Snow White and the Huntsman (2012)
127 min|Action, Adventure, Fantasy|01 Jun 2012
6.1Rating: 6.1 / 10 from 303,143 usersMetascore: 57
In a twist to the fairy tale, the Huntsman ordered to take Snow White into the woods to be killed winds up becoming her protector and mentor in a quest to vanquish the Evil Queen.

Mirror mirror on the wall, who is the fairest of all?” Jawabnya jelas bukan film ini.  Mirror Mirror yang beberapa minggu lalu rilis juga diadaptasi lepas dari kisah klasik Snow White. Kedua film ini sama-sama mencoba lepas dari kisah aslinya. Wajar saja karena kisah dongeng ini sudah terlalu sering diadaptasi berbagai medium. Mirror Mirror menggunakan pendekatan estetik melalui mise en scene yang sangat mengagumkan sementara kisahnya ringan serta kental dengan nuansa komedi.  Snow White and the Huntsman mencoba menggunakan pendekatan cerita lebih gelap dengan kisah yang lebih serius melalui setting era medieval. Tidak seperti di Mirror Mirror, sang ratu digambarkan sebagai sosok yang jahat, kejam, dan sadis.

Tidak ada yang salah dengan kisah filmnya, namun setting yang tidak menarik (nyaris selalu mendung, hutan, dan rawa) plus tempo cerita yang lambat membuat filmnya menjadi membosankan. Selain Theron yang bermain mengesankan sebagai sang ratu iblis, baik Stewart dan Hemsworth tak banyak menolong filmnya. Stewart bermain sebagai Snow White tidak banyak beda dengan karakter Bella Swan di seri Twilight. Sementara Hemsworth lebih menarik beraksi ketimbang berdialog. Selain sang ratu tidak ada satu karakter pun yang mampu mencuri perhatian termasuk para kurcaci.

Baca Juga  Willy's Wonderland

Kisah dan tone filmnya mirip dengan Alice in the Wonderland milik Burton yang diakhiri dengan sekuen pertempuran klimaks a la Ridley Scott. Pertempuran klimaksnya sama sekali tidak ada greget, hal yang mestinya dihindari untuk kisah yang endingnya sudah bisa ditebak hasilnya. Selain karakter sang ratu, hal menarik yang adalah pencapaian efek visual (CGI). Visualisasi cermin ajaib dijamin akan membuat terkejut penonton karena berbeda konsep dengan sebelumnya. Nyaris semua pencapaian CGI-nya sangat mengagumkan dan amat natural, menyatu dengan setting dan atmosfirnya filmnya yang gelap.

Tidak seperti Mirror Mirror, secara umum Snow White and the Huntsman bukan film yang menghibur, khususnya penonton anak-anak. Sosok Kristen Stewart yang sukses fenomenal di seri Twiligth sepertinya adalah satu-satunya magnet kuat filmnya jika film ini sukses. Sebenarnya amat disayangkan, film ini mestinya bisa digarap lebih serius lagi terutama dari sisi naskah sehingga mampu menghasilkan kisah yang lebih dalam. Toh, kisah adaptasinya lepas serta atmosfir dan mood filmnya memang bisa mengarah kesana. Jika dibandingkan dengan Mirror Mirror yang imajinatif, Snow White and the Huntsman tidak lebih baik.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMen in Black 3
Artikel BerikutnyaMadagascar 3
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.