Berawal dari sukses produksi film pendek Umbul (2013), ide cerita ini bergulir. Kejadian Pagebluk memang tak asing di wilayah seputar Ngablak, Magelang. Kala itu terjadi di tahun 2007, tepat di bawah desa tempat kami produksi film Umbul. Kebetulan pula, dusun di tempat kami produksi, Noyogaten, ternyata pernah mengalami hal yang sama beberapa puluh tahun silam. Konon puluhan nyawa melayang hanya dalam beberapa hari tanpa ada sebab yang jelas. Warga waktu itu jelas mengkaitkan dengan hal mistik. Ini yang mendasari ide kisah Pagebluk.

Kisah film Pagebluk sederhana saja, Mbah Surip, (tokoh fiktif dalam Umbul), menyelidiki kejadian Pagebluk di sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu. Plot filmnya sendiri terjadi sehari setelah warga dusun eksodus, pergi dari desa karena ketakutan akan wabah misterius. Intinya seperti film detektif, namun kini bukan detektif, namun seorang paranormal, orang pintar, dukun, atau dulu diistilahkan seorang pendekar berilmu kanuragan. Mbah Surip pun bersama Pak Bayan (kepala Desa) berusaha mencari tahu penyebab kematian warga. Ada rasa Hollywood di sini, namun nuansa lokal sangat terasa sekali di plotnya.

Naskahnya sendiri mulai serius ditulis sejak tahun 2015. Dengan banyak keterbatasan, naskah pun ditulis menyesuaikan kemampuan produksi komunitas kami. Agak terasa nekat memang, dulu kami berpikir, kami mampu memproduksi film Nyumbang yang berdurasi 20 menit dengan bujet, taruhlah 5 juta. Berarti dengan 20 juta kami pasti membuat film berdurasi 80 menit. Ha ha, ternyata ini tidak semudah yang kami pikir.

Naskah pun mulai ditulis dengan beragam cara agar film ini bisa diproduksi dengan biaya murah dan kru yang minim. Pemain jelas sudah kami pegang, karena kami sudah beberapa kali produksi bersama para pemainnya sejak Umbul. Karakter pemain dibuat sesedikit mungkin sekitar 6-7 orang. Soal pemain, memang tak sulit buat kami. Proses pencarian lokasi syuting, kami lakukan sejak awal 2016, dan kesulitan utamanya adalah kami harus produksi di saat kondisi berkabut. Hah yang benar, kabut? Iya. Nyaris 80% produksi film ini dilakukan di saat kondisi berkabut sungguhan, khususnya adegan eksterior. Akhirnya kami pun memilih lokasi syuting di Dusun Genikan, di lereng Merbabu yang merupakan salah satu desa tertinggi di wilayah ini. Dinginnya bukan main, kalau malam hari konon bisa di bawah 10°C. Sebagian besar rumah-rumah tinggal di sana, masih seperti kondisi aslinya sejak berpuluh tahun silam. Untuk beberapa adegan, kami mengambil di beberapa dusun yang memang sudah kami kenal betul karena telah produksi di sana.

Bea produksi pun, akhirnya kami sepakati dengan patungan, dan hasilnya pun tak banyak memang. Setelah kami hitung setidaknya cukup untuk makan kru dan pemain, sewa beberapa alat, uang transport, hingga sedikit fee pemain. Kami pun juga berusaha meminjam alat dari beberapa rekan untuk mengurangi biaya produksi dengan kompensasi tertentu. Pokoknya semua serba minim. Produksi pun, memakan waktu lebih dari setahun. Setahun? Ini bisa terjadi karena kami tidak lantas sepanjang waktu ada di sana, melainkan hanya 3 hari dalam seminggu. Ini pun hanya sebulan saja yang berturut-turut, sisanya kami bergerilya sendiri. Adegan-adegan sulit kami selesaikan di awal, khususnya adegan dialog dalam ruangan. Tak terlalu banyak masalah untuk adegan ini karena para pemain memang sudah terbiasa berproduksi dengan kami.

Produksi pun dimulai pada sekitar bulan Agustus 2016. Masalah banyak muncul untuk adegan eksterior karena kami harus menunggu kabut untuk mengambil gambarnya. Satu contoh adegan di pemakaman umum di pucuk bukit, kami harus bersegera mengambil adegannya karena setiap saat kabut bisa berlalu. Pernah dalam tiga hari, nyaris kami tidak mengambil shot apa pun karena situasi yang cerah dan terang benderang. Sebaliknya, ada beberapa adegan yang justru kabutnya sangat tebal hingga jarak 3 meter pun sudah tak terlihat. Di Dusun Genikan kabut bisa berjalan sangat cepat dan situasi sama sekali tidak bisa diprediksi.

Baca Juga  Justice League dan DCEU, Apa yang Salah?

Bicara gaya, kami memang sudah memantapkan konsep visual dengan menggunakan gaya sinematik sineas legendaris Jepang, Akira Kurosawa. Kami anggap gaya sang sineas ini cocok dengan tuntutan estetik kisahnya. Gaya sang sineas ini juga pernah kami gunakan dalam film Umbul. Mengapa hitam putih? Kami memang pecinta film klasik dan film-film terbaik Kurosawa pun masih diproduksi hitam putih. Selain itu, teknik hitam putih juga memudahkan produksi dari sisi sinematografi karena dengan bujetnya, tak mungkin kami menggunakan tata cahaya yang mapan. Alasan naratif tentu adalah karena filmnya adalah kilas balik ber-setting cerita berdekade silam.

Setelah selesai produksi, tahap produksi pun bukan tanpa masalah. Musik menjadi salah satu kunci keberhasilan filmnya dan selama tahunan, kami kesulitan mencari pembuat musik yang sesuai dengan selera kami. Editing film menyisakan masalah dari sisi efek visual, seperti bola api terbang, yang memang ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Hingga pada akhir tahun lalu, kami mendapat dukungan dana dari seorang rekan produser yang suka dengan film panjang kami ini (nama yang bersangkutan, kami tidak bisa tuliskan di sini). Kami kenal beliau sudah sejak film pendek kami, 05:55 (2014) menang di satu festival film di New York. Beliau pun pernah mengunjungi basecamp kami. Dengan suntikan dana yang tak seberapa, kami pun bisa menyelesaikan musik dan bahkan menambahkan beberapa adegan baru yang memperkuat filmnya. Film Pagebluk pun akhirnya selesai.

Film panjang yang kami buat ini, memang tidak mungkin semapan film-film yang biasa tayang di bioskop karena bujet yang memang minim sekali. Namun, setidaknya kami mencoba untuk membuatnya semaksimal mungkin agar terlihat jauh melebihi bujetnya. Dengan bermodal passion semata, kami ingin memproduksi film yang berbeda dari film-film kita kebanyakan. Hasilnya, kita lihat saja besok. Niat awalnya, film ini akan kami screening publik di beberapa tempat untuk melakukan test audience. Semoga kami bisa mendapatkan dana cukup untuk melakukan screening di bioskop. Film ini rencananya akan kirim ke beberapa festival film internasional sejak awal tahun ini, namun situasi pendemi korona yang semakin memburuk, rasanya tak memungkinkan lagi sembari melihat situasi ke depan. Kenalan kami, yang juga produser asal Inggris, sangat terkesan dengan filmnya. Beliau sudah membawa draft film kami ke negara asalnya, semoga bisa membawa hasil positif.

Trailer film pertama yang kami rilis 5 bulan lalu dalam berjalannya waktu semakin populer, terlebih karena kemiripan dengan kasus virus korona terkini. Malam ini, kami merilis trailer keduanya yang lebih bernuansa horor. Semoga film yang kami produksi lebih dari 4 tahun ini bisa memberi sumbangan bagi perfilman nasional kita. Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada banyak pihak yang mendukung film Pagebluk.

TRAILER #1

TRAILER #2

 

2 TANGGAPAN

  1. Bagaimana bisa menyaksikan film ini? Tentunya saya sangat penasaran menonton film besutan Montase Production.

    • Jika situasi memang sudah memungkinkan, kami rencananya akan menggelar screening. Tunggu saja kabar dari kami dan ikuti perkembangannya di IG kami.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.