Smallfoot (2018)
96 min|Animation, Adventure, Comedy|28 Sep 2018
6.6Rating: 6.6 / 10 from 43,113 usersMetascore: 60
High up on a mountain peak surrounded by clouds, a secret Yeti society lives in peace and harmony. One day, a Yeti witnesses an airplane crash; Inside lies "Smallfoot", a legendary creature that will rock the society to its core.

Smallfoot adalah film animasi musikal produksi Warner Animation Group (Warner Bros) arahan Karey Kirkpatrick yang diadaptasi dari buku berjudul Yeti Tracks karya Sergio Pablo. Film ini diisi suara oleh beberapa bintang ternama, seperti Channing Tatum, James Corden, Zendaya, serta LeBron James. Walau dominasi film animasi buatan Pixar dan Disney hingga kini masih terlalu kuat, WB kini mencoba sesuatu yang berbeda dengan mengangkat isu yang bisa dibilang sensitif.

Alkisah, Migo adalah seekor yeti yang hidup bersama kaumnya pada puncak pegunungan tinggi di atas awan. Mereka memiliki tradisi kuat yang percaya bahwa aturan-aturan yang tertulis dalam batu kuno akan membawa mereka ke kedamaian, sebaliknya jika dilanggar, diyakini musibah akan menimpa mereka. Suatu ketika, Migo menyaksikan sebuah pesawat yang mendarat darurat di dekat desanya dan ia pun melihat manusia atau “smallfoot”, yang menurut batu kuno tak lagi eksis. Kaumnya, tak percaya dengan omongan Migo dan penjaga batu kuno pun menghukumnya untuk sementara tak boleh masuk ke dalam desa. Migo, akhirnya memutuskan untuk mencari manusia ke bawah gunung jauh di bawah sana untuk membuktikan semua omongannya.

Di awal, tak banyak kejutan, baik secara visual maupun kisahnya. Segmen musikalnya pun, tak menggigit layaknya film-film animasi Disney walaupun juga tak bisa dibilang buruk. Ekspektasi sejak awal memang tak seperti film-film Pixar/Disney yang lazimnya disajikan meyakinkan sejak awal. Di segmen pembuka ini, konsep tradisi dan mitos yang melekat dalam segala aspek kehidupan para yeti ditekankan begitu kuat. Segala halnya tampak bodoh memang. Misal saja, mereka percaya bahwa gong suci harus dibunyikan agar “cahaya siput raksasa” (matahari) bisa muncul, seperti yang dilakukan keluarga Migo secara turun temurun. Intinya, mereka harus melakukan segala hal dan mentaati apa saja yang tertulis dalam batu-batu kuno tersebut.

Baca Juga  Ipar Adalah Maut

Dalam perkembangan, sesuatu yang besar terjadi. Segalanya berubah setelah Migo berhasil membawa manusia ke desanya. Warga pun mulai tak percaya dengan apa yang tertulis dalam batu-batu kuno. Melihat gelagat buruk ini, sang penjaga batu akhirnya membawa Migo ke sebuah ruang rahasia jauh di dalam gunung yang memberikan sebuah penjelasan tentang asal-usul kaum yeti. Konsep cerita menjadi gamblang setelah ini dan kita tahu persis jika film ini sebenarnya bicara apa dan akan mengarah ke mana. Sebuah kebohongan besar yang membawa mereka pada kedamaian semu. Isu yang tentunya sangat sensitif untuk dibicarakan di sini.

Di luar pencapaian tema dan isunya yang sangat kuat, film ini sendiri memliki beberapa kelebihan secara estetik. Secara visual, jelas film ini masih di bawah kualitas film-film buatan Disney atau Pixar. Segmen musikalnya pun demikian, seolah ada yang sesuatu yang hilang dan tak memiliki energi yang sama dengan film-film animasi musikal Disney. Hanya saja, satu segmen musikal benuansa rap berjudul “Let It Lie” disajikan dengan amat elegan dan istimewa. Bagi saya pribadi, ini adalah salah satu segmen musikal (animasi) yang terbaik yang pernah ada. Satu lagi yang unik adalah penggunaan bahasa dialog antara yeti dan manusia, yang disajikan melalui perspektifnya masing-masing. Sama-sama menggunakan bahasa Inggris, namun kita tahu keduanya tidak memahami bahasa mereka satu sama lain. Ini yang memberikan kelucuan tersendiri.

Menghibur, cerdas, dan brilian, Smallfoot secara mengejutkan memiliki keberanian dan kedalaman tema yang istimewa dengan pesan universal tentang umat manusia yang amat langka dicapai dalam medium film. Isunya memang sangat sensitif dan ini yang membuatnya berbeda dengan film animasi mana pun yang pernah diproduksi. Film ini juga bisa dinilai buruk dari sisi perpektif yang berbeda. Sejak silam, umat manusia sering kali menganggap satu sama lain sebagai “monster” yang menakutkan. Mau sampai kapan ini berlanjut? Film ini menawarkan solusi kedamaian melalui hal sepele yang bisa kita lakukan, namun rasanya mustahil untuk bisa kita lakukan. Piala Oscar untuk film animasi? Dari sisi kekuatan tema dan isu cerita, Smallfoot adalah salah satu film animasi terbaik yang pernah diproduksi, namun tidak untuk aspek visualnya.

WATCH TRAILER

 

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaKetika Lubang Plot Membunuh Venom
Artikel BerikutnyaFirst Man
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.