Silver Linings Playbook (2012)
122 min|Comedy, Drama, Romance|25 Dec 2012
7.7Rating: 7.7 / 10 from 740,833 usersMetascore: 81
After a stint in a mental institution, former teacher Pat Solitano moves back in with his parents and tries to reconcile with his ex-wife. Things get more challenging when Pat meets Tiffany, a mysterious girl with problems of her ...

Delapan bulan di RSJ adalah harga yang harus dibayar Pat (Bradley Cooper) untuk kesalahan yang ia lakukannya, yakni memukuli kekasih gelap Istrinya, Nikki (Brea Bee) hingga nyaris tewas. Pat telah melupakan masa lalunya, kini dia menjaga kebugarannya dengan berolah raga, bersikap baik, serta berusaha untuk selalu berfikir positif. Sebuah usaha berat bagi laki-laki pengidap bipolar (gangguan kejiwaan) seperti Pat. Dengan mengusung moto “excelsior”, Pat mencoba menatap hidupnya lebih optimis. Tujuan utamanya adalah memperbaiki hubungannya dengan Nikki. Meskipun kita tahu itu adalah sebuah misi yang hampir mustahil untuk terwujud.

Lain halnya dengan Tiffani (Jennifer Lawrence) seorang perempuan yang baru saja menjanda. Tiffani tergambarkan sebagai sosok perempuan depresi, dengan status sosial yang buruk serta cenderung kasar dalam bersikap. Tiffany sendiri juga pernah menjalani rehabilitasi seperti halnya Pat, dan itulah yang membuatnya bisa memahami Pat. Pat dan Tiffani secara tak sengaja bertemu di rumah kakak Tiffany, Veronica (Julia Stiles). Kebetulan pula Tiffani dan Veronica adalah teman dekat Nikki. Kedekatan mereka berlanjut ketika Pat berlatih dansa bersama Tiffani untuk mengikuti sebuah lomba dengan kompensasi Tiffani akan memberikan surat Pat kepada Nikki.

Baca Juga  Die Hard 2 - 5

Silver Linings Playbook adalah sebuah drama komedi yang menarik. Dengan skenario brilian yang didukung akting menawan dari para pemainya seperti Bradley Cooper, Robert de Niro, Jacky weaver, Chris tucker dan tentu saja Jennifer Lawrence. Lawrence sukses menyabet best actress dalam ajang Academy Award yang baru saja usai digelar. David O’ Russell berhasil menulis sebuah kisah yang brilian dengan tema yang unik serta dialog-dialog yang cerdas plus ending cerita yang manis. Aspek-aspek ini menjadi kekuatan utama film ini.

It’s all about act! Seluruh pemain berakting sangat baik di film ini, Robet de Niro, Jacky Weaver hingga Chris Tucker berakting dengan baik, tapi Bradley Cooper dan Jennifer Lawrance lah yang menjadi bintangnya. Karakter orang depresi, traumatik dengan gangguan mental sangat baik diperankan oleh keduanya. Pat selalu berkata bahwa dia berbeda dengan Tiffani, tapi jsutru kita bisa merasakan bahwa mereka sesungguhnya saling mengerti satu sama lain. Jennifer dan Bradley berhasil menciptakan chemistri yang kuat diantara keduanya. Sangat menyenangkan melihat perdebatan “gila” antara Pat dan Tifany Seperti pada adegan di rumah Veronica hingga di cafe “Raisin Bran”.

Excelsior berarti selalu bersikap positif, menjadikan hal-hal buruk yang terjadi pada kita sebagai penyemangat, tapi apakah itu mudah? Sangat tidak mudah, terlebih untuk Pat dan juga Tiffany. Yang dibutuhkan Pat adalah dukungan dari orang-orang disekitarnya, kepercayaan, dan tentunya seseorang yang mampu memahaminya. ”All people ever down, but they will be through. Everything gonna be ok. Yeah, that the silver lining”.

Artikel SebelumnyaZero Dark Thirty
Artikel BerikutnyaArgo, Sebuah Dramatisasi Aksi Pelarian yang Menegangkan
Febrian Andhika lahir di Nganjuk, 18 Februari 1987. Ia mulai serius mendalam film sejak kuliah di Akademi Film di Yogyakarta. Sejak tahun 2008, ia bergabung bersama Komunitas Film Montase, dan aktif menulis ulasan film untuk Buletin Montase hingga kini montasefilm.com. Ia terlibat dalam semua produksi awal film-film pendek Montase Productions, seperti Grabag, Labirin, 05:55, Superboy, hingga Journey to the Darkness. Superboy (2014) adalah film debut sutradaranya bersama Montase Productions yang meraih naskah dan tata suara terbaik di Ajang Festival Film Indie Yogyakarta 2014, dan menjadi runner up di ajang Festival Video Edukasi 2014. Sejak tahun 2013 bekerja di stasiun TV swasta MNC TV, dan tahun 2015 menjadi editor di stasiun TV Swasta, Metro TV. Di sela kesibukan pekerjaannya, ia menyempatkan untuk menggarap, The Letter (2016), yang merupakan film keduanya bersama Montase Productions. Film ini menjadi finalis dalam ajang Festival Sinema Australia Indonesia 2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.