Robin Hood (2018)
116 min|Action, Adventure, Drama|21 Nov 2018
5.4Rating: 5.4 / 10 from 85,215 usersMetascore: 32
A war-hardened Crusader and his Moorish commander mount an audacious revolt against the corrupt English crown.

Robin Hood telah diproduksi puluhan kali dengan versi dan genre yang berbeda-beda. Robin Hood kali ini diarahkan oleh Otto Bathrust yang diadaptasi lepas dari hikayat Robin Hood. Film ini dibintangi oleh Taron Egerton, Jamie Fox, Ben Mendelsohn, Eve Hewson, serta F. Murray Abraham. Film berdurasi 116 menit ini diproduseri oleh bintang besar, Leonardo diCaprio. Bagaimanakah versi Robin Hood kali ini jika dibandingkan pendahulunya?

Robin of Loxley adalah seorang pemuda bangsawan yang mewarisi kastil besar keluarganya di kota Nottingham. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Marian dan mereka berdua hidup dengan penuh kebahagiaan hingga Robin mendapat perintah wajib militer dari otoritas setempat untuk terjun ke medan perang dengan pihak Arab. Robin adalah seorang prajurit yang tangguh hingga akhirnya ia dipulangkan setelah membela tahanan tentara pihak musuh yang dieksekusi tanpa alasan jelas. Seorang tentara tahanan senior, Yahya alias John berhasil kabur dan mengikuti Robin hingga ke Inggris. Robin mendapati dirinya tak memiliki apapun lagi sesampainya di kampung halamannya. Hartanya disita oleh otoritas dan ia pun kehilangan Marian. Kesewenangan sherrif Nottingham membuat para bangsawan semakin kaya dan rakyat miskin semakin menderita. Robin dibantu John membantu mereka dengan cara mereka, mencuri uang untuk penguasa dan dibagikan untuk rakyat miskin.

Kisah Robin Hood kali ini memang berbeda dengan film-film sang pencuri yang jago panah sebelumnya. Bak Batman ia beraksi solo dengan didampingi John menggunakan tudung untuk menutup identitasnya. Tak ada hutan serta pepohonan yang menjadi markas sang jagoan. Semua kisahnya terfokus di kota dan tambang yang menjadi tempat tinggal rakyat kelas bawah. Gelagat buruk kisahnya sebenarnya mulai tampak sejak John mulai melatih Robin. Semua serba cepat dan memaksa dengan alur plot amat datar. Kejanggalan kisahnya pun tak bisa dihindari. Aneh, bagaimana mungkin sang sherrif bisa percaya begitu saja dengan Robin yang hartanya sudah habis, kini mendadak bisa menyumbang banyak uang. Robin Hood kali ini memiliki kisah medioker yang kelokan plotnya tak sulit diantisipasi.

Baca Juga  Companion | REVIEW

Sejak pembuka film, sajian aksi hingga set, properti, dan kostum seluruhnya ditampilkan mengesankan. Adegan-adegan aksinya pun disajikan lumayan berkelas dan tampak natural seolah tanpa campur tangan CGI. Amat disayangkan, segala pencapaian artistiknya yang sangat baik ini tidak berimbang dengan kisahnya yang lemah. Aktor dan aktrisnya pun sebenarnya tak bermain jelek, hanya naskahnya saja yang memang buruk. Menyinggung kembali Batman, agak aneh juga, score-nya rada mirip trilogi The Dark Knight.

Dengan production values yang demikian mengagumkan, panah Robin Hood kali ini tumpul, datar, dan luput dari sasaran. Agak mengherankan, genre yang sudah tak lagi populer dan tak laku ini, masih berani diproduksi dengan bujet begini besar. Masih kuat dalam ingatan, kegagalan kritik dan komersial tahun lalu, King Arthur: Legend of the Sword. Walau kisahnya tak menggigit, namun uniknya plotnya sedikit berani menyinggung isu besar yang kini tengah panas. Tentu sudah tak heran lagi, jika pihak negara adidaya sendiri yang mensuplai senjata untuk negara-negara yang tengah konflik untuk melawan tentaranya sendiri.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaFantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, a Masterpiece?
Artikel BerikutnyaDongeng Mistis
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Mengejutkan, berasa film ini dinaskahi oleh seorang amatir. Terlalu datar, terlalu mudah ditebak, terlalu..standar, kl ga tega mau bilang jelek. Hehe

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses