Aksi minion yang kocak dan lincah dapat kita nikmati sejak kehadiran film Despicable Me (2010). Kesuksesan film ini kemudian diikuti dengan Despicable Me 2 (2013) yang sukses besar secara komersil. Karakter minion yang menjadi maskot pun mencuri perhatian penonton hingga akhirnya diproduksi filmnya secara terpisah melalui spin off-nya, Minions (2015). Dibalik kesuksesan film-film ini, Pierre Coffin lah yang memberikan sentuhan kejeniusannya. Ia bekerjasama dengan Chris Renaud untuk menyutradarai Despicable Me 1 & 2. Kemudian ia menggandeng Kyle Balda untuk menggarap Minions.

Selain sebagai sutradara, Coffin juga berperan sebagai pengisi suara dari para minion. Dengan jenaka ia ucapkan bahasa minion yang unik dan lucu. Jika penonton memperhatikan kata-kata yang diucapkan dalam Minions, maka akan terdengar kata “terimakasih” dan “masalah”. Ya, diantara bahasa-bahasa yang digunakan oleh minion, bahasa Indonesia ternyata memiliki arti tersendiri bagi Coffin. Coffin cukup mengenal budaya dan bahasa Indonesia dari ibunya, NH Dini, penulis kondang Indonesia yang berkarir selama kurang lebih 60 tahun. Coffin lahir dan besar di Prancis dan tinggal bersama Yves Coffin setelah orangtuanya berpisah.

Coffin mengasah kemampuannya ketika bersekolah di sekolah animasi Gobelin di Paris. Disana ia menggarap film We’re Back A Dinosaur Story (1993), yang disutradarai oleh Steven Spielberg. Kemudian ia menyutradarai film animasi pendek berjudul Pings (1997). Kemudian pada tahun berikutnya ia menciptakan karakter dua hewanya itu Pat si kuda nil dan Stan anjing untuk tayangan acara anak-anak di jaringan TV Perancis, TF1. Video klip Pat dan Stan bernyanyi “The Lion Sleeps Tonight” menjadi sangat terkenal karena begitu sering tayang di media sebagai iklan cokelat Fererro’s Kinder. Dikabarkan, Coffin akan menggarap film animasi Flanimals yang diangkat dari buku cerita anak-anak karangan Ricky Gervais.

Baca Juga  TOP 30 INDONESIAN MOVIES ALL-TIME BOX OFFICE
Video Pat & Stan

SUMBERwikipedia
Artikel SebelumnyaThe Kingdom of Dreams & Madness
Artikel BerikutnyaKevin, Stuart, dan Bob Sukses Besar di Indonesia dan Australia
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.