Ruma Maida (2009)
90 min|Drama|29 Oct 2009
7.6Rating: 7.6 / 10 from 32 usersMetascore: N/A
A scholar researches the historical significance of a house that serves as a free school in hopes of saving it from being demolished by a developer.

Ruma Maida adalah film drama besutan sutradara Teddy Soeriaatmadja yang sebelumnya menggarap film-film seperti Banyu Biru, Ruang, dan Badai Pasti Berlalu. Naskah filmnya ditulis oleh Ayu Utami. Film ini dibintangi beberapa bintang baru seperti Atiqah Hasiholan, Nino Fernandez, Yama Carlos, serta Imam Wibowo. Film ini dirilis bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober baru lalu.

Film ini berkisah tentang Maida (Atiqah Hasiholan) seorang mahasiswi yang suka mengajar anak-anak jalanan di sebuah rumah tua kosong. Suatu ketika Maida dan anak-anak didiknya diusir karena rumah tersebut akan dibongkar menjadi sebuah gedung perkantoran. Sakera (Yama Carlos), arsitek yang akan membangun gedung di tanah sengketa tersebut bersimpati dengan Maida. Bersama Sakera, Maida mencoba untuk mengungkap sejarah rumah tua tersebut karena ternyata terkait erat dengan Isak Pahing (Fernandez), seorang pemusik keroncong yang konon lagunya menginspirasi Presiden Sukarno untuk membentuk gerakan nonblok.

Film ini dituturkan secara menarik dengan sering menggunakan teknik kilas-balik. Kisah masa kini (Kisah Maida) adalah berlatar tahun 1998. Sementara era masa silam (Kisah Isak Pahing) dituturkan secara acak (tidak linier) antara tahun 1928 hingga 1945 sehingga cenderung membuat penonton bingung jika tidak fokus dengan cerita. Namun secara keseluruhan cerita filmnya dituturkan secara apik dan rapi hingga klimaks cerita. Kelemahan filmnya seperti film-film kita lazimnya adalah alur cerita yang mudah ditebak serta masalah logika. Lahan rumah tua tersebut ingin dialih-fungsi menjadi areal bisnis modern. Jika diperhatikan besar luas bangunan dan tanah rumah, sepertinya terlalu kecil untuk fungsi tersebut. Ketika Maida dan Sakera mencari ruang rahasia di rumah tua tersebut, aneh rasanya jika Maida sebelumnya tidak pernah melihat gambar-gambar di dinding. Sakera yang seorang arsitek anehnya juga tidak bisa menemukan ruang rahasia di rumah yang relatif tidak terlalu besar tersebut.

Baca Juga  Para Betina Pengikut Iblis

Untuk mengakali latar masa silam, sineas cukup cerdik dengan lebih banyak menggunakan setting interior yang ditata cukup apik. Sayang sudut pengambilan kamera tidak pernah memperlihatkan secara jelas jika rumah Isak Pahing di masa silam dan masa kini adalah rumah yang sama. Beberapa setting eksterior, seperti pada adegan awal, ketika tentara Jepang menangkap Hanz Schmutzer juga tampak sangat meyakinkan. Satu kesalahan yang sangat fatal adalah tata rias wajah. Tokoh Bertha (Wulan Guritno) dan Sukarno nyaris tidak ada bedanya (tidak bertambah tua) ketika muncul pada tahun di 1928 dan 1945. Ada selang waktu sekitar 15 tahun disini, apa iya wajah mereka tidak berubah?. Satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah penggunaan teknik handheld camera terutama pada segmen cerita masa kini. Penggunaan teknik ini dalam beberapa adegan tampak begitu kasar sehingga membuat gambar tidak nyaman untuk dilihat. Entah apapun motifnya, seperti tidak ada bedanya jika handheld camera digunakan sewajarnya.

Pesan yang ingin disampaikan sepertinya adalah semangat sumpah pemuda yang tampaknya menjiwai Maida untuk terus berjuang memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak jalanan. Maida menjadi tokoh teladan dalam film ini, seorang pemudi yang berbekal seadanya namun berusaha keras untuk memperjuangkan nasib kaum terpinggirkan. Ruma Maida sebenarnya mampu berkisah lebih baik dan menarik dengan menggali cerita lebih dalam, terutama tokoh-tokoh masa silamnya. Dengan segala kekurangannya namun usaha Ruma Maida untuk mengangkat semangat Sumpah Pemuda cukup layak kita beri pujian.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaSerigala Terakhir, Mau Bicara Soal Gaya
Artikel BerikutnyaBand of Outsider, Bagaimana Godard Mengilhami Tarantino
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.