Vivo (2021)
95 min|Animation, Adventure, Comedy|06 Aug 2021
6.7Rating: 6.7 / 10 from 21,597 usersMetascore: 66
Vivo, Sony Pictures Animation's first-ever musical adventure featuring all-new original songs from Lin-Manuel Miranda, will take audiences on an epic adventure to gorgeous and vibrant locations never before seen in animation.

Vivo adalah film animasi musikal produksi sony Pictures Animation yang dirilis teater juga sekaligus secara streaming oleh platform Netflix. Film garapan Kirk DeMicco ini dibintangi oleh Lin-Manuel Miranda yang sekaligus menulis semua lagunya serta mengisi suara peran utama. Film animasi musikal selama ini didominasi oleh Disney, dan Vivo, apakah mampu berbuat banyak?

Vivo (Miranda) adalah sejenis lemur yang memiliki bakat untuk bermain musik. Bersama si kakek, Andre, sang majikan, Vivo menjadi bintang yang mewarnai alun-alun kota dengan alunan lagu dan musik mereka. Suatu ketika, Andre mendapatkan undangan pertunjukan terakhir dari cinta pertama dan abadinya, Marta, yang telah menjadi penyanyi superstar di AS. Malam sebelum berangkat ke Miami, Andre pun tiada, Vivo dan  warga satu kota meratapi kematian sang kakek yang baik hati. Vivo pun lalu bertekad untuk berangkat ke Miami untuk menyerahkan secarik kertas berisi satu lagu cinta yang ditulis Andre untuk Marta.

Dari ringkasan di atas, plotnya sudah terasa menyentuh. Namun, justru dalam pengembangannya, film ini lebih didominasi aksi petualangan Vivo dan Gabi menuju Kota Miami. Plot petualangan macam ini sudah bukan hal baru bagi genrenya, dan bahkan alur prosesnya mudah sekali ditebak. Dalam beberapa momen, plotnya juga terlihat sedikit memaksa untuk memancing aksi lebih seru. Namun, satu hal yang membedakan adalah nomor-nomor musikalnya. Nyaris tak ada yang cacat dari segmen musikalnya. Lagu-lagu yang ditulis sang bintang, begitu renyah dan nikmat di telinga. Sejak film-film animasi Disney klasik era 90-an, rasanya ini adalah salah satu yang terbaik.

Baca Juga  Sergio

Dengan beberapa nomor manisnya, Vivo adalah tontonan sempurna untuk target genrenya sekalipun plotnya terlalu konvensional dan mudah diantisipasi. Bicara aspek visual, boleh jadi memang tak sebaik kompetitor terberatnya, Pixar dan Walt Disney Animation. Namun terhitung sejak Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), film ini boleh jadi adalah animasi 3D terbaik produksi studionya. Walau tak sebaik dan sedalam kisah petualangan dalam Finding Nemo, Up, atau pun Toy Story 4, namun pesan tentang persahabatan dalam Vivo tak bisa dianggap remeh. Vivo adalah tontonan menghibur yang ideal untuk keluarga.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBumi itu Bulat
Artikel BerikutnyaWedding Proposal
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.