Skyfall (2012)
143 min|Action, Adventure, Thriller|09 Nov 2012
7.8Rating: 7.8 / 10 from 764,166 usersMetascore: 81
James Bond's loyalty to M is tested when her past comes back to haunt her. When MI6 comes under attack, 007 must track down and destroy the threat, no matter how personal the cost.

Skyfall adalah film ketiga Bond yang dibintangi Daniel Craig. Film ini adalah tercatat film ke-23 Bond produksi EON Productions dan persis 50 tahun setelah film Bond pertama, Dr. No (1962). Tidak seperti Casino Royale dan Quantum of Solace yang kisahnya saling berhubungan, Skyfall terpisah dengan kisah sebelumnya. Bond (Craig) kini harus menghadapi kelompok misterius yang ingin menghancurkan MI6 dan M (Dench), khususnya. Sejalan penyelidikan yang dilakukan Bond mengarah kepada seseorang bernama Raoul Silva (Bardem). M sendiri di lain pihak mesti berhadapan dengan atasannya yang ingin menutup biro MI6. Selebihnya, not much to tell, karena akan merusak kenikmatan Anda menonton (spoiler).

Kisahnya yang independen sungguh diluar dugaan dimana kontinuitas cerita terputus dengan dua kisah film sebelumnya. Film ini kembali mengikuti tradisi plot film-film Bond terdahulu. Namun sepanjang sejarah film James Bond, kisahnya kali ini adalah yang paling “suram & gelap”. Kisahnya lebih personal dan unsur drama lebih dominan ketimbang aksinya, hal yang tidak pernah terjadi dalam film-film Bond sebelumnya. Satu jam durasi cerita berjalan dengan tempo lambat, tanpa konflik yang berarti bahkan tanpa arah cerita yang jelas, semua masih serba gelap. Namun setelah karakter Silva muncul, tempo cerita mulai berubah drastis. Sekuen di London penuh dengan kejutan dan aksi menegangkan lalu sekuen akhir di Skotlandia penuh dengan aksi dan adegan klimaks yang dramatik. Adegan akhir filmnya menjadi penutup sempurna bagi perayaan franchise James Bond yang genap berusia 50 tahun.

Adegan aksinya minim efek visual dan tidak bombastis seperti dua film sebelumnya, kecuali untuk sekuen pembuka. Aksi memang kini bukan penekanan filmnya. Filmnya yang benuansa “gelap” secara literal juga tampak dalam banyak adegan aksinya yang berlangsung di malam hari atau di tempat gelap (subway atau lorong bawah tanah). Setting pun seperti biasa kebanyakan film-film Bond selalu berpindah negara ke lokasi-lokasi eksotis seperti Turki, Shanghai, Macau, hingga Skotlandia. Properti lawas, yakni mobil Aston Martin DB5 yang digunakan dalam Goldfinger kali ini juga beraksi kembali. Satu lagi aspek teknis yang sudah menjadi tradisi dalam film-film Bond, adalah lagu dan musik temanya. Lagu “Skyfall” yang dibawakan penyanyi Inggris, Adele mengiringi sempurna opening title sequence yang bernuansa “kematian” (gelap).

Baca Juga  The Mauritanian

Satu aspek yang mendukung kisahnya yang dramatik jelas tidak luput dari penampilan menawan para pemainnya. Craig sejak Casino Royale memang telah memiliki “jiwa” Bond dalam dirinya dan kini semakin matang menjiwai perannya. Dench seperti biasa bermain sempurna sebagai M namun kini sosok keibuannya lebih tampak ketimbang sebelumnya. Sementara Fiennes dan Harris bermain biasa namun yang menjadi fokus perhatian adalah Javier Bardem. Bardem bermain brilyan sebagai Silva seorang psikopat jenius dengan amarah dan dendam personalnya. Bardem mampu membuat karakter Silva pada awalnya begitu diremehkan namun disegani, ditakuti, bahkan mendapat simpati sejalan kita mengenal lebih jauh karakter ini. Bardem adalah salah satu kekuatan film ini yang banyak mengingatkan pada karakter Joker (mendiang Heath Ledger). Hal yang mengejutkan pula dalam film kali ini Bond tanpa didampingi Bond’s girl.

Skyfall bisa jadi mengecewakan para penonton yang menuntut aksi seru seperti sebelumnya, namun tentunya tidak bagi para penggemar setianya. Sam Mendes memilih pendekatan yang jauh berbeda dengan lebih menonjolkan sisi manusiawi karakter-karakternya. Kisah yang dramatik, aksi seru, kejutan, unsur humor, nostalgia film-film Bond masa lalu, musik tema, dan tentu saja penampilan sempurna pada pemainnya menjadikan Skyfall adalah salah satu film Bond terbaik. Nuansa Christopher Nolan (trilogi The Dark Knigth) tidak dipungkiri memang begitu terasa dalam plotnya. Reebot James Bond yang dilakukan melalui “dwilogi”, Casino Royale dan Quantum of Solace seolah di-reebot kembali oleh Skyfall dengan lebih fresh. Jika Nolan memiliki Batman Beginsmaka Bond memiliki Skyfall aka “James Bond Begins”.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaFrankenweenie
Artikel BerikutnyaWreck-It Ralph
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses