Familiar dengan komik Siksa Neraka karya M.B. Rahimsyah berikut ragam siksaan nerakanya? Kepopuleran komik yang menakuti para pembaca pada sekitar tahun 70-90-an tersebut kini menjadi sebuah film berjudul sama arahan Anggy Umbara. Dengan Lele Laila sebagai penulisnya. Melalui produksi Dee Company dengan Umbara Brothers, film horor ini diperankan antara lain oleh Safira Sofya, Rizky Fachrel, Kiesha Alvaro, Nayla Purnama, Ariyo Wahab, Astri Nurdin, dan Slamet Rahardjo. Mengingat keseraman semata merupakan nilai jual dari komiknya, lantas bagaimana dengan film ini?

Ustaz Syakir (Ariyo) merupakan tokoh terpandang di desa yang sering dimintai tolong untuk merukyah dan rutin mengajari anak-anak mengaji di masjid. Oleh karena itu, ia pun ketat dalam mendidik keempat anaknya, Saleh (Fachrel), Fajar (Alvaro), Tyas (Sofya), dan Azizah (Nayla) mengenai ilmu agama sejak mereka kecil dengan tujuan agar tak masuk neraka. Namun, sejak salah seorang anggota keluarga Pak Harjo (Slamet Rahardjo) meninggal, Tyas mulai dihantui penampakan dan suara-suara aneh hingga mereka berusia remaja. Sampai suatu ketika, sebuah tragedi memperlihatkan kesalahan-kesalahan mereka.

Siksa Neraka dibuat dengan tendensi semata mengutamakan sajian adegan-adegan nerakanya. Sebagaimana semua bagian adegan ini dalam komik, dengan set penggambaran neraka berikut api di sana-sini, lava, magma, dan beragam siksaan yang ada. Tak ayal bila kemudian aspek-aspek lain dalam film ini terkena imbasnya, baik perkara durasi, cakupan latar tempat, maupun pemilihan para pemeran yang menjadi sekadarnya. Kendati demikian, visual neraka tersebut pun tidaklah semasif bayangan, karena sebagian besar ialah tentang penyiksaan terhadap orang-orang dengan alat-alat tertentu.

Bicara perkara akting, hanyalah Astri yang cukup bisa membawakan karakternya dengan baik sebagai ibu dari Saleh dan ketiga adiknya. Sementara itu, Ariyo memang dapat menampilkan perannya sebagai sosok bapak yang tegas dan keras, tetapi tidak untuk menunjukkan kesedihan dan perasaan terpukul. Di samping Slamet Rahardjo yang seperti biasa, sebagai seorang tua bijak sumber segala saran dan nasihat. Sisanya adalah remaja pendatang baru yang tentu masih perlu banyak belajar berolah peran lagi.

Baca Juga  Past Lives

Sisi horor Siksa Neraka di luar adegan-adegan neraka bukanlah suguhan baru dalam perfilman horor tanah air, baik berupa penampakan maupun suara-suara anehnya. Malahan terdapat sejumlah kejanggalan terkait kesinambungan cerita dan kurangnya adegan. Misalnya, adegan pembuka yang berujung penampakan untuk Tyas ternyata tak terhubung lagi seiring ia dan ketiga saudaranya beranjak remaja hingga mengalami suatu tragedi. Sebatas sekali muncul sekadar untuk memantik “penglihatan” Tyas. Sementara sosoknya bukanlah orang asing bagi mereka. Mirip scene pembuka Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul (2023) yang kemudian tak punya peran vital hingga film usai.

Pun demikian rangkaian peristiwa kepergian anak-anak ustaz Syakir malam-malam menjelang hujan yang terlalu dibuat tergesa-gesa. Sesegera mungkin agar lekas memasuki scene neraka, hingga abai pada beberapa detail kecil terkait logika cerita.

Siksa Neraka memang semata bermaksud memberikan gambaran beberapa contoh siksaan di neraka sebagaimana komiknya. Sejumlah anjuran kebaikan, pesan-pesan, dan ayat terselip di antaranya. Sedikit pengembangan cerita agar tak dianggap sebatas meneror dengan kengerian belaka, tetapi tak banyak membantu. Toh penceritaannya berfungsi untuk menunjukkan dosa-dosa di dunia agar terhubung dengan setiap balasannya di neraka yang dimunculkan dalam Siksa Neraka. Lagi-lagi pula, Lele Laila mengalami penurunan kualitas penulisan sejak ia turut mengerjakan skenario Asih 2 (2020). Sejak itu, selalu saja ada celah dalam logika ceritanya.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Boy and the Heron
Artikel BerikutnyaAquaman and the Lost Kingdom
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.