Penikmat film sejati tak mungkin tidak mengenal sineas laga legendaris, John Woo. Kini ia mencoba comeback ke Hollywood setelah dua dekade absen. Tercatat karya terakhirnya adalah film aksi fiksi-ilmiah Paycheck (2003) yang dibintangi Ben Affleck. Kini ia mengarahkan serta memproduksi Silent Night yang dibintangi Joel Kinnaman, Scott Mescudi, Harold Torres, dan Catalina Sandino Moreno. Apakah film laga ini setidaknya masih memiliki sentuhan emas sang sineas setelah sekian lama absen?

Pada hari Natal, Brian (Kinnaman) bersama istri dan putranya bermain di halaman depan rumahnya. Mendadak dua mobil milik gangster terlibat dalam satu aksi tembak menembak dan peluru menyasar sang putra hingga tewas. Brian mencoba mengejar sang pelaku, namun ia justru tertembak hingga mengorbankan pita suaranya. Trauma berat melanda Brian, hingga ia akhirnya memutuskan untuk membalaskan dendam kematian putranya. Brian pun memulihkan fisiknya serta berlatih bela diri dan senjata api untuk melawan satu gembong kriminal terbesar di kotanya.

Satu hal yang unik tercatat adalah minimnya penggunaan dialog dalam film ini. Bahkan sosok protagonis pun sama sekali tidak pernah berdialog (di segmen kilas-balik). Belum lama, film horor sci-fi rilisan Disney +, No One Will Save You juga menggunakan pendekatan senada. Bisa jadi, John Woo kini menyadari betul titik lemahnya sehingga apa yang menjadi penekanan sekarang adalah murni aksi. Tak butuh banyak berpikir, plotnya berjalan cepat dengan dominasi teknik montage dalam prosesnya. Tak banyak plot investigasi serta drama lainnya, plotnya benar-benar meringkas hingga to the point, yakni aksi semata.

Aksi-aksinya pun terhitung lumayan. Aksi kejar-mengejar mobil di jalanan kota disajikan demikian brutal dengan kombinasi aksi tembak menembak sengit yang mengesankan. Namun jangan harap mencari aksi absurd ala Chow Yun Fat yang menjadi trademark sang sineas di era emasnya, seperti aksi jungkir balik dan “terbang” sambil menembak dengan teknik slow motion-nya. Aksinya kini sedikit lebih membumi dan tak lagi hingar bingar seperti dulu, namun sentuhan sang sineas masih tampak di sana-sini.

Baca Juga  The Tourist

Silent Nigth adalah usaha comeback John Woo yang masih menyajikan aksi edan tembak-menembak walau tak lagi seenergik film-film masa emasnya. Hard Boiled, A Better Tomorrow, hingga The Killer adalah beberapa film terbaiknya yang sulit disaingi bahkan film-film produksi Hollywood-nya (Hard Target, Face Off, Broken Arrow, Mission: Impossible 3). Setidaknya Silent Night cukup untuk melepas rindu karya-karya terbaik sang sineas di masa lalu. Untuk urusan aksi jarak dekat memang tidak ada sineas yang mampu melakukannya dengan absurd selain John Woo. Tidak percaya, simak saja trailer Hard Boiled di bawah.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaRebel Moon
Artikel BerikutnyaWhat If…? S02
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.