Rogue One: A Star Wars Story (2016)

133 min|Action, Adventure, Sci-Fi|16 Dec 2016
7.8Rating: 7.8 / 10 from 690,201 usersMetascore: 65
In a time of conflict, a group of unlikely heroes band together on a mission to steal the plans to the Death Star, the Empire's ultimate weapon of destruction.

Rogue One: A Star Wars Story adalah proyek spin-off pertama dari seri Star Wars yang dikenal sebagai Star Wars’s Anthology. Film ini digarap oleh Gareth Edwards yang sebelumnya kita kenal dengan Monsters (2010) dan Godzilla (2014). Rogue One dibintangi sederetan pemain antara lain, Felicity Jones, Mads Mikkelsen, Diego Luna, Donnie Yen, dan Forest Whitaker. Dengan berbekal bujet produksi US$200 juta apakah film ini mampu mengulangi sukses seri Star Wars sebelumnya?

Untuk memahami plot Rogue One jelas tidak mudah tanpa memahami cerita seri ini sebelumnya. Jika masih ingat di awal segmen Star Wars Episode IV: A New Hope terdapat adegan ketika Darth Vader dan storm troopers masuk ke dalam pesawat pemberontak untuk mencari skema rancangan Death Star. Rogue One berkisah tentang darimana dan bagaimana skema rancangan tersebut didapat namun ternyata plot filmnya sendiri tidak sesederhana yang kita bayangkan.

The Rebels atau pihak pemberontak mendapatkan info tentang pesan rahasia yang dikirim oleh Galen Erso berisi tentang senjata pemusnah planet yang dimiliki kekaisaran. The Rebels mengutus perwiranya Cassian Andor serta Jyn Erso ke Planet Jedha untuk mendapatkan kebenaran pesan tersebut. Jyn sendiri adalah putri dari Galen yang sejak usia cilik terpisah dari ayahnya. Usaha mereka ternyata tidak mudah karena pesan tersebut ada pada Saw Gerrera, pimpinan pemberontak ekstrimis, yang juga kebetulan “ayah angkat” dari Jyn.

Rumit sekali. Plotnya persis segmen awal A New Hope yang terjadi begitu cepat dan kita pasti bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam A New Hope alur ceritanya berangsur-angsur melambat dan memberi kesempatan pada kita untuk pelan-pelan bisa memahami kisah dan para tokohnya. Sementara Rogue One justru sebaliknya. Tempo cerita sama sekali tidak melambat dan nyaris tidak memberi kesempatan pada kita untuk berpikir tentang apa dan siapa yang ada di layar. Penokohan yang lemah dan lebih mementingkan pada proses dan peristiwa membuat kita sulit untuk bisa masuk ke dalam karakter-karakternya. Selera komedi yang menjadi bumbu seri Star Wars kini pun disajikan buruk sekali. Ini yang merupakan masalah utama Rogue One. Alhasil kita nyaris tidak peduli sejak awal hingga akhir dengan apapun yang ada dalam film ini kecuali menikmati “perjalanan nostalgia” melalui sudut penceritaan, tokoh, dan lokasi berbeda dari dunia yang sudah kita kenal dengan baik.

Baca Juga  War for the Planet of the Apes

Sejak opening-nya gelagat buruk filmnya sudah mulai terlihat. Opening teks Star Wars yang amat fenomenal itu hilang entah kemana. Teks berjalan ini bisa jadi dihilangkan untuk mempertegas jika ini bukan bagian dari kisah utama seri ini namun efeknya penonton terasa kehilangan sesuatu. Setelah semuanya berakhir dan jika “teks” dipasang sekalipun rasanya bukan masalah. Ini sungguh keputusan yang buruk. Bicara soal ilustrasi musik juga nyaris sama dan salah satu kekuatan Star Wars ada pada aspek ini. Nuansa musik “Star Wars” memang masih ada disana namun ada sesuatu yang hilang dan terasa tanggung. Sayang sekali.

Jika bicara pencapaian visual rasanya tidak ada yang perlu diragukan. Semuanya serba nyata dan fantastis. Hal yang amat menarik adalah “tone” filmnya yang nyaris sama dengan A New Hope padahal Rogue One diproduksi hampir empat dekade setelahnya. Setting, kostum, pesawat, senjata, dan lainnya bisa berpadu sempurna dengan amat mengesankan. Fans sejati Star Wars dijamin bakal menikmati kontinuiti visual yang disajikan walau perang di klimaks terasa repetitif dengan film-film sebelumnya. Kehadiran kembali tokoh-tokoh utama seri ini khususnya Darth Vader pasti amat dinantikan. Segmen terbaik justru disimpan pada penghujung filmnya ketika tokoh ini beraksi dengan menutup kisah yang bakal mengawali plot Episode IV.

Pencapaian CGI yang sangat mengesankan dan munculnya beberapa karakter ikonik tidak lantas bisa mengangkat Rogue One yang kisahnya rumit dan kehilangan ruh dari serinya. Tidak ada Jedi disini. Tokoh-tokohnya hanya berulang-kali menyinggung “The Force” tanpa kita tahu apa sebenarnya mereka paham dengan apa yang mereka katakan.  Film ini tak ubahnya seperti The Force Awaken yang hanya sebatas nostalgia semata. Membangun sesuatu dari sebuah seri yang telah menjadi bagian dari ikon sinema ternyata tidak mudah. Semua aspek menjadi sorotan. Tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Namun jika ada yang mengatakan Rogue One dan The Force Awakens dibuat hanya untuk sekedar mengekor sukses komersil seri sebelumnya, saya sependapat dan sebagai fans Star Wars saya amat kecewa sekali dengan keduanya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaKimi no Na wa
Artikel BerikutnyaJames Bond Idaman Kaum Hawa
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.