Searching (2018)
102 min|Drama, Mystery, Thriller|31 Aug 2018
7.6Rating: 7.6 / 10 from 179,686 usersMetascore: 71
After his teenage daughter goes missing, a desperate father tries to find clues on her laptop.

Searching adalah film thriller unik yang mengawali debut rilisnya di Sundance Film Festival 2018 di awal tahun lalu. Melihat potensi filmnya, Sony Pictures lalu membeli hak edar rilis global film ini yang dirilis tujuh bulan kemudian. Film ini sendiri digarap oleh sineas debutan, Aneesh Chaganty, dengan dibintangi oleh John Cho serta Debra Messing. Sineas kenamaan asal Rusia, Timur Bekmambetov, menjadi salah satu produsernya. Timur pun pernah memproduseri film sejenis yakni, Unfriended, dan sekuelnya yang rilis tahun ini.

David Kim tinggal bersama putrinya, Margot, sepeninggal sang ibu. Suatu hari, di luar kebiasaan, David putus kontak dengan putrinya yang awalnya ia anggap hal biasa. Sang putri yang tak kunjung mengontaknya membuatnya khawatir hingga ia berusaha mengontak rekan-rekan Margot, namun tak satu pun memberi jawaban yang memuaskan. Ia lalu melaporkan hal ini kepada polisi sembari membantu mereka mencari info tentang putrinya melalui sosmed. Semakin dalam mencari info tentang Margot, semakin pula David menyadari bahwa selama ini, ternyata ia tidak lagi mengenali putrinya.

Kemasan visual semacam ini memang bukan hal yang baru, contoh termudah yang populer adalah film horor Unfriended. Seperti halnya film found footage yang disajikan melalui mata kamera, penonton hanya melihat alur kisah film ini melalui layar monitor komputer serta handphone. Mungkin lebih tepatnya disebut, “sosial media footage” karena sepanjang film, David mencari info melalui beragam media sosial populer, seperti Facebook dan Youtube. (Belakangan, banyak pengamat film menyebut gaya atau subgenre ini sebagai “screenlife”). Searching dengan genre yang berbeda (nonhoror) yakni drama-thriller, film ini memaparkan sisi misteri secara intensif melalui kemasan unik ini dengan cara yang sangat brilian.

Filmnya dibuka melalui sebuah montage yang amat manis dan menyentuh, menggambarkan latar belakang keluarga Kim. Hanya melalui tampilan akun sosmed dari masa ke masa dengan iringan musik ringan, mampu menyuguhkan momen-momen menyentuh keluarga Kim yang bakal mampu membuat basah, mata penonton. Boleh jadi, ini adalah salah satu montage terbaik dalam film yang rilis tahun ini.

Baca Juga  Pelajaran dari Film “Searching” untuk Ayah (dan Calon Ayah)

Alur cerita bergulir menggunakan struktur tiga babak yang jamak digunakan dalam film mainstream. Namun, sejak awal kita mampu dibawa masuk ke dalam sisi misteri yang selalu mengusik rasa penasaran. Kejutan demi kejutan terus terjadi sepanjang cerita dan unsur ketegangan pun terjaga dengan sangat baik. Hebatnya lagi, tensi ketegangan pun semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sejak awal, sineas seolah sudah memberikan “tanda” arah cerita ke depan, namun secara cerdas pula ia mampu membalikkan semua bahkan hingga akhir cerita. Really smart.

Walau tak tampil langsung secara fisik, dua aktornya John Cho dan Debra Messing bermain sangat menawan. Simpati penuh kita ke karakter sang ayah karena Cho bermain begitu mengesankan dan begitu emosional. Sosok sang detektif pun yang diperankan Messing juga bermain sama baiknya.

Melalui pendekatan gaya visualnya yang unik, Searching menawarkan sebuah kisah penuh misteri yang begitu menegangkan serta sisi dramatik yang menyentuh, dengan cara yang cerdas dan brilian. Tak disangka, alur cerita yang hanya dikisahkan secara terbatas melalui layar komputer semacam ini, mampu menyajikan kisah begitu mengesankan dan menyentuh. Searching, tanpa keraguan adalah salah satu film terbaik tahun ini.

Kisahnya sendiri juga banyak menyinggung media sosial yang kini telah jamak digunakan dengan segala teknologinya, serta pula resikonya terutama bagi kalangan remaja yang masih labil. Namun, di sisi lain, media sosial juga merupakan media komunikasi yang sangat efektif dan cepat untuk membagi informasi dalam menyelesaikan banyak masalah. Last but not least, Searching, sejatinya adalah film bertema keluarga. Kita semua tahu, keluarga adalah benteng terakhir untuk bisa menjaga nilai moral dan nilai luhur manusia di tengah gempuran teknologi komunikasi serta media sosial yang demikian hebat.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaMile 22
Artikel BerikutnyaSultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.