Wildland (2020)
89 min|Crime, Drama, Thriller|20 Aug 2021
5.9Rating: 5.9 / 10 from 1,775 usersMetascore: 76
Ida moves in with her aunt and cousins after the tragic death of her mother in a car accident. The home is filled with love, but outside of the home, the family leads a violent and criminal life.

Bagaimana jika seorang gadis belia harus tinggal bersama satu keluarga kriminal? Premis yang menarik ini, coba dikemas dengan gaya penyutradaraan yang unik pula. Wildland adalah film produksi Denmark arahan Jeanette Nordahl yang banyak diapresiasi festival film. Film ini dibintangi oleh Sandra Guldberg Kammp, Sidse Babett Knudsen, Joachim Fjelstrup, serta Carla Philip Roder. Lantas bagaimana sang sineas mengemas kisah filmnya?

Ida kehilangan ibunya dalam satu kecelakaan mobil. Karena umurnya yang masih belia, ia akhirnya dititipkan di rumah bibinya, Bodil. Bodil memiliki tiga orang putra yang masing-masing memiliki karakter unik. Satu hal kesamaan mereka adalah kriminal. Satu keluarga ini rupanya adalah semacam rentenir yang tak segan menyakiti korbannya jika tak mampu membayar. Suatu ketika, secara tak sengaja, seseorang terbunuh dalam aksi mereka. Ida mengalami dilema hebat untuk memilih antara kebenaran atau keluarganya, karena ia adalah satu-satunya saksi yang dimiliki polisi.

Jika berharap ini adalah film yang mudah, kalian keliru besar. Dari opening, film ini sudah memiliki cara bertutur dan sudut pandang yang menarik dalam penceritaannya. Kita memang dipaksa berpikir karena nyaris semua pengadeganannya disajikan dengan gaya sunyi dan lambat. Saya memang suka dengan gaya seperti ini, tapi apakah mampu memberikan sense penceritaan yang koheren, ini adalah lain perkara.

Baca Juga  The Ledge

Kita memang harus bersabar untuk mendapatkan informasi demi informasi karena tempo yang lambatnya minta ampun. Adegan demi adegan nyaris lepas, bahkan kadang meloncat ke satu hal yang tak ada hubungan dengan sebelumnya. Sosok Ida yang banyak diam juga tidak membantu penonton. Bahkan sosok ini kadang begitu sulit diantisipasi karena sikapnya yang bisa berubah mendadak. Merasa bosan? Jelas. Kesal? Ya. Penasaran? Tentu saja ya. Saya menanti dengan sabar karena berharap ada sesuatu di ujung sana. Rupanya ini adalah penantian yang boleh saya bilang, sia-sia. Bisa jadi saya melewatkan sesuatu, namun saya tak mendapatkan apa pun yang menggugah hingga akhir. Nothing.

Sunyi, lambat, dan absurd, Wildland memiliki premis menarik yang kehilangan arah dalam menyampaikan pesannya. Kita semua tahu, film ini ingin berbicara tentang hidup dengan segala pesimismenya, dan di atas segalanya adalah keluarga. Namun, crime doesn’t pay. Tangisan bayi yang begitu pilu di pungkas adegan, seolah ingin menolak dilahirkan, melihat realita hidup. Ya mau apa lagi, realita hidup memang sucks, so? Bisa jadi ini perspektif personal pembuatnya, tak ada yang salah dengan ini. Seumpama ending memperlihatkan Ida menggendong sang bayi, memang belum tentu lebih baik, tapi setidaknya ada bunga yang begitu indah di tengah genangan lumpur yang kotor.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGolden Arm
Artikel BerikutnyaMimi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.