Rumah Merah Putih merupakan film yang ditulis dan disutradarai oleh Ari Sihasale dan diproduseri oleh Nia Zulkarnaen. Keduanya telah beberapa kali memproduksi film dengan tema kehidupan anak-anak di wilayah Indonesia timur, seperti Denias, Senandung Di Atas Awan (2006), Tanah Air Beta (2010), dan Di Timur Matahari (2012). Film yang diperuntukkan semua umur ini mengangkat pesan nasionalisme.

Menjelang Hari Kemerdekaan, Farel dan Oscar menyambutnya dengan semangat. Di kampung mereka yang terletak di perbatasan NTT – Timor Leste, setiap rumah dibagikan cat berwarna merah dan putih untuk memeriahkan suasana hari kemerdekaan. Sayangnya, ketika turut serta dalam lomba panjat pinang, Farel melupakan kaleng cat yang seharusnya ia serahkan kepada ayahnya di rumah. Ia tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya kepada sang ayah sehingga berbagai cara pun ia lalukan untuk mendapatkan kaleng cat merah dan putih.

Dengan keindahan alam Indonesia Timur yang begitu indah, Rumah Merah Putih begitu memanjakan mata penonton. Shot-shot yang disajikan pada opening film membawa imajinasi ke daerah yang belum pernah saya jamah. Sayangnya, sajian sinematografi yang baik ini tidak diimbangi dengan kedalaman naskah sehingga film ini tidak mampu meraih hasil maksimal meskipun inti pesan yang disampaikan  sangat mudah untuk dipahami.

Mengangkat kisah dari Indonesia Timur yang tidak banyak termediakan memang tujuan yang sangat mulia. Tapi, rasanya sineas lupa bahwa tidak semua penonton memiliki pengalaman dan kedekatan dengan masyarakat Indonesia Timur. Tempo bicara para pemain yang cepat dengan aksen yang begitu khas membuat penonton sering kali harus menebak maksud pembicaraan mereka. Walau ketika menggunakan bahasa daerah teks terjemahan tersedia.

Tentu tidak mudah untuk memproduksi film yang berkasting anak-anak. Apalagi, para pemain belum memiliki banyak pengalaman berakting. Kekurangan ini dapat dilihat pada beberapa adegan di mana ekspresi para pemainnya tampak kurang menjiwai. Penampilan Pevita Pearce yang diunggulkan pun tidak memberikan kesan memukau. Naskah yang lemah membuat sang aktris tidak memiliki porsi yang cukup untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Pada satu momen, terdapat satu adegan penting di mana sang pemain seharusnya terlihat sangat sedih. Teknik penyajian adegannya seolah hanya lewat saja, datar, tanpa ada intensitas yang diciptakan dengan sungguh-sungguh.

Kecewa dengan banyak adegan yang berkesan datar tanpa kesan, saya pun menemukan logika cerita yang buruk. Orang tua mana sih yang mau menuruti keinginan anaknya begitu saja, terlebih jika taruhannya adalah keselamatan jiwa? Memang tampak jelas, pesan yang ingin disampaikan, yakni minimnya akses dan fasilitas kesehatan di sana. Namun, alur cerita yang lebih rasional bisa dieksplor lagi, bukan semata menggampangkan plotnya agar sesuai dengan tujuan akhir film. Kekurangan film juga terlihat dari latar detail cerita sehingga tidak mampu menceritakan dengan jelas sejauh apa masalah yang dialami tokoh utamanya. Seberapa parahkah sebenarnya sakit yang dialami oleh tokoh utama? Tidak ada penjelasan yang menginfokan urgensi untuk mendapatkan fasilitas yg lebih baik. Sebaliknya, atas upaya yang telah dilakukan untuk pergi jauh demi mendapatkan bantuan kesehatan, orang tua sang anak justru dengan mudah mengurungkan kepergian hanya karena sang anak tidak ingin berpisah dengan teman-temannya. Lalu bagaimana dengan kesehatannya? Kegagalan ini, ditambah dengan logika cerita yang bolong membuat rasanya ingin segera meninggalkan bioskop.

Baca Juga  Melbourne Rewind

Saya jadi curiga, alih-alih menyuarakan hak masyarakat Indonesia Timur, isu yang diangkat dalam film-film yang menampilkan kondisi wilayah Indonesia Timur ini hanyalah sebagai komodifikasi semata agar memiliki daya tarik yang menciptakan nilai ekonomi. Mengapa begitu? Karena pada penghujung film, shot yang disuguhkan pun hanyalah mengutamakan keindahan gambar tanpa memikirkan logika film. Tampak sekali sineas lebih mengutamakan sajian keindahan alam dibandingkan menyajikan adegan dan shot yang realistis. Bukankan latar belakang alam yang indah semestinya hanyalah sebagai unsur pendukung yang memperkuat pesan dari cerita film?

Menonton film ini, saya kadang mempertanyakan kesungguhan pembuat film dalam memproduksi film? Misi mereka di sini jelas untuk memberitahu masyarakat luas bahwa masih ada warga kita yang butuh perhatian di wilayah Indonesia Timur. Rasanya penonton tidak akan keberatan dengan film-film bertema ini. Kita Indonesia dan kita saling mencintai. Tapi, marilah ajak masyarakat Indonesia untuk benar-benar mencintai produk Indonesia dengan rasa cinta yang utuh bukan hanya semata karena berempati. Kita pasti bangga dan kagum atas pencapaian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh layaknya para pejuang yang telah berusaha dengan maksimal memajukan sinema Indonesia hingga ke ranah internasional. Tentu yang bisa dilakukan sineas film kita adalah meningkatkan kualitas filmnya. Bukan semata membuat film yang menampilkan kondisi alam yang indah.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaMen in Black: International
Artikel BerikutnyaMendadak Kaya
Debby Dwi Elsha
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.