Rasanya belum ada kisah film yang mengeksplorasi tentang penyelundupan di laut dan para penyelamnya yang didominasi sosok perempuan. Smugglers merupakan film aksi kriminal/gangster produksi Korea Selatan arahan Ryoo Seung-wan yang menggarap dua film sukses, Crying Fist dan The Battleship Island. Film ini dibintangi para pemain populer, antara lain Kim Hye-soo, Yum Jung-ah, Zo In-sung, Park Jeong-min, Kim Jong-soo, dan Go Min-si. Film berdurasi 129 menit ini kabarnya mendominasi raihan box-office di negaranya pada minggu lalu. Akankah film ini menampilkan sesuatu yang baru untuk genrenya?

Pada era 1970-an dikisahkan kejayaan para nelayan melalui tim penyelam wanitanya (haenyeo) di kota kecil Guncheon mulai memudar. Penyebab utama adalah limbah pabrik yang menyebabkan air laut terkontaminasi zat kimia sehingga mengurangi populasi biota laut. Untuk mencukupi tuntutan harian, akhirnya mereka berakhir profesi menjadi penyelundup. Jin-suk (Jung-ah), Chun-ja (Hye-soo) bersama tim selamnya memiliki tugas sederhana, secara rutin mengambil barang-barang selundupan yang dijatuhkan di laut dan membawanya ke permukaan. Hidup mereka pun makmur, sekalipun sang ayah (pemilik kapal) bentrok dengan batinnya karena aksi ilegal mereka.

Dalam satu pekerjaan besar, malapetaka pun terjadi. Polisi bea cukai menangkap mereka. Jin-suk dan timnya masuk penjara sementara Chun-ja berhasil meloloskan diri. Rekan-rekannya menduga Chun-ja yang mengadukan aksi ilegal mereka pada pihak berwenang. Tiga tahun berselang, Chun-ja kembali ke Guncheon dengan menawarkan pekerjaan penyelundupan kelas kakap yang tak bisa ditampik oleh rekan-rekan lamanya.

Untuk plotnya, tema kriminal semacam ini memang sudah jamak bagi film-film produksi lokalnya. Kisahnya selalu tak jauh dari aksi ilegal, petugas korup, rivalitas gangster, balas dendam, hingga aksi-aksi brutalnya. Smugglers memiliki pembeda tegas melalui latar waktu cerita, lokasi eksotik di lautan, serta tentu saja para perempuan tangguh. Sosok perempuan dalam cerita ini digambarkan begitu dominan dengan empati penuh kita melalui ketangguhan mental dan derita problem sosial mereka. Sementara dominasi kaum lelaki digambarkan sebagai sosok serakah dan manipulatif. Entah kebetulan atau tidak, momen rilisnya bertepatan dengan Barbie yang mengusung tema senada. Smugglers memiliki poin plus melalui kisahnya yang lebih membumi.

Baca Juga  Tully

Pengadeganan aksi bawah laut menjadi kekuatan terbesar filmnya. Sang sineas mampu membuatnya seolah terlihat mudah. Jelas butuh usaha besar dan waktu lama untuk memproduksinya, khususnya sekuen klimaks, aksi pertarungan bawah air yang sangat mengagumkan. Pergerakan para pemain serta posisi/gerak kamera mampu dipadukan sedemikian rupa sehingga menyajikan aksi-aksi demikian atraktif dan efektif layaknya di darat. Semua kastingnya pun bermain sempurna, khususnya yang mencuri perhatian adalah penampilan impresif sang bintang senior, Kim Hye-so. Dua montage berkelas disajikan dalam sekuen awal, termasuk pula penggunaan musik dan “oldies” lokal yang memberikan sentuhan era 1970-an sepanjang filmnya.

Smugglers menawarkan tipikal plot gangster Korea Selatan, berlatar cerita penyelundupan di laut melalui naskah solid, menghibur, serta sekuen bawah air yang memesona. Satu tawaran terbesar di luar aksi bawah lautnya adalah tema pemberdayaan perempuan. Walau aksinya jauh dari teladan (perbuatan di luar hukum), setidaknya ketangguhan dan kemandirian mereka dalam bertindak untuk kepentingan bersama menjadi penegas tren perempuan dalam beberapa tahun terakhir ini. Smugglers lagi-lagi membuktikan bahwa industri film Korea Selatan mampu memproduksi film berkualitas tinggi yang secara teknis selevel dengan film-film besar dari negeri seberang. Sayang, jika saja, kisahnya lebih terfokus ke sisi drama, bukan tak mungkin film ini mampu mengulang sukses Parasite.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
80 %
Artikel SebelumnyaRevenant
Artikel BerikutnyaMeg 2: The Trench
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.