West Side Story (2021)
156 min|Crime, Drama, Musical|10 Dec 2021
7.1Rating: 7.1 / 10 from 96,335 usersMetascore: 85
An adaptation of the 1957 musical, West Side Story explores forbidden love and the rivalry between the Jets and the Sharks, two teenage street gangs of different ethnic backgrounds.

Bagi yang pernah menonton, West Side Story (1961) arahan Robert Wise, pada masanya adalah salah satu film musikal modern terbaik yang pernah ada. Sineas kawakan Steven Spielberg mencoba me-remake film tersebut, yang jarang sekali sang sineas bersinggungan dengan genre musikal. Dengan bermodal USD 100 juta, film ini dibintangi beberapa bintang-bintang muda masa kini, seperti Ansel Elgort, Rachel Zegler, Ariana De Bose, David Alvarez, serta pemain orisinalnya, Rita Moreno. Apakah sentuhan emas sang sineas bekerja kembali pada film remake-nya kali ini?

Kisahnya nyaris sama persis dengan cerita aslinya, “Romeo & Juliet versi modern” dengan sedikit tambahan detil cerita di beberapa bagian. Durasinya pun nyaris sama yakni 2.5 jam. Hal yang mengejutkan, latar kisahnya pun sama dengan setting yang nyaris sama pula, bahkan hingga lagu, musik, dan gaya tariannya, pokoknya nyaris semua elemennya sama. Bagi yang sudah menonton film aslinya, secara estetik Spielberg benar-benar melewati pencapaian film aslinya dengan segala teknologi film yang dimiliki sekarang. Spielberg begitu loyal dengan sumber aslinya (film). Ini memang menjadi titik kekuatan, sekaligus titik lemah filmnya.

Titik lemah? Selalu ada alasan mengapa sebuah film remake diproduksi. Untuk alasan estetik memang bisa dipahami, namun untuk apa jika tidak ada motif dan urgensi kekinian? West Side Story adalah film musikal masterpiece musikal yang relevan dengan konteks masanya, namun kini? Dengan pesan dan isu sosial yang sama (ras dan problematika warga “slum”) apa masih perlu untuk masa sekarang? Saya tidak mampu melihat sesuatu dalam film ini selain gemerlap estetik yang superior.

Baca Juga  Malcolm & Marie

Tak ada keraguan, West Side Story adalah salah satu tribute-remake terbaik sepanjang masa dengan segala pencapaian estetiknya, namun urgensinya untuk era kini patut dipertanyakan. Jujur saja, menonton film berdurasi lebih dari 2.5 jam ini butuh ekstra fisik lebih untuk bisa menahan rasa kantuk. Menonton film ini, sensasinya persis sama ketika menonton film klasiknya. Tak kurang tak lebih. Sang sineas bisa jadi bakal mendapat apresiasi tinggi dalam banyak ajang festival bergengsi dan Spielberg memang patut mendapatkannya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaSeperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Artikel BerikutnyaSpider-Man: No Way Home
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.