Masih dengan Anggy Umbara (lagi) dan film keduanya, Will, dari trilogi yang disebutnya thriller. Film drama keluarga dengan masalah psikologis yang masih ditulis olehnya sendiri oleh sang sineas. Diproduksi oleh kerja sama dua perusahaan yang sama seperti sebelumnya, yaitu PT Umbara Brothers Film dan KlikFilm Productions. Tiga di antara para pemerannya ialah Morgan Oey, Anggika Bolsterli, dan Zidane Khalid. Mengingat I kurang berhasil menunjukkan sisi thriller-nya, bagaimana dengan yang ini?

Pekerja dengan keseharian monoton, Andra (Morgan Oey), kadangkala butuh pelampiasan penat dari rutinitasnya. Sepeninggalan putranya, Ravi (Zidane Khalid) dan sikap tak acuh sang istri, Vina (Anggika Bolsterli), dia pilih bersepeda gunung sebagai caranya dalam refreshing. Salah satu olahraga ekstrem pemacu adrenalin yang digunakannya untuk melepas beban pikiran. Namun nahas, suatu ketika dia melakukannya lagi, beban pikirannya itulah yang justru membawa celaka untuknya. Kini dengan kondisi yang ada, dia hanya punya dua pilihan, pasrah sambil menunggu kedatangan seseorang atau bertahan hidup seraya bergerak dari posisinya sendirian.

Will, punya elemen thriller yang bahkan lebih tipis ketimbang film sebelumnya. I dan Will, mungkin saja dapat dikatakan mengandung thriller jika dilihat garis besar ceritanya secara keseluruhan. Tetapi bila diteliti lebih jauh, detail dalam keduanya, terutama Will, tak memberikan gairah yang semestinya dihadirkan oleh film bergenre thriller. Satu hal yang dapat diingat dari film ini juga 11-12 dengan I, yakni drama yang memperkarakan psikologis. Andra sebagai tokoh utamanya bahkan bukanlah sosok yang bisa menodongkan senjata. Karakteristik yang tampak jelas dibawakan Morgan Oey, kendati kesan seseorang yang mengalami masalah psikologis dan psikis yang terbebani tak sekuat Sanjaya, tokoh utama I. Bahkan dalam momen perenungan kesalahan dan penyesalan tindakan juga rasanya biasa-biasa saja. Hanya ada sedikit kedalaman yang benar-benar dapat dirasakan di sana.

Sebagian besar konsep penceritaan film ini benar-benar mengingatkan pula pada 127 Hours yang dibintangi James Franco. Seorang yang hobi berolahraga ekstrem mengalami kecelakaan jauh dari peradaban manusia, tanpa bisa dihubungi siapa-siapa. Mirip? Iya. Walau hanya berbeda lokasi, jenis olahraga, dan tingkat fatal kecelakaannya. Tentu masih ada banyak lagi contoh-contoh lain yang juga memiliki keserupaan dengan Will. Sayangnya, tuntutan untuk bertahan hidup yang seharusnya terlihat sangat menekan sang tokoh utama dalam film ini tak sekeras yang diharapkan ada pada situasi tersebut.

Baca Juga  Geez & Ann

Tak jauh berbeda dari I, elemen thriller dalam Will lebih tak terasa. Ada, namun tipis. Kecuali persoalan ini, beberapa aspek lain memang bisa dianggap lebih baik ketimbang I. Misalnya bentuk-bentuk shot yang digunakan, dialog (momen, diksi, durasi), serta sejumlah adegan. Walau selisihnya tidaklah signifikan dan benar-benar bersih dari masalah pada detail-detailnya. Topik dan adegan yang rasanya dipaksakan masuk pun masih ada. Beberapa shot dan pergantiannya satu sama lain tanpa kejelasan motivasi juga masih muncul. Meski tak sampai mendominasi seperti yang ada dalam I, dan malah berubah jadi sisipan-sisipan yang mengganggu.

Shot, dialog, adegan, motivasi isu yang dibawakan dan poin yang ingin disampaikan barangkali mengalami perbaikan, tetapi tak terlihat ada upaya untuk mengeksplorasi aspek sinematik lainnya. Dalam hal yang terakhir ini I juga sedikit mengungguli. Satu di antara yang tampak susah sekali diupayakan ialah setting. Will takkan memberikan penontonnya variasi setting seperti yang mudah sekali dijumpai dalam I, terlepas dari ragam setting dan bentuk shot-nya. Satu-satunya penyebab yang paling memungkinkan untuk itu adalah drama psikologis yang terjadi dalam internal keluarga tokoh utama. Tak pelak bila kemudian yang muncul bukanlah aksi pembunuhan, kriminalitas, adegan berdarah atau semacamnya, melainkan konflik batin belaka.

Will, dengan caranya sendiri memperbaiki masalah yang ada dalam I, tetapi juga membuat masalah baru. Film ini menambal film sebelumnya dengan mengorbankan aspek lain. Walhasil, keduanya pun sama saja. Seolah menampilkan dua wajah, namun dengan signifikansi perbedaan yang tipis. Bisa dibilang, Will lebih baik dinikmati tanpa berharap banyak pada aspek thriller-nya, dan belajar tentang psikologis manusia bersama tokoh utama, masalah, dan se-abreg dialognya. Dengan hasil yang ditunjukkan oleh I dan Will, bisa dibilang pula Anggy Umbara memang masih merupakan sutradara yang rajin bikin karya, namun dengan kualitas yang kebanyakan seadanya.

PENILAIAN KAMI
Overall
45 %
Artikel SebelumnyaI
Artikel BerikutnyaSurvive: The Rise of Psychopath
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.