Keluarga adalah segalanya, baik ibu, ayah, anak, maupun saudara. Sebagaimana kata Herwin Novianto melalui film arahannya, Yang Tak Tergantikan, dengan skenario yang digarap olehnya bersama Gunawan Raharja. Duet yang kedua setelah menggarap Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (bersama Jujur Prananto) yang rilis pada tahun 2016 lalu. Film drama keluarga produksi Falcon Pictures yang dirilis lewat platform Disney+ Hotstar ini diperankan oleh Lulu Tobing, Dewa Dayana, Yasamin Jasem, Maisha Kanna, Babe Ucup, dan Almanzo Konoralma. Tak banyak yang dapat diingat dari seorang Herwin, selain penghargaannya sebagai Best Director dalam FFI 2012 melalui Tanah Surga… Katanya –yang tampaknya sulit terulang kembali.

Aryati (Lulu Tobing) ialah ibu single parent dengan tiga orang anak yang bernama Bayu (Dewa Dayana), Tika (Yasamin Jasem), dan Kinanti (Maisha Kanna). Semenjak berpisah dengan sang suami, Aryati mesti bekerja keras dari pagi hingga malam demi mempertahankan kebutuhan ekonomi keluarga. Masalah perekonomian yang mendera keluarga ini pun merembet ke beragam hal, dan melahirkan persoalan-persoalan baru. Kendati demikian, mereka senantiasa berusaha agar kebersamaan mereka sebagai satu keluarga yang utuh tak tercerai berai. Terutama pengorbanan besar sang ibu, dan sikap Bayu sebagai satu-satunya sosok kakak laki-laki bagi kedua adik perempuannya.

Keistimewaan Yang Tak Tergantikan terletak pada suasana kehangatan keluarga. Memang momentum klimaksnya tak terlalu signifikan, atau elemen konfliknya terkesan biasa. Namun, bukan berarti film ini tak memiliki tawaran sendiri untuk mengatasi hal yang biasa tersebut. Sebagaimana Keluarga Cemara, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, atau Cek Toko Sebelah, film ini menitikberatkan ceritanya untuk terus menunjukkan eratnya hubungan satu keluarga, betapapun banyak masalah yang mendera masing-masing dari mereka.

Yang Tak Tergantikan cukup baik dalam memanfaatkan “meja makan” sebagai titik pusat dalam membicarakan hingga menyelesaikan masalah yang ada. Memang terasa dialog bertebaran di mana-mana. Hanya saja, ini tentu sepadan karena setiap kata dan kalimat yang diutarakan memang penting. Kendati ada beberapa yang semestinya masih bisa diupayakan visualnya, alih-alih memilih dialog untuk mengungkapkannya.

Sepertinya ada alasan tersendiri yang terkait dengan “keterbatasan” dalam film ini, sehingga banyak di antara kemungkinan visualnya dihadirkan melalui bentuk dialog. Sebab bila dilihat secara menyeluruh, Yang Tak Tergantikan tak banyak memiliki variasi setting lokasi. Kemungkinan keduanya, barangkali sedikitnya variasi setting lokasi yang digunakan bukanlah alasan yang sesungguhnya. Melainkan karena film ini ingin mendukung konsep ceritanya, yakni tentang kehangatan keluarga, eratnya kasih sayang antar-anggota keluarga, keterbukaan saat ada yang tertimpa masalah, kejujuran, rela mengalah, tak enggan meminta maaf, tahu diri akan kesalahan yang sudah diperbuat, serta sikap saling mendukung dan perhatian antarsesama anggota keluarga.

Tensi dramatisasi konfliknya memang tak sekuat NKCTHI, meski jumlah tokoh dan demografinya hampir sama. Begitu pula dengan karakteristik dari tokoh orang tua dan ketiga anaknya. Namun bukan berarti buruk sama sekali. Film ini paham betul bahwa problematika dalam ceritanya takkan mampu menyaingi NKCTHI. Jadi Yang Tak Tergantikan pun menggunakan pendekatan lain.

Baca Juga  The Sound of Metal

Walau pada saat yang sama harus merelakan sebagian besar adegannya diwarnai oleh banyak sekali dialog untuk menjelaskan segala sesuatu. Andaikata semua dialog ini hanya berisi kalimat-kalimat yang tak terlalu penting untuk diketahui oleh penonton, sudah barang tentu film ini benar-benar jatuh terjerembab hingga tak tertolong. Beruntung, sebagian besarnya ditempatkan dalam momen yang pas, sehingga biarpun ada satu-dua adegan dengan satu set lokasi hanya berisi dialog panjang, pada akhirnya tak jadi soal karena toh keberadaannya worth it.

Banyak hal yang terbatas dalam film ini. Mulai dari cakupan setting lokasi yang dipakai, para pemain yang kebanyakan baru kali pertama berakting, hingga variasi problematikanya. Bila dilihat secara menyeluruh, memang boleh dibilang Yang Tak Tergantikan hanya menyajikan aspek “kebersamaan keluarga” dengan menonjolkan perihal kehangatan dan kejujuran satu sama lain. Mulanya film ini seolah dipenuhi suasana keintiman hubungan sebuah keluarga kecil dengan masalah ekonomi. Namun problematikanya sebenarnya tak jauh-jauh dari yang selama ini telah jamak dipakai oleh film-film dengan tema dan genre sejenis. Ini juga yang menyebabkan beberapa part dalam film ini cukup mudah ditebak. Misalnya pelaku dan alasan di balik hilangnya suatu benda, masalah yang dialami oleh salah seorang tokoh, atau sejumlah informasi lain yang disembunyikan.

Ada kemiripan antara Yang Tak Tergantikan dengan sejumlah film drama keluarga lain seperti Keluarga Cemara misalnya. Yakni persoalan yang mendera ialah seputar perekonomian. Masalah semacam ini tak jarang turut memengaruhi banyak hal. Seperti gaya hidup yang harus berhemat, banyaknya keinginan di usia anak-anak yang tak jarang sukar terpenuhi hingga menciptakan jarak di antara orang tua dan anak. Kalau sudah begini, film-film genre sejenis biasanya menyelesaikannya dengan dialog intim, yang sebagian besar terjadi di meja makan.

Yang Tak Tergantikan boleh saja bila ingin dijadikan salah satu pilihan bagi yang tengah mencari film-film drama keluarga semacam Keluarga Cemara, NKCTHI, atau Cek Toko Sebelah, namun jangan terlalu berharap banyak, karena sensasinya takkan menyamai ketiga film tersebut. Konflik-konflik yang ditemui dalam film ini sebenarnya sangat umum dan mudah sekali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi justru inilah yang menjadi nilai plus dari film ini, karena malah menjadikannya terasa sangat dekat ketika ditonton. Seolah ikut mengalami sendiri apa yang terjadi dalam film bersama para tokohnya. Seakan-akan bangku penonton adalah bagian dari film ini juga, baik dengan komedi, roman, maupun drama keluarganya. Setidaknya, film ini punya kehangatan ceritanya sendiri.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaA Quiet Place Part II
Artikel BerikutnyaCruella
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.