Vivarium (2019)
97 min|Horror, Mystery, Sci-Fi|27 Mar 2020
5.9Rating: 5.9 / 10 from 73,849 usersMetascore: 64
A young couple looking for the perfect home find themselves trapped in a mysterious labyrinth-like neighborhood of identical houses.

Vivarium merupakan film thriller fiksi ilmiah garapan Lorcan Finnegan yang debutnya diputar di ajang Cannes Film Festival tahun lalu. Film ini dibintangi oleh dua bintang muda, Jesse Eisenberg dan Imogen Poots. Entah kebetulan atau tidak, film ini lagi-lagi seolah meyinggung situasi kita sekarang yang memaksa kita untuk banyak menghabiskan waktu di rumah. Kisahnya memang tidak lagi baru, namun Vivarium mencoba sesuatu yang sedikit berbeda.

Alkisah Gemma dan Tom adalah sepasang kekasih yang ingin mencari rumah tinggal baru. Mereka mampir ke satu kantor pemasaran real estate dengan pegawainya yang aneh. Bahkan ia pun mau mengantar mereka ke lokasi rumah. Sesampainya di sana, ia pun mengantar mereka masuk melihat-lihat ke dalam rumah, hingga mendadak menghilang. Gemma dan Tom bergegas meninggalkan lokasi tersebut, namun anehnya, mereka selalu berputar di lokasi yang sama, tak ada jalan keluar. Mereka seolah terjebak dalam limbo.

Awal kisahnya memang menarik dan mampu membuat penonton penasaran. Arti kata Vivarium sendiri adalah ruang observasi tertutup yang dikondisikan sesuai aslinya untuk habitat binatang atau tanaman. Konsep “vivarium” sendiri dalam medium film bukanlah satu hal yang baru. Satu contoh sempurna adalah Dark City, di mana satu ras mahluk asing melakukan obervasi terhadap manusia dalam wadah sebuah kota. Vivarium kurang lebih memiliki ide yang sama, namun sayangnya motif dan eksekusinya terlalu lemah. Alur plotnya membuat kita sama frustasinya seperti yang dirasakan Gemma dan Tom. Entah, apa ini yang dikehendaki pembuat film tapi saya tidak sependapat. Rasa frustasi macam ini harus ditutup oleh sesuatu yang tegas dan memuaskan. Lalu untuk apa motif bersusah-payah sejak awal? What’s the point? Dark City mampu melakukan eksekusi dengan sangat baik.

Baca Juga  Morbius

Vivarium memiliki konsep dan premis unik dengan dua bintangnya yang bermain baik, hanya saja dikecewakan eksekusi akhir yang lemah. Jika tempat tersebut diibaratkan neraka, apa yang membuat dua tokohnya layak untuk masuk tempat tersebut? Minim penjelasan di awal kisah. Dalam The Matrix, manusia diperangkap dalam ilusi digital oleh kaum mesin, namun ada motif kuat dibaliknya. Entah apa pun motif dan pesan Vivarium, sebab-akibat, atau aksi-konsekuensi, semuanya serba kabur. Manusia, saya pikir layak memiliki harapan, walau hanya secuil.

Stay Healthy and safe!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaVivarium- English
Artikel BerikutnyaSuperman: Red Son
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

  1. Saya bisa menangkap makna dari film Vivarium. Walau sangat kecewa dan membingungkan bagi si penonton di akhir cerita tapi begitulah kenyataannya. Film tersebut menggambarkan sang penguasa dari beberapa negara adikuasa yang zholim memperdayakan rakyat/golongan awam/negara yang lemah sejak awal era ke era selanjutnya. Begitu terus bergulir hingga sekarang. Tidak ada yang sanggup melawan bahkan mengalahkannya kecuali semuanya bersatu, melainkan masing-masing individu (rakyat) menjadi korban tanpa disadarinya. Tokoh Tom dan Gemma menggambarkan rakyat/golongan awam/negara yang lemah, sedangkan tokoh Martin dan keturunannya dalam film Vivarium adalah menggambarkan kekuatan SOCIAL SOCIETY. Apa itu Social Society? Anda dapat mencarinya di dunia maya.

    • Terima kasih atas responnya. Kami sebagai admin mewakili penulis untuk menjawabnya. Medium film adalah medium seni yang tidak terbatas dalam mengkomunikasikan isi filmnya. Melalui bahasa visual dan gambar dengan olahan estetiknya, film bisa menyempaikan pesannya dengan caranya yang unik (sinematik)). Oleh karena itu, kami percaya bahwa pembuat film yang cerdas akan memberi petunjuk terhadap pesan film, isi, atau apa saja yang ingin disampaikan ke penontonnya. Jadi, menurut KAMI, film tidak bisa diinterpretasi atau ditafsirkan begitu saja secara membabi buta dan liar tanpa satu penanda (sinematik) yang jelas. VIVARIUM bisa dinterpretasi apa saja jika mau. Penulis paham betul ini. Namun penulis, sepertinya tak mampu menemukan satu petunjuk “sinematik” pun yang mengarah ke satu tema mana. Apa yang menjadi penanda bahwa dunia “rekayasa” tersebut adalah negara adikuasa? Apa yang menjadi penanda bahwa Tom dan Genma adalah simbol Social Society? Atau ada opini lain juga yang lebih make sense, apa yang menjadi simbol bahwa film ini berkisah tentang ketakutan pasangan baru terhadap dunia barunya kelak (kehadiran seorang anak). Bisa jadi penulis lengah, atau kurang cermat, tapi dalam tulisannya penulis tidak mampu menemukan petunjuk sinematik apa pun yang bisa mewakili opini-opini tersebut. Ulasan dan tafsiran sebuah film adalah bukan masalah benar dan salah, namun adalah kekuatan argumennya. Hal ini yang menjadi kekuatan besar seni film. Bagaimana sang kreator mampu mengolah elemen-elemen visual dan audio dalam filmnya untuk menyampaikan kisah dan pesannya. Demikian penjelasan kami. Terima kasih sekali lagi atas responnya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.