini dibintangi Kirsten Stewart, Vincent Cassel, T.J. Miller, dan Jessica Henwick. Film monster atau alien sejenis, sudah terlampau banyak diproduksi, kini apa yang ditawarkan Under Water untuk genrenya?

Di masa depan, terdapat stasiun pemboran minyak modern di kedalaman 10 km, jauh di dasar laut sana. Pada saat rutinitasnya, Norah (Stewart), seorang teknisi, merasakan getaran hebat pada stasiun tersebut. Stasiun raksasa tersebut akan runtuh. Bersama lima lainnya yang tersisa termasuk sang kapten, mereka harus berjalan ke stasiun lain jauh di bawah mereka untuk bisa selamat. Tak disangka, apa yang mereka temui di bawah sana, tidak seperti yang mereka bayangkan.

Film “alien” sejenis memang sudah terlampau banyak, namun satu keunikan film ini adalah opening-nya.   Film ini tak butuh basa-basi, langsung tancap gas sejak menit pertama karena filmnya bergerak nyaris “real time”. Penonton dipaksa untuk menahan nafas, sepanjang filmnya yang nyaris bergerak tanpa henti mengikuti ke mana tokoh-tokohnya berjalan. Lelah? Tidak juga, setting bawah air yang unik serta alur kisahnya, menolong film ini karena selalu menampilkan setting yang berbeda. Setting adalah salah satu kekuatan film ini dan memang banyak mengingatkan pada Alien (1970), baik gaya setting maupun sosok Norah sebagai tokoh utamanya.

Baca Juga  The Bubble

Sisi ketegangan yang dibangun pun terbilang lumayan. Sosok monster dalam genre macam ini memang apapun bentuknya, ancamannya tetap sama. Tinggal bagaimana, sang sineas mampu mengemas tempo cerita dan memadukan dengan unsur estetik lainnya. Walau tak sulit diantisipasi bagi penikmat genrenya, namun sineas mampu menjaga misteri dan ketegangan dalam tiap momennya, sejak awal hingga klimaks. Baik setting maupun enam pemainnya, mampu mendukung kuat performa filmnya secara keseluruhan. Stewart pun ternyata tak buruk bermain dalam genre yang terbilang baru baginya.

Under Water, tak mampu menyumbang banyak bagi genrenya, sekalipun aksi nonstop maupun sisi ketegangan terbilang lumayan. Walau klise, pesan lingkungannya juga tetap tak bisa kita anggap remeh tentang sifat manusia yang rakus menggali SDA secara membabi buta. Alam pasti akan mengambilmya kembali, kata seorang karakter dalam film ini. Walau tak bisa dibandingkan dengan Alien maupun Aliens, setidaknya film ini mampu memuaskan para fans genrenya melalui aksi-aksi bawah lautnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaNanti Kita Cerita Tentang Hari ini
Artikel BerikutnyaRasuk 2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses