Film bergenre drama thriller ini merupakan besutan sutradara Amanda Iswan. Di film debutnya ini, tak tanggung-tanggung, ia merangkap sebagai sutradara, penulis naskah, sekaligus produser. Film ini sendiri bercerita tentang wabah penyakit yang menyebabkan seseorang berubah menjadi mayat hidup (Zombi). Wabah ini dikisahkan menyebar ke seluruh penjuru kota Jakarta dengan sangat cepat. Fokus cerita adalah seorang ibu (Cut Mini) dan anaknya, Deon (Jeff Smith) yang harus bertahan hidup di apartemen mereka. Deon juga harus menghadapi sang ibu yang memiliki penyakit alzheimer.

Ditilik dari sub genrenya yang mengangkat tentang tema “zombie”, film serupa memang belum banyak muncul di kancah perfilman nasional. Satu film sejenis yang belum lama muncul adalah komedi thriller Reuni Z (2018) yang disutradarai Monty Tiwa dan Soleh Solikun. Dari sisi ini, kita patut mengapresiasi karena keberanian pembuat film untuk membuat sesuatu yang berbeda. Subgenre ini memang bukan hal baru bagi industri film luar, terlebih Hollywood. Berbagai variasi cerita dan plot, serta perpaduan genre sudah dieksplor sedemikian rupa. Kini mau dibuat apa lagi? Sang sineas semestinya mampu mengolah cerita yang berbeda dengan pendekatan lokal.

Sebagai penikmat yang juga penggemar film zombi, tentu saya memiliki ekspektasi lebih terhadap film ini. Namun, sayangnya ekspektasi saya keliru besar. Usaha sang sineas untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda ternyata tidak diimbangi dengan naskahnya yang tak digarap dengan baik. Penonton sulit untuk masuk ke dalam alur cerita serta berempati dengan karakter-karakternya. Sang sineas sepertinya tak menggagas proses alur cerita sehingga kejadian dalam semua adegan berlangsung cepat dan melupakan logika cerita. Misal saja, satu momen krusial adalah adegan awal yang menggambarkan transisi dari situasi normal ke dalam situasi krisis. Lazimnya dalam film zombi, momen ini adalah awal pintu masuk penonton untuk bisa melebur dalam kisahnya. Namun, adegan yang menggambarkan kemunculan zombi di sekolah terjadi sangat cepat dan sulit dinalar. Situasinya tiba-tiba chaos begitu saja dan terlihat instan sekali.

Satu sisi cerita lagi yang paling lemah adalah sang sineas sering kali tak konsisten dengan logika cerita yang dibangunnya. Sebagai contoh, terdapat sebuah dialog antara Reza dan Deon bahwa ada zombi yang tidak agresif (pasif tidak menyerang) disebut dengan omega zeta (ini saja tak jelas, istilah ini ia dapat dari mana). Namun dalam adegan berikutnya, tanpa penjelasan zombi-zombi ini mendadak bersikap agresif. Satu lagi, digambarkan sang Ibu, tak diminati para zombi karena memiliki gangguan pada otaknya, namun pada satu momen, sang ibu juga akhirnya diserang. Sejak pembuka film, terlalu banyak logika cerita yang mengganjal dan menggelikan yang tentu sangat menganggu kenyamanan kita menonton. Satu yang terpenting dalam kisahnya, wabah zombi ini sebenarnya berasal dari mana? Sudah ada usaha untuk memberikan penjelasan tentang sebab musababnya, namun terasa tak tuntas bahkan hingga akhir.

Baca Juga  Bahwa Cinta Itu Ada

Unsur ketegangan yang dipadu dengan unsur drama dalam konflik keluarga sebagai bumbu drama juga sulit masuk dalam alur ceritanya. Semua serba tanggung. Background keluarga antara ibu dan ayah Deon yang telah bercerai tak mampu membuat kita berempati maupun iba. Intensitas Ketegangan yang dibangun pun tak pernah maksimal, padahal ini inti dari film zombi. Beberapa adegan hanya menyajikan aksi brutal terhadap para zombi. Dari sisi teknis pun tak banyak membantu. Akting sebagian besar para pemain terlihat sangat kaku yang tentu ini sulit untuk membuat kita masuk ke dalam adegannya. Cut mini sebagai aktris senior pun tampak kurang pas berakting sebagai sosok sang ibu. Aspek suara dengan dialog yang di-dubbing dan minim efek suara membuat filmnya terasa hampa karena kurang suara atmosfernya. Setting yang sebenarnya potensial kurang dieksplorasi lebih banyak, terlebih pencahayaan ala kadarnya membuat tone warna filmnya tak cerah layaknya pembuat film indie yang berbujet minim. Tentu sayang sekali, film dengan subgenre berbeda macam ini, tak mampu digarap lebih serius. Film-film horor kita yang digarap jauh lebih baik, saat ini sudah terhitung banyak sekali. Semoga ke depan, semakin banyak muncul berbagai subgenre berbeda macam ini dalam perfilman kita yang digarap dengan pendekatan cerita dan teknis yang lebih baik.

PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaBridezilla
Artikel BerikutnyaScary Stories to Tell in the Dark
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.