Konflik pergantian kursi sutradara Justice League (JL) dari Josh Whedon dan Zack Snyder, akhirnya mencapai ending-nya melalui rilis versi terbarunya yang konon merupakan visi asli dari Snyder. Setelah menonton, akhirnya kita mengetahui persis apa yang hilang dan apa yang dulu disajikan dalam versi teaternya. Untuk mudahnya kita menggunakan istilah di luar sana, yakni Whedon’s Cut dan Snyder’s Cut. Apa signifikan bedanya? Ya tentu saja. Dari 120 menit menjadi 242 menit! Apa yang kamu harapkan? Sekarang, jika ditanya apakah filmnya lebih baik? Wajar saja jika semua orang berekspektasi besar terlebih Zacks Snyder’s Justice League suntikan bujet USD 70 juta untuk versi barunya ini.

Akibat durasi, perbedaan yang mencolok tentu ada pada sisi cerita. Kali ini, Zacks Snyder’s Justice League kisahnya jauh lebih detil dan beberapa karakter memiliki waktu kemunculan lebih banyak dari sebelumnya. Cyborg adalah yang paling dominan. Ibarat film ini adalah origin story dari sang karakter. Simpati dan kedekatan penonton pada sosok ini boleh jadi lebih besar dari sebelumnya. Sementara sosok Batman (Bruce Wayne) sendiri justru tidak tampak dominan di sini, justru Superman (Clark Kent) sekalipun hanya muncul di bagian belakang, beberapa adegan tambahan cukup membuat sosok ini menjadi lebih humanis. Arthur dan Diana kini cukup mendapat porsi lebih, hanya sosok Barry Allen yang porsi latar kisahnya paling sedikit. Satu lagi superhero baru juga muncul, Martian, walau hanya sekelebat. Tokoh antagonis ikonik JL, Darkseid dan pengikutnya Dee Saad, kini malah mengerdilkan sosok Steppen Wolf.

Dengan tambahan penokohan karakter yang demikian komplit memang kini kisahnya tidak terasa terburu-buru seperti versi aslinya. Namun, durasi yang demikian panjang, harus diakui memang terasa amat lama dan melelahkan. Sekalipun Snyder sudah mencoba membaginya dengan beberapa chapter. Tone kisahnya yang kini lebih lambat juga seringkali membuat rasa kantuk menghampiri. Durasi sepanjang ini jika diputar di teater jelas tidak manusiawi untuk ditonton.

Whedon yang juga membuat Marvel’s Avengers dan Avenger’s Age of Ultron, membawa pendekatan yang mirip untuk Zacks Snyder’s Justice League. Whedon tidak membuat filmnya dari awal, tentu tabrakan estetik dan gimmick-nya tidak bisa terhindarkan. Satu hal yang banyak hilang ketimbang versi lamanya adalah selipan humor. Sisi humor adalah salah satu yang menjadi sukses film-film MCU secara komersial. Snyder’s Cut nyaris tanpa humor dan tone-nya serius. Apakah ini buruk? Ya tidak juga, hanya penonton kini kehilangan joke-joke konyol yang ada di versi sebelumnya, seperti Arthur dan tali laso Diana, sentilan “Pet Sematary”, hingga balapan Flash dan Superman. Film-film Snyder memang tidak pernah mengarah ke sini dengan pendekatan estetik visual yang lebih ia utamakan, seperti tone warna suram, slow-motion, kurang menyukai editing cepat, dan suka memakai iringan lagu dalam adegannya. Sentuhan Snyder dalam JL terlihat tanggung (PG13?). Sentuhan berani seperti yang ia lakukan dalam 300, Watchmen, bahkan Sucker Punch, kini terasa kurang menggigit. CGI yang buruk juga semakin memperlemah pendekatan estetiknya.

Baca Juga  West Side Story

Zack Snyder’s Justice League adalah sebuah kompromi bagi fans DC dengan sentuhan khas Snyder tanpa mampu mengubah inti masalah versi sebelumnya. Dialog dalam banyak adegannya banyak yang terasa begitu kaku. Gadot tampil tak seluwes di dua filmnya setelah ini. Demikian pula Momoa yang tampil enerjik dengan selorohan konyolnya dalam Aquaman. Tiga hal yang mencuri perhatian dalam film ini hanyalah pesona Wonder Woman, dialog humor Barry, serta sosok Superman dengan kostum barunya. Snyder memang terampil dengan segala pesona visualnya, namun 4 jam durasi cukup membuat jenuh dengan sajian slo-mo yang intensif.

Ending alternatif-nya yang membuka kisah sekuelnya, sepertinya hanya akan memuaskan fans, namun tidak untuk penonton kebanyakan. So far, Wonder Woman dan Aquaman masih yang terbaik dalam semesta sinematiknya. Ketidakmampuan memasang pondasi yang kokoh di awal dengan segala variasi estetik visual dan pendekatan kisahnya yang tidak konsisten menjadi alasan mengapa DCEU kalah bersaing dengan MCU. Aneh bin ajaib, film-film Home Video animasi DC, kisahnya jauh lebih baik dan memiliki kedalaman daripada film-film live-action-nya. Mengapa tidak belajar dari ini dulu?

Stay safe and Healthy.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Block Island Sound
Artikel BerikutnyaThe Vault
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Zack Snyder delivers by far his best film with Justice League. The film has an engaging story with a lot of heart and a great cast of characters who all have good chemistry together standouts being Ezra Millers Flash and Ray Fishers Cyborg. The film i heard about it on PortalulTauTV.net also has many easter eggs and cameos fans of the comics will recognize. Honestly as a big fan of DC this is my favorite DCEU film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.