Masih melanjutkan seri reboot dari komedian legendaris Indonesia era 1970-an hinga 1990-an. Seri reborn ketiga atas nama besar Warkop DKI, kali ini dilanjutkan dengan arahan dari Rako Prijanto, dan naskah yang ditulis sendiri olehnya bersama Anggoro Saronto. Produksi film komedi petualangan dan aksi ini masih dalam satu naungan dengan kedua pendahulunya (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2), yakni Falcon Pictures. Dengan wajah-wajah baru, trio Warkop DKI kali ini dibintangi oleh Aliando Syarief, Adipati Dolken, dan Randy Danistha (Randy Nidji); bersama salah seorang aktor komedi kawakan, Mandra; serta kembali melibatkan pemain asli dari trio komedi Warkop, Indro. Dengan catatan film-film arahan Rako dan naskah tulisan Anggoro yang jarang mencapai prestasi sukses pasar, apakah kali ini, bersama nama besar Warkop DKI, keduanya mampu membuat seri reborn ketiga ini melejit di atas dua seri sebelumnya?

Trio Warkop DKI Reborn kali ini, yakni Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), dan Indro (Randy Danistha) diberi tugas oleh seorang komandan tim keamanan dan mata-mata (Indro Warkop), untuk mengungkap praktik pencucian uang dalam industri perfilman oleh seorang produser film berkebangsaan asing. Tugas ini pun menyeret ketiganya semakin jauh hingga mereka berhasil masuk ke sebuah produksi film, namun justru berakhir di luar negeri ‘tanpa sengaja’. Berbekal kenekatan dan kepolosan, mereka dipertemukan dengan masalah dan konflik baru, serta tokoh-tokoh lain, sebelum menuntaskan misi mereka yang sesungguhnya.

Secara umum, Warkop DKI Reborn 3 memberi penawaran segar jika dibanding dua seri sebelumnya. Seri ketiga ini melibatkan wajah dan setting baru, ide cerita segar, sisipan segmen aksi, serta variasi pengambilan gambar untuk mendukung potensi komedi di dalamnya. Warkop DKI Reborn 3 kini mengesampingkan nostalgia terhadap judul film-film Warkop DKI aslinya sekalipun masih mempertahankan gaya komedi khas Warkop. Lawakan berkelas diselingi lagu-lagu jenaka dan apa adanya, namun akan terasa aneh, absurd, dan terkesan dipaksakan jika tidak cukup memahami ciri khas mereka.

Baca Juga  Sunyi

Film ini memang masih memiliki gaya bertutur seperti dua seri sebelumnya (juga film Warkop aslinya) yang menampilkan ketidaksinambungan antar plot serta antar satu lokasi dengan lokasi lainnya. Bedanya, plot Warkop DKI Reborn 3 kini lebih menekankan pada permainan uang di balik industri perfilman. Setting cerita industri film inilah yang secara unik dimanfaatkan sebagai bahan candaan, seperti memparodikan film-film produksi Falcon sendiri dalam adegan-adegannya.

Dari segi kemiripan akting ketiga tokoh utamanya dengan sosok aslinya, Randy-lah yang paling jauh memerankan sosok Indro. Setali tiga uang dengan pencapaian Tora Sudiro dalam dua seri sebelumnya. Untuk bisa menyamai sosok Indro Warkop rasanya memang bukanlah perkara mudah. Apakah karena ketiadaan tuntutan yang terlalu muluk-muluk dari sosok aslinya?

Konsep lokasi yang digunakan pun sedikit berkembang ketimbang seri sebelumnya. Jika sebelumnya, setting lokasi luar negeri yang digunakan berjarak hanya pada negeri seberang. Kali ini, trio Warkop Reborn ‘diterbangkan’ lebih jauh lagi, ke tanah gurun pasir.

Menonton reborn dari Warkop DKI versi ketiga ini terasa lebih segar ketimbang dua film pendahulunya yang sekadar memilih tribute nostalgia. Namun, memang tidak mungkin pembuat film mengesampingkan begitu saja gaya komedi khas dari trio Warkop DKI, karena memang itulah yang menjadi identitas mereka. Meski disayangkan, karena identitas etnis Betawi, Jawa, dan Batak dari trio Warkop DKI luntur saat dibawakan oleh ketiga pemeran barunya ini. Tingkat kedekatan terhadap identitas sosok-sosok aslinya tidak sekuat tiga pemeran lamanya, Abimana, Vino, dan Tora.

Warkop DKI Reborn 3 cenderung me-reborn­-kan trio Warkop DKI dan identitas mereka dengan ciri khas komedi tersendiri. Sekalipun materi komedi stand up banyak terselip (karena pengaruh penulis naskahnya), namun film ini masih memiliki ruh komedi Warkop aslinya. Meski jika ditelisik lebih jauh, penulis dan sutradara tidak pernah memiliki catatan prestasi gemilang dalam kepenulisan film komedi. Tampaknya, Warkop DKI Reborn 3 mendapat pengaruh besar dari Indro Warkop.

Miftachul Arifin

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaMidsommar
Artikel BerikutnyaLorong
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.