Tiba-tiba saja ia seolah pahlawan, dielu-elukan oleh para pejalan kaki yang melihat aksinya. Ia menulis ditembok gedung menggunakan pilok hitam seperti ini :

I, Daniel Blake

Demand my appeal date before I starve

And change  the shite music on the phone

 

Aku Daniel Blake

Menuntut tanggal sidang bandingku sebelum aku kelaparan

Dan ganti juga nada tunggu sialan di telepon.

Gedung itu adalah gedung pemerintah yang kalau di Indonesia semacam gedung dari departemen tenaga kerja atau institusi yang mengurusi ketanaga-kerjaan maupun jaminan sosial bagi pekerja maupun warga biasa, tentunya di Indonesia masih jauh seperti di negara asal film ini, Inggris. Bisa jadi yang dilakukan Daniel Blake (Dan), sebuah aksi vandal atau juga sebuah art form atau seni jalanan (street art) atau instalasi seni, yang dilakukan Dan muncul dari kekakuan tatanan sosial yang serba mengatur dengan segala sistem yang dibuat. Yang ia lalukan adalah respon atas apa yang ia alami di institusi pemerintah tersebut, ia diping-pong saat mengurus jaminan hidup karena faktor kesehatan tidak memungkinkan untuk bekerja ditempat kerja lamanya. Sementara para pejalan kaki bertepuk tangan mereka sama-sama tahu sekaligus merasa pernah mengalami masalah yang sama ketika berhadapan dengan institusi tersebut. Dan diamankan polisi, tentunya dengan sorakan pahlawan yang mengiringinya.

Daniel Blake, berumur 59 tahun, ia tinggal di kota Newcastle. Ia baru saja terkena serangan jantung yang menyebabkan tidak diizinkan bekerja, karena itu ia berharap mendapatkan bantuan jaminan hidup. Meskipun dokter sudah merekomendasikan tetapi sistem yang dibuat pemerintah mengisyaratkan bahwa Dan tidak layak mendapatkan bantuan tersebut. Lalu ia disarankan untuk membuat lamaran kerja yang di-support pemerintah dan ia pun mengikutinya. Ia harus mengajukan aplikasi banding pengajuan jaminan sosial dan mengisi aplikasi pencari pekerjaan yang mensyaratkan dilakukan secara online. Sistem yang nampak baik tetapi tidak berlaku bagi Dan, seorang carpenter yang selalu menulis dengan pensil dan mampu membangun rumah sendirian tetapi bermasalah dengan internet dan teknologi terkini.

Dalam proses mengurus semua haknya, ia bertemu Katie, Ibu dua anak yang juga bermasalah dengan sistem yang ada. Katie bersama dua anaknya dan masalah yang mereka hadapi membuatnya bertaut dengan Dan. Banyak hal sederhana nan menyentuh kemanusian kita, menyaksikan hubungan mereka.

Dan, Katie dengan kedua anaknya berada pada batas keputusasaan dan harapan. Birokrasi dengan sistemnya seolah akan menyelesaikan seluruh masalah warga tetapi kebingungan dan ketakberdayaan yang paling sering dirasakan ketika menghadapi hal tersebut. Mereka hanyalah warga biasa yang ingin bertahan hidup dengan bermartabat.

Baca Juga  The Kingdom of Dreams & Madness

Film ini sangat mampu menggambarkan permasalahan yang dihadapi seseorang ketika berhadapan dengan birokrasi. Film yang realis ini tidak berusaha membuat segalanya menjadi terlalu drama tetapi sebuah refleksi bahwa yang dialami Dan & Katie bisa dialami siapapun, dimanapun kita sebagai warga negara. Meraka berada dalam posisi tersebut bukan karena mereka memilih itu atau hal buruk yang pernah ia lakukan, tetapi karena hidup itu sendiri yang membawa mereka sampai kesana. Seperti adegan ketika Katie memakan makanan keleng di bank makanan yang disediakan buat warga miskin, spontan Katie memakan itu, lalu dia menangis, betapa memalukan apa yang baru saja ia lakukan. Ia melakukan itu karena memang kelaparan yang sudah tidak tertahan. Juga ketika Katie harus mencuri pembalut, alat cukur, dan deodorant di sebuah mini market. Begitu dekatnya film ini dengan keseharian banyak orang sebagai warga negara, membuat saya tidak mengomentari “aspek teknis’ film ini. Film ini layak ditonton karena begitu dekatnya dengan sekitar kita.

Pada akhirnya Dan mendapatkan jadwal banding untuk mendapatkan jaminan hidup, bersama Katie, ia percaya diri akan mendapatkan jaminan tersebut. Sesampainya di kantor tempat banding, Dan ke toilet dan mendapatkan serangan jantung. Serangan yang mungkin bisa karena terlalu senang harapan datang atau karena terlalu capek dipermainkan oleh sistem yang ada. Dan pun meninggal.

Di upacara pemakaman yang sering disebut sebagai  “the pauper’s funeral”  atau pemakaman bagi warga miskin yang diadakan pada jam 9 siang, karena jam ini adalah paling sepi dan paling murah untuk disewa, Dan pun diberi penghormatan oleh segelintir orang. Katie membacakan CV yang dibuat Dan yang rencananya akan ia sampaikan saat mengajukan banding untuk mendapatkan jaminan sosialnya. Seperti berikut :

I am not a client, a customer, nor a service user.

I am not a shirker, a scrounger, a beggar, nor a thief.

 I’m not a National Insurance Number or blip on a screen.

I paid my dues, never a penny short, and proud to do so.

I don’t tug the forelock, but look my neighbour in the eye and help him if I can.

I don’t accept or seek charity.

My name is Daniel Blake. I am a man, not a dog.

As such, I demand my rights.

I demand you treat me with respect.

I, Daniel Blake, am a citizen, “nothing more and nothing less.”

 Thank you.

 

Kalau ada yang bilang bahwa film adalah refleksi sosial suatu masyarakat, film ini salah satunya yang terbaik. Juga film ini adalah kritik terhadap tatanan sosial yang syahdu.

WATCH TRAILER

Artikel Sebelumnya7 Alasan Mengapa Menonton Film-film Woody Allen
Artikel BerikutnyaPuisi Paterson di Kota Paterson
Pernah belajar film secara formal di Jogja dan Jakarta. Pernah dan masih membuat film diwaktu luang. Sekarang tinggal dan beraktifitas di Kota Bogor. Ketika akan menonton film selalu ingat dengan kata-kata “Hidup terlalu singkat untuk menonton film yang jelek”. Penulis saat ini mengasuh kolom frontier pada montasefilm.com

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.