Wildland (2020)
89 min|Crime, Drama, Thriller|20 Aug 2021
5.8Rating: 5.8 / 10 from 1,858 usersMetascore: 76
Ida moves in with her aunt and cousins after the tragic death of her mother in a car accident. The home is filled with love, but outside of the home, the family leads a violent and criminal life.

Bagaimana jika seorang gadis belia harus tinggal bersama satu keluarga kriminal? Premis yang menarik ini, coba dikemas dengan gaya penyutradaraan yang unik pula. Wildland adalah film produksi Denmark arahan Jeanette Nordahl yang banyak diapresiasi festival film. Film ini dibintangi oleh Sandra Guldberg Kammp, Sidse Babett Knudsen, Joachim Fjelstrup, serta Carla Philip Roder. Lantas bagaimana sang sineas mengemas kisah filmnya?

Ida kehilangan ibunya dalam satu kecelakaan mobil. Karena umurnya yang masih belia, ia akhirnya dititipkan di rumah bibinya, Bodil. Bodil memiliki tiga orang putra yang masing-masing memiliki karakter unik. Satu hal kesamaan mereka adalah kriminal. Satu keluarga ini rupanya adalah semacam rentenir yang tak segan menyakiti korbannya jika tak mampu membayar. Suatu ketika, secara tak sengaja, seseorang terbunuh dalam aksi mereka. Ida mengalami dilema hebat untuk memilih antara kebenaran atau keluarganya, karena ia adalah satu-satunya saksi yang dimiliki polisi.

Jika berharap ini adalah film yang mudah, kalian keliru besar. Dari opening, film ini sudah memiliki cara bertutur dan sudut pandang yang menarik dalam penceritaannya. Kita memang dipaksa berpikir karena nyaris semua pengadeganannya disajikan dengan gaya sunyi dan lambat. Saya memang suka dengan gaya seperti ini, tapi apakah mampu memberikan sense penceritaan yang koheren, ini adalah lain perkara.

Baca Juga  Lady Chatterley’s Lover

Kita memang harus bersabar untuk mendapatkan informasi demi informasi karena tempo yang lambatnya minta ampun. Adegan demi adegan nyaris lepas, bahkan kadang meloncat ke satu hal yang tak ada hubungan dengan sebelumnya. Sosok Ida yang banyak diam juga tidak membantu penonton. Bahkan sosok ini kadang begitu sulit diantisipasi karena sikapnya yang bisa berubah mendadak. Merasa bosan? Jelas. Kesal? Ya. Penasaran? Tentu saja ya. Saya menanti dengan sabar karena berharap ada sesuatu di ujung sana. Rupanya ini adalah penantian yang boleh saya bilang, sia-sia. Bisa jadi saya melewatkan sesuatu, namun saya tak mendapatkan apa pun yang menggugah hingga akhir. Nothing.

Sunyi, lambat, dan absurd, Wildland memiliki premis menarik yang kehilangan arah dalam menyampaikan pesannya. Kita semua tahu, film ini ingin berbicara tentang hidup dengan segala pesimismenya, dan di atas segalanya adalah keluarga. Namun, crime doesn’t pay. Tangisan bayi yang begitu pilu di pungkas adegan, seolah ingin menolak dilahirkan, melihat realita hidup. Ya mau apa lagi, realita hidup memang sucks, so? Bisa jadi ini perspektif personal pembuatnya, tak ada yang salah dengan ini. Seumpama ending memperlihatkan Ida menggendong sang bayi, memang belum tentu lebih baik, tapi setidaknya ada bunga yang begitu indah di tengah genangan lumpur yang kotor.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGolden Arm
Artikel BerikutnyaMimi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses